KONTRAK RAHIM

KONTRAK RAHIM
BAB 011 Mereka Entah Siapa


__ADS_3

"Kau menyingkirlah," ucap Rido. Rido langsung duduk dan meraih tangan Zumi. Zumi pun tertarik dan duduk di samping Rido, hampir-hampir Zumi kehilangan keseimbangan karena Rido amat bersemangat. Sedangkan Nita yang ganti berdiri.


Terlihat kebingungan di wajah Nita saat menatap Rido memperlakukan dirinya. Rido tidak peduli bagaimana Nita berfikir tentangnya. Rido sudah paham, pasti Nita ingat bahwa Zumi adalah segalanya.


Lagian Rido tidak perlu memikirkan bagaimana perasaan Nita, toh pernikahan mereka tidak didasarkan cinta.


"Mas, kamu kok bisa sampai kaya gini? Apa yang terjadi?" tanya Zumi.


"Nita... tolong kamu jelasin sama aku. Apa yang sebenarnya terjadi sama kalian berdua?" Zumi mengalihkan pandangannya ke arah Nita yang tampak terdiam.


"Kami dihadang orang dan Rido di pukuli oleh tiