KONTRAK RAHIM

KONTRAK RAHIM
BAB 019 Harus Bisa Bedain


__ADS_3

"Saya mau pulang," ucap Rido pada tukang parkir yang sedang duduk di bawah pohon rindang.


"Baik, Pak."


Rido langsung masuk ke dalam mobilnya. Mobil Rido pun keluar dengan bantuan aba-aba dari tukang parkir.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Rido tidak tenang. Rido tidak bersabar ingin segera sampai ke rumahnya.


Mau bagaimanapun dia memiliki tanggung jawab yang besar untuk keluarganya, meski Rido bukan satu-satunya lelaki di rumahnya sekarang karena ada kedua iparnya tapi Rido tetaplah yang memegang kepemimpinan di rumahnya, sebab Rido lah anak lelaki Ny Helena satu-satunya.


Perjalanan singkat saja hanya butuh waktu tidak kurang dari 10 menit karena Rido ngebut saat menyetir tadi.


Di depan gerbang rumahnya yang mewah itu, Rido sambut oleh beberapa orang salah satunya adalah satpam rumahnya.


Rido melihat beberapa orang itu memakai pakaian serba hitam, ada lambang di dada kirinya.


Rido hafal dengan lambang tersebut dan tidak asing.


"Akhirnya kalian datang juga," kata Rido begitu dirinya keluar dari dalam mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya.


"Iya, Boss. Kami tadi langsung berangkat begitu Boss telpon atasan kami," kata salah seorang dari mereka.


"Kalian ke sini berapa anggota?" tanya Rido ingin tahu dan memastikan apakah anggota yang telah diutus untuk berjaga di rumahnya sudah cukup atau belum.


"Sekitar 7 anggota, Boss."


"Apa? 7 anggota?" ulang Rido.


"Benar, Boss," ucapnya membenarkan.


Rido menggelengkan kepalanya tidak mengerti mengapa hanya dikirimkan 7 anggota bodyguard saja. Padahal di sana ada puluhan bodyguard yang pastinya sedang bekerja semua.


Tapi apalah daya, bagi Rido melindungi keluarganya lebih penting daripada pekerjaan lainnya.


Rido memang memiliki sesuatu usaha di dalamnya bergerak di bidang jasa. Yaitu jasa bodyguard, tujuannya untuk mengawasi dan mengawal segala usahanya selain itu para bodyguard juga di persewakan kepada orang-orang yang membutuhkan dengan bayaran yang cukup tinggi.


Karena dalam memilih dan memperkerjakan para bodyguard, Rido memang jeli dalam melakukan seleksi masuk.


"Telpon Frans sekarang, kirimkan lagi anggota 4 atau 5. Segera!" perintah Rido.

__ADS_1


"Baik, Boss."


Begitu selesai bicara, Rido pun pergi hendak menuju ke dalam rumah.


Beberapa bodyguard memang sudah tersebar di rumahnya terutama di depan pintu rumah utama.


Mereka terlihat sangat waspada.


"Selamat pagi, Boss," sapa bodyguard yang berdiri tegap di dekat daun pintu.


"Kalian awasi rumah ini dengan baik," kata Rido.


"Siap, Boss!" Bodyguard itu mempersilahkan Rido untuk masuk ke dalam rumahnya.


Kala itu Ny Helena sedang duduk-duduk sendirian. Begitu melihat Rido udah kembali, Ny Helena memasang wajah ceria menyambut kedatangan anak lelakinya itu.


"Rido, Sayang. Akhirnya kamu balik juga, harusnya hari ini kamu memang tidak berangkat ke kantor. Mama kan tadi sudah bilang sama kamu supaya kamu istirahat saja di rumah. Lihatlah keadaan kamu kayak gini tapi kamu tetap ngeyel dan akhirnya apa, kamu pulang secepat ini kan?" Sambut Ny Helena dengan kata-katanya yang panjang.


"Iya, Ma. Aku sengaja pulang cepat padahal kerjaan juga belum kelar. Apa Mama baik-baik saja? Gimana dengan Zumi dan yang lainnya?" tanya Rido balik.


Wajah Ny Helena semula ceria kini senyumannya menyurut.


"Kamu kenapa, Rido? Apa ada sesuatu? Mama lihat juga banyak bodyguard datang ke rumah. Coba ceritakan sama mama," pinta Ny Helena.


Ny Helena siap mendengar penjelasan Rido.


