
"Nita?" panggil Zumi lagi. Nita tergagap, kaget dengan sapaan Zumi. Hal itu tentu saja mengundang perhatian Zumi.
'Kenapa Nita kaya gitu ya? Apa yang sedang dia pikirkan? Apakah memang ada yang dia rahasiakan?' batin Zumi.
"Iy... iya. Sorry-sorry. Aku kurang konsentrasi, aku lagi capek aja. Kurang istirahat," kata Nita.
'Kurang istirahat? Apa semalam___' Zumi menggelengkan kepalanya, mencoba menyingkirkan apa yang ada dipikirannya sendiri.
"Ya udah kalau gitu, kamu istirahat saja. Aku sudah paham dengan apa yang kamu utarakan tadi kok. Tenang aja, aku akan kasih kamu waktu berdua dengan mas Rido," ucap Zumi.
Nita sedikit melotot mendengar perkataan Zumi.
"Iya. Terima kasih banyak kamu udah ngerti. Ya udah, aku ke kamar dulu ya," pamit Nita lalu berdiri kemudian pergi meninggalkan Zumi sendirian di tepi kolam.
Zumi memandangi air kolam yang amat tenang, menandakan tidak ada kehidupan di dalamnya karena memang itu kolam renang, bukan kolam ikan.
"Ya Tuhan, aku tau ini jalan terbaik darimu. Aku mohon, berikan kesabaran untukku. Untuk menahan rasa cemburu yang mungkin akan menyerangku nanti," doa Zumi pelan.
Akhirnya Zumi memutuskan bersantai di tempat duduknya itu, Zumi ingin merenungi nasibnya. Kedua orangtuanya sudah tidak ada di dunia, mungkin jika masih ada maka Zumi akan menceritakan keluh kesahnya tentang masalahnya itu.
"Papa, Mama. Semoga kalian tenaga di sana." Zumi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kini Nita sudah tidak melihat batang hidung mertua perempuannya lagi di ruang tengah.
"Kemana mana?" ujar Nita pelan. Seingat Nita, Ny Helena tadi masih duduk di sofa membaca koran lalu Nita meminta izin untuk ke dapur tanpa memberitahu bahwa dirinya ingin berbicara dengan Zumi. Wanita paruh baya itupun hanya mengiyakan tanpa rasa curiga dengan berbagai pertanyaan.
Mungkin takut jika Nita akan risih mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Maaf, Non. Kenapa, Non? Apa Non mencari sesuatu?" tegur pelayan yang sedang beres-beres di ruang tengah.
"Enggak, Bi. Mama mana ya?" tanya Nita.
"Ohh nyonya, nyonya baru saja keluar setelah menerima telepon," jawab pelayan.
"Mama bilang gak mau kemana?" lanjut Nita.
"Tadi yang bibi dengar sih katanya nyonya mau ketemu Mr. James," sahut pelayan.
"Ohh ya udah makasih, Bi."
"Iya, Non. Bibi permisi dulu mau lanjut di belakang," pamit pelayan sambil membungkukkan badannya.
"Mama ketemu papa? Tau gitu aku tadi ikut. Aku benar-benar bosen di rumah ini, gak ada teman untuk ngobrol. Ya ampun, apa kabar mereka? Selly dan Rena tumben sekali tidak mengangguku," gerutu Nita.
Nita pun mengeluarkan ponselnya, Nita duduk kembali di ruang tengah.
"Hmmm... tega sekali mereka jalan-jalan tanpa aku," gerundel Nita melihat story Selly yang sedang menghadap ke arah kamera bersama Rena di salah satu wisata ibukota.
"Awas saja ya kalian berdua," lanjut Nita.
Nita pun berniat untuk menelpon Selly tapi tiba-tiba ada panggilan masuk dari Rido.
"Ohh my God. Suamiku," pekik Nita. Nita menutup mulutnya yang menjerit kecil. Lalu dia pun menengok kanan dan kiri, untung saja dia tidak menemukan siapapun.
Klik...
Nita: Halo, Rido.
__ADS_1
Rido: Tidak usah banyak bicara. Aku hanya ingin memperingatkan kamu, kamu jangan macam-macam sama Zumi. Kalau sampai kamu berbicara macam-macam maka aku tak akan mengampunimu.
Nita mengerutkan keningnya.
Sampai segitunya Rido khawatir Nita akan melakukan hal-hal yang buruk, Nita merasa sakit hati dengan kata-kata Rido terhadapnya.
Nita: Aku paham, aku ngerti. Aku juga gak akan ganggu dia.
Rido: Baguslah kalau kamu udah ngerti.
Nita tersenyum.
Nita: Ohh ya, Rido. Sepulang dari kantor nanti___
Tut... Tut...
Nita menjauhkan ponselnya dari telinganya, dilihatnya ternyata panggilan sudah dimatikan.
"Dia benar-benar tidak menganggapku sama sekali, sabar!"
