
Sesuai kesepakatan yang Rido dan Nita lakukan dan tanpa sepengetahuan siapapun pada waktu beberapa hari yang lalu, kini tiba saatnya keduanya melangsungkan pernikahan di sebuah gedung terbesar di kota Jakarta.
Wajah kedua orang tua tunggal Rido dan juga Nita, yaitu Ny Helena dan Mr. James tampak amat bahagia. Keduanya mendampingi anak mereka masing-masing.
Ny Helena mendampingi Rido sebagai mempelai pengantin pria, sedangkan Mr. James mendampingi Nita sebagai mempelai pengantin wanita.
Memang benar, ini sangat mendadak untuk Rido. Tapi sebenernya semua rencana tersebut sudah Ny Helena dan Mr. James susun jauh-jauh hari tanpa sepengetahuan Rido, begitu menurut pengakuan Ny Helena saat Rido kemarin-kemarin hendak menolak pernikahannya yang terkesan dipercepat.
Pernikahan yang mereka gelar lumayan menyita perhatian publik, terutama untuk para kolega bisnis Ny Helena dan Mr. James. Pasalnya pernikahan mereka adalah pernikahan tak biasa.
Jarang sekali terjadi pernikahan yang dialami oleh Rido yaitu menikah secara terang-terangan di depan publik padahal Rido masih memiliki seorang istri tetapi pernikahan tersebut malah di gelar secara besar-besaran dengan tamu undangan yang tidak bisa dihitung jumlahnya.
Mereka berasumsi kedua perusahaan milik Ny Helena dan Mr. James akan menjadi perusahaan raksasa nomor 1 di Jakarta kelak dengan terjadinya pernikahan anak mereka.
Meskipun demikian ada beberapa komentar miring yang menganggap bahwa mereka terkesan memaksakan diri padahal Rido sudah memiliki istri. Hingga akhirnya pikiran mereka sampai pada Zumi, mereka memikirkan bagaimana perasaan Zumi.
Tak peduli apa yang terjadi, para tamu undangan sudah memakluminya. Dengan adanya pesta pernikahan mewah, itu wajar saja.
Memang apa mau dikata, keduanya memiliki nama besar di dunia bisnis maka hal itu sudah bisa ditebak dari awal bahwasanya jika diadakan pernikahan tentulah perayaannya akan megah dan mewah. Apalagi Nita adalah anak tunggal Mr. James, tentu saja Mr. James tidak tinggal diam alias tidak menutup mata untuk memberikan yang terbaik di acara pernikahan anaknya.
Tidak sesuai dengan ekspektasi Rido bahwasanya Mr. James akan malu jika anaknya akan menjadi istri keduanya lantas akan menggelar pernikahan yang amat sederhana, misalkan hanya ijab Kabul saja dengan menghadirkan penghulu, tapi nyatanya Rido salah. Wajah Mr. James justru terlihat amat bahagia dan berseri-seri. Tak henti-hentinya Mr. James melemparkan senyuman ke semua tamu undangan yang menyapanya dan memberikan selamat.
Rido benar-benar tidak tau jalan pikiran Mr. James.
'Bapak macam apa itu, apakah cintanya terlalu besar pada Nita sehingga melakukan hal seperti ini? Jika saja aku di posisi Mr. James, aku tak akan pernah melakukan hal ini. Benar-benar gila!' umpat Rido dalam hati.
"Syukurlah, semuanya berjalan dengan lancar. Kalian berdua sudah sah menjadi pasangan suami-istri. Kita tinggal menunggu acara jamuan para tamu selesai. Habis itu kalian berdua bisa istirahat, mama tau pasti kalian berdua sudah sangat capek menjalani rangkaian upacara pernikahan kalian sejak tadi," ucap Ny Helena sambil tersenyum bahagia.
"Iya benar, Mrs. Saya rasa kita pun juga demikian, kita harus istirahat. Jujur saya juga capek, apalagi mereka," dukun Mr. James.
Nita terlihat salting sedangkan Rido tampak datar saja.
Ny Helena dan Mr James kembali sibuk menyunggingkan senyumnya pada para tamu. Mereka menghambur turut duduk-duduk di tengah-tengah para tamu undangan yang cukup penting.
__ADS_1
Sedangkan Nita dan Rido kini duduk-duduk di kursi pelaminan.
Mata Rido mulai mencari keberadaan seseorang. Sejak tadi Rido tidak melihat Zumi. Tiba-tiba saja Rido merasa rindu banget sama Zumi, Rido baru ingat bahwasanya Zumi tidak mungkin datang menghadiri pernikahannya.
Sejak pagi tadi, waktu Rido tersita untuk mempersiapkan diri sebagai seorang pengantin. Mulai dari makeup, baju, dan juga arahan dari pemandu resepsi pengantin.