"Ini soal kemarin, Ma. Orang-orang itu datang ke kantor tadi. Bahkan mereka membuat kekacauan di kantor yang mengakibatkan semua karyawan di kantor ketakutan," jelas Rido.


"Lalu, apa hubungannya dengan kamu yang mengutus para bodyguard ke sini?" lanjut Ny Helena.


"Sebenarnya mereka pengen membuatku menderita, aku gak tau apa salahku. Tapi mereka mengancam akan membuat hidupku dan istriku tidak bahagia. Aku kepikiran aja sama yang di rumah, makanya aku langsung kirim bodyguard ke rumah.


"Zumi!" desis Ny Helena.


"Maksud, Mama?" kejar Rido yang kaget dengan Ny Helena menyeru nama istrinya itu.


"Kesialan yang kamu alami ini pasti karena Zumi!" Ny Helena terlihat amat marah.


"Apa maksud, Mama?" tanya Rido tidak mengerti.

__ADS_1


"Siapa lagi kalau bukan Zumi yang ada di balik semua ini, mama curiga sama dia. Makin hari makin gak karuan saja. Gara-gara kejadian ini nyawa kamu dan Nita terancam kemarin. Dan istri kamu yang mereka maksud bukan Zumi, tapi Nita!" simpul Ny Helena.


Rido tertawa getir, amat getir.


"Mama kok bisa mikir ke arah situ sih, Zumi tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Lagi pula Zumi itu orang baik, Ma. Dia gak mungkin punya kenalan orang-orang macam mereka," bantah Rido.


"Heh! Itu menurutmu saja, Rido. Mama yakin kalau ini semua Zumi yang melakukannya. Dia pura-pura polos saja, dia pasti iri karena ada Nita sekarang di rumah ini. Dia berusaha mencelakai Nita lewat orang itu. Sudah ketebak kelakuan dia." Ny Helena beralih pandangannya dan tiba-tiba memasang wajah tidak suka.


"Apa tidak bisa jika kalian bercerai saja, Rido? Semua ini demi ketenangan kita bersama," usul Ny Helena.


"Tidak, Ma! Rido tidak mau, jika sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan aku mau ke kamar dulu, Ma. Aku mau pastikan dia baik-baik saja," pamit Rido dan hendak pergi.


"Tunggu dulu," cegah Ny Helena.


Ny Helena sengaja menyempatkan diri untuk berbicara dengan Rido. Dia sepertinya hendak membicarakan hal penting, hal itu terlihat dari sorotan matanya yang tak mau lepas dari Rido sedetikpun.


Ny Helena bukan ingin membahas apa yang barusan di bahas dengan Rido barusan. Tapi soal lain.


Rido seperti tidak bergeming mendapatkan tatapan seperti itu, Rido sudah terganggu dengan adanya ancaman orang luar dan tuduhan Ny Helena tentang Zumi. Rido sudah dapat menebak apa yang hendak dibicarakan oleh Ny Helena.


Pasti Ny Helena mau ngomongin soal Nita lagi, ya seperti tidak ada topik lain saja. Hanya Nita, Nita, dan Nita saja yang dibahas.


Mungkin karena Nita adalah orang baru, menantu baru, ditambah lagi anak dari rekan bisnisnya jadi Ny Helena sangat perhatian sama Nita. Atau mungkin Ny Helena sudah menganggap Nita menantu kesayangannya.


Lalu Zumi?


Sekalipun Ny Helena tidak lagi menyinggung nama Zumi, pun sepertinya Ny Helena sudah tidak peduli lagi. Entahlah Rido tidak mengharapkan juga jika Ny Helena membicarakan soal Zumi lagi, paling ujung-ujungnya akan membahas mengenai Zumi yang tidak lekas ada tanda-tanda sedang hamil.


"Ada apa, Ma?" tanya Rido langsung. Wajahnya masih bete.


Ny Helena duduk di sofa dengan santai.


"Rido, kamu kan tau sekarang ini Nita sudah menjadi istrimu. Kamu harus sering tidur bareng Nita, kalau perlu tiap malam. Kamu tak usah lagi dengan Zumi," kata Ny Helena.


"Maksudnya Mama?" tanya Rido tidak mengerti.


Ny Helena tertawa dibuatnya.


"Kau kan sudah dewasa, masa gak paham dengan kata-kata mama tadi."

__ADS_1


Rido mengerutkan keningnya.


"Kau harus bedain mana istri dan mana teman hidup, Rido!" Ucapan Ny Helena membuat Rido makin kesal.


__ADS_2