***
KANTOR PT. KARYA ABADI
Di ruang CEO
Rido kembali bekerja di ruangannya, sepulang Zumi dari kantornya tadi.
Lagi pula suasana kantor sudah sibuk kembali karena jam istirahat sudah usai. Para karyawan konsentrasi pada pekerjaan masing-masing.
Rido kira setelah Rido menikahi wanita lain, Zumi akan ngambek atau marah meskipun itu juga atas permintaan Zumi sendiri. Tapi rasanya Rido sangat tidak enak dan terlebih lagi Rido merasa telah menghianati cintanya Zumi.
Padahal dulu Rido sudah berjanji padanya bahwa hatinya dan di hidupnya hanya akan ada satu wanita saja yaitu Zumi seorang. Tapi nyatanya, apa yang terjadi sekarang kehidupan Rido sudah ada Nita yang telah menjadi bagian hidupnya.
Mau tak mau Rido juga harus menyesali perbuatannya itu yang telah amat bodoh menikahi wanita lain hanya karena alasan anak.
Rido tidak tahu apakah Zumi saat ini bahagia atau justru sedih tapi sejauh ini memang tidak melihat kesedihan yang begitu berarti, mungkin semua itu karena rasa cinta Zumi yang masih besar pada Rido dan juga Zumi masih menaruh kepercayaan 100% pada Rido.
Entahlah, Ridojuga tidak mengerti sebenarnya restu Zumi itu karena dia sudah bosan dengan Rido atau justru Zumi sangat mencintai Rido dan juga Ny Helena.
"Maaf, Pak. Ini ada data penting yang harus segera ditandatangani Bapak untuk dikirim sore ini juga," ucap seseorang yang telah berdiri di depan pintu ruangan Rido. Putri menatap Rido dengan tatapannya yang seperti orang bingung.
"Bisa gak kalau sebelum masuk ketuk pintu dulu, Putri? Jangan mentang-mentang kamu sekretarisku lantas bisa keluar masuk seenaknya seperti ini," cerocos Rido.
Putri tertunduk.
"Maaf, Pak. Tadi saya sudah ketuk pintu tapi Bapak hanya diam saja dan seperti melamun," sahut Putri.
Rido berdiri.
"Ap... apa? Dengan kata lain kau mengataiku budek?" ujar Rido.
"Bu... bukan, Pak." Putri segera berjalan dengan cepat ke meja kerja Rido lalu menyerahkan file yang perlu disahkan oleh Rido.
Rido menerimanya dengan kesal lantas langsung menandatanganinya.
"Sudah nih, jangan lupa tutup pintunya lagi." Nita menerimanya dengan hormat.
__ADS_1
"Saya permisi, Pak."
Hampir saja Putri jatuh karena terburu-buru keluar dari ruang kerja Rido.
Rido berfikir keterlaluan juga memperlakukan sekretarisnya itu. Padahal Rido selalu baik sebelumnya.
SORE HARI DI RUMAH KEDIAMAN KELUARGA RIDO
Rido sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah. Rido tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya---Zumi.
Saat Rido membuka pintu, dilihatnya ada Zumi dan Nita.
Rido sedikit kaget karena ada Nita yang turut serta.
Keduanya ada di depan pintu masuk.
Rido baru saja masuk ke dalam rumah tapi sudah di sambut oleh kedua istrinya, tentu saja hal yang tidak biasa Rido temui. Kenyataannya sekarang memang Rido punya istri dua.
Rido langsung meraih kepala Zumi dan mencium keningnya lekat sekali.
Zumi pun melakukan hal yang sama di punggung tangannya.
"Sayang, kamu selalu saja begini. Aku semakin sayang banget sama kamu, capekku jadi hilang seketika," kata Rido disertai senyum yang mengembang.
Rido hendak mengajak Zumi masuk, tangannya sudah berada di pundak Zumi dengan sempurna tapi Zumi menepisnya.
"Mas, dia___" Zumi melirik ke arah Nita, Rido sebenarnya merasa malas sekali melihat ke arah Nita tapi karena Zumi tak kunjung beranjak akhirnya Rido melihat Nita juga seperti keinginan Zumi.
Tangannya terlihat terulur hendak meminta tangan Rido.
Rido bergidik pelan.
'Apa-apaan ini, dia sengaja melakukan hal itu dan pasti dia tau kalau aku tidak mungkin bisa menolaknya di depan Zumi,' batin Rido kesal.
"Mas?" tegur Zumi. Rido melihat ke arah Zumi, dilihatnya Zumi tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Seolah memberikan kode pada Rido untuk menyerahkan tangannya pada Nita.
Ini kenyataan buruk!
Note: Terima kasih banyak untuk hadiahnya dari Kakak:
Rea Nitha
Siti Aisyah
Merlyana Pebila
Anonymous
Dewi Mardayani
Miss Yane
Semoga sehat selalu dan diberikan murah rizki🙏
__ADS_1