Entahlah, Rido sendiri merasa pernikahan yang dialaminya sekarang amat beda dengan yang Rido alami saat menikah dengan Zumi.
Terlalu ribet.
Ya memang pernikahan kali ini lebih mewah dan besar. Beda saat Rido menikah dengan Zumi, pernikahannya umum saja.
"Tolong ambilkan ponsel saya," pinta Rido pada pelayan yang kebetulan sedang berada di dekat Rido.
"Tapi, Den... nyonya berpesan agar Aden tidak bermain ponsel untuk sementara ini sebab hal ini menurut nyonya bisa menganggu acara pernikahan," sahut seorang pelayan rumah yang memang diutus untuk ikut serta mengurusi acara pernikahan di gedung tersebut.
"Aku tidak peduli! Berikan sekarang juga!" ujar Rido sedikit meninggi. Sang pelayan hanya bisa menunduk sedangkan Rido masih tetap melotot ke arah lawan bicaranya.
"Ada apa ini? Apa ada masalah, Sayang?" tegur Nita.
Rido merasa sedikit salah fokus dengan julukan yang diberikan oleh Nita.
'Dia memanggilku dengan sebutan 'sayang'?' batin Rido.
"Are you okey?" ulang Nita.
"Aku butuh ponselku sekarang, dia tidak memberikannya," jelas Rido singkat. Nita terdiam dan memandangi pelayan dengan datar.
"Bibi boleh pergi," pinta Nita. Sang pelayan pun menurut. Rido terperangah menyaksikan kepergian pelayan, Rido jadi kesal sendiri. Apalagi pelayan yang sudah bekerja bertahun-tahun lamanya di rumah Rido itu justru lebih nurut pada Nita.
Entahlah, kepergian pelayan tersebut karena patuh terhadap Ny Helena atau karena ingin menghindari perdebatan atau benar jika pelayan kini sudah mulai mengerti posisi Nita lantas menurut juga pada Nita? Sedangkan Rido, Rido dianggap siapa dan apa?
Rido merasakan pening di kepalanya. Rasanya dia sudah tidak kuat menanggung beban perasaan dan pikirannya sendiri. Semuanya dipenuhi oleh nama Zumi, Rido jadi gelisah sendiri dibuatnya.
__ADS_1
"Ini," kata Nita tiba-tiba saja, dilihatnya ternyata Nita menyodorkan sebuah ponsel.
Rido merasa heran mengapa Nita memberikan ponsel yang bukan miliknya. Yang Rido mau adalah ponsel milik Rido sendiri.
"Aku tau kamu pasti ingin tau kabar istrimu. Pakai saja ponselku, dengan ini kamu bisa menghubungi istrimu dan memastikan bahwa keadaannya baik-baik saja," lanjut Nita. Rido melihat Nita dan ponselnya secara bergantian.
Rido amat ragu menerimanya, tapi perasaan Rido tidak dapat dibendungnya lebih lama lagi. Terlebih-lebih ponselnya disandera entah sampai kapan.
"Ayo ambil, gak papa. Mama gak akan marah, kamu bisa telpon di toilet," ujar Nita.
'Ada benarnya juga, aku bisa menghubungi Zumi dengan ponsel ini. Aku takut Zumi kenapa-kenapa,' batin Rido. Rido pun menerimanya dengan memantapkan hati.
"Oke, aku pinjam sebentar," ucap Rido. Nita mengangguk dan tersenyum tipis.
Di detik ke 7 pun Rido pergi meninggalkan kursi pelaminan menuju toilet.
Kini Rido sudah ada di toilet dan hendak menghubungi Zumi dengan ponsel Nita.
"Astaga! Kenapa aku gak tanya sekalian tadi, rupanya ponselnya di kunci." Rido merutuki dirinya sendiri, betapa bodohnya dirinya.
Jika di logika harusnya Rido sadar sejak tadi, tidak mungkin di era zaman sekarang ini barang penting tidak di kunci. Apalagi ini adalah ponsel.
"Gak mungkin aku balik ke sana hanya demi menanyakan apa sandinya pada Nita untuk membuka kunci ponsel ini. Pasti mama bakalan tau kalau aku diam-diam ke sini buat nelpon," gumam Rido.
"Dan sialnya untuk tau kabar, aku gak bisa nunggu lagi sampai acara pernikahan selesai."
Rido mencoba memasukkan angka kapan Nita lahir. Kebetulan Rido masih ingat persis, tapi ternyata salah.
"Aduh kira-kira apa?" Rido tak henti-hentinya menggerutu, sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jari tangan Rido mulai berkutik kembali. Saat itu juga matanya hampir keluar.
"Hah? Bisa! Jadi ini kata sandinya?" Rido menggeleng tidak percaya.
__ADS_1