KONTRAK RAHIM

KONTRAK RAHIM
BAB 017 Keributan Depan Kantor


__ADS_3

Sebenarnya Rido masih merasakan ngilu di wajahnya, akibat kejadian yang telah menimpanya kemari di jalan. Dia ingin istirahat di rumah tapi malas karena ada Nita.


Zumi pun tadi sempat melarang Rido untuk ngantor tapi Rido beralasan dia harus rajin bekerja supaya perusahaan makin maju demi kelangsungan hidup keluarga Rido dan Zumi pun akhirnya melepaskan Rido berangkat ke kantor.


"Akhirnya aku berada di sini kembali setelah hari kemarin seakan di penjara dan dipaksa untuk menikah. Benar-benar sial sekali nasibku.


Rido duduk di kursinya, dia pun bersandar dan kedua bola matanya memandang ke langit-langit ruang kerjanya.


"Apa aku suruh Zumi ke kantor aja ya, biar dia main ke sini. Aku jadi pengen ngobrol sama dia biar dia gak salah paham tentang perasaanku sama dia dan juga perasaanku sama Nita," gumam Rido.


Rido pun memantapkan hati untuk menelpon Zumi guna mengundangnya untuk datang ke kantornya.


Dicarinya keberadaan ponselnya, setelah ditemukan lantas Rido mencari kontak nomor istri tercinta.


Duar!


Rido kaget bukan main, hampir saja ponsel yang ada di genggamannya loncat.


"Apa itu?" gumam Rido.


***


Duar!


Suara keras membuat banyak karyawan konsentrasi kerjanya kacau, mereka bertanya-tanya mengenai suara keras tersebut. Arahnya dari luar.


Beberapa karyawan langsung sigap keluar dari gedung memutuskan untuk mencari tau sumber suara tersebut.


Suara tembakan!


Yah, baru saja terjadi tembakan yang entah siapa pelakunya.


"Ada apa ini?"


"Apa yang terjadi?"


Mereka bertanya-tanya sendiri tanpa peduli siapa yang akan menjawabnya. Semua wajah terlihat begitu bingung, tidak ada jawaban tapi masih tetap saja bertanya-tanya. Berharap ada yang dapat memecahkan pertanyaan tersebut dengan jawaban yang tepat dan akurat.


"Ada kerusuhan terjadi, di gerbang depan tadi. Entah siapa mereka. Setelah melepaskan tembakan, saya lihat mereka langsung pergi. Sedangkan satpam tidak berdaya habis di pukuli," sahut tukang parkir.


"Apa?


"Siapa mereka?


"Apa tujuannya?"


Mereka tetap bertanya-tanya dan semakin mendalam.


Banyak karyawan yang masih terus membicarakan apa yang barusan terjadi mendadak sudah hampir sebagian keluar dari dalam kantor.


Tok... Tok...


"Pak Rido?" suara seseorang memecahkan pikiran Rido yang sejak tadi sedang berfikir.

__ADS_1


"Iya, masuk!" perintah Rido. Seseorang membuka pintu dan berjalan tergopoh-gopoh ke arah meja kerjanya. Rido makin bingung dengan kepanikan karyawannya itu.


"Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" tanya Rido langsung to the poin.


"Itu, Pak... anu, Pak...."


Karyawan laki-laki Rido itu mencoba menjelaskan tapi terbata-bata.


"Ada apa? Anu apa?" Rido ikut-ikutan latah.


Rido berdiri dari tempat duduknya, matanya menuju ke arah karyawan menunjuk ke arah luar.


"Baiknya pak Rido lihat sendiri saja," katanya menjelaskan.


Rido menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, aku akan ke sana sekarang," sahut Rido dan bergegas keluar dari ruangannya. Rido amat penasaran juga sebenarnya apa yang terjadi di luar kantornya itu. Mengapa karyawannya sampai kaya gitu.


Rido melihat gedung kantornya kosong, hanya ada dua tiga orang pun mereka tidak bekerja tapi berbincang-bincang. Sepertinya mereka juga sedang membicarakan tentang suara tadi.


Begitu keluar, beberapa karyawan langsung menyambutnya. Mereka menunjukkan sikap ramah, tapi ketegangan mereka masih tergambar.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ada di luar semua? Apa yang terjadi?" tanya Rido.


Seorang tukang parkir datang menghadap ke hadapan Rido.


"Jadi gini, Pak. Tadi ada beberapa orang yang tidak dikenal datang ke kantor. Mereka maksa masuk tapi dicegah oleh satpam. Saya melihat sendiri orang-orang itu memukuli satpam hingga pingsan, ada diantara orang-orang tersebut berhasil masuk dan entahlah apa yang dia perbuat tapi hanya sebentar saja dan mereka langsung pergi," jelasnya panjang lebar.


"Itu adalah suara tembakan, Pak. Entahlah apa tujuan mereka melepas tembakan di sini, saya juga tidak paham," sahut tukang parkir.


Mata Rido nyaris keluar mendengar penjelasan tukang parkir itu.


'Apa ini ada hubungannya sama orang-orang kemarin ya? Sebenarnya apa maunya mereka? Mereka sampai bertindak seperti itu. Pasti mereka bukan orang sembarang, atau seseorang yang sangat berkuasa di sini sampai berani melakukan hal seperti ini,' batin Rido.


"Apa kamu ingat bagaimana ciri-ciri orang-orang tadi?" tanya Rido untuk memastikan dugaannya.


"Iya masih ingat, Pak. Mereka berbadan besar,. mengenakan pakaian serba hitam dan wajahnya tertutup, Pak. Satu lagi mereka pakai motor, Pak." Tukang parkir itu menjelaskan apa yang dia lihat.


'Ternyata benar dugaanku, mereka pelakunya. Apa sih yang sebenarnya mereka inginkan?' batin Rido makin bertanya-tanya.


"Ya sudah kalian kembali bekerja. Anggap semua ini tidak pernah terjadi. Saya akan pastikan kalian aman," ujar Rido.


"Ya, Pak."


"Baik, Pak."


Mereka pun langsung masuk kembali ke dalam kantor dan berusaha melupakan kejadian tersebut karena mereka juga harus kembali bekerja seperti perintah Rido.


"Untuk kamu, kamu urus satpam itu," pinta Rido pada tukang parkir.


"Siap, Pak."


Rido pun melepas kepergian tukang parkir.

__ADS_1


Ketika Rido hendak masuk kembali, ekor matanya menangkap sesuatu. Rido tertarik mendekati.


"Apa ini?" tanya Rido. Rido berjongkok di depan pot bunga besar.


Rido melihat gulungan kertas di sana. Rido mengambilnya lantas menengok ke kanan-kiri, tapi tidak ada siapapun sebab karyawannya sudah sibuk bekerja kembali.


Meskipun ragu, Rido pun membukanya. Di dalam kertas itu ternyata ada batunya.


Rido melepaskan batu itu dari kertas yang membuntalnya.


"TUNGGU SAJA SAMPAI WAKTUNYA TIBA, RIDO!"


Rido kembali menggulung kertas yang ada di tangannya itu dengan geram.


"Brengsek! Ternyata benar dugaanku, itu mereka. Apa sebenarnya yang mereka rencanakan? Dasar pengecut, beraninya main kucing-kucingan."


Rido memutuskan untuk masuk ke dalam kembali.


Brak!


Rido menggebrak meja kerjanya.


"Bisa-bisanya mereka melakukan hal ini padaku tanpa aku tau salahku dimana. Tapi aku tidak boleh gegabah dan aku harus tetap hati-hati, bisa saja mereka mereka membunuhku dari jauh. Aku harus ikuti permainan mereka sampai aku benar-benar tau apa kesalahanku," putus Rido.


(Ponsel Rido berdering, tanda panggil masuk)


Rido melihat nomor pemanggil tersebut, nomor yang sama yang telah menghubungi Rido tadi malam.


"Setan ini menghubungiku lagi. Tenang, Rido. Tenang. Kamu harus tenang." Rido menenangkan dirinya sendiri agar lebih rileks menghadapi orang-orang tersebut


Klik...


X: Apa kamu sudah terima isi pesan dariku? Hahaha...


Rido: Sudah, apa bisa dijelaskan maksudnya apa?


X: Ku rasa itu tidak perlu, tapi jika kamu pengen tau biarlah itu menjadi PR besar buat kamu. Hahaha...


Rahang Rido mengeras, rasanya ingin memaki tapi percuma juga. Apa yang bisa Rido lakukan jika hanya lewat telepon?


Rido: Sumpah! Aku gak nger____


Tut... Tut...


Lagi-lagi seperti semalam, panggilan telepon itu langsung diakhiri dengan salah satu pihak.


Akh!


Rido berteriak sekencang-kencangnya. Rido mengayunkan ponselnya, Rido berniat membanting ponsel miliknya tapi tiba-tiba ponselnya kembali berdering.


Rido mengurungkan niatnya untuk melenyapkan ponselnya itu. Dia pun menatap layar ponselnya itu. Di sana tertera nama kontak istrinya sedang memanggil.


"Zumi!"

__ADS_1


__ADS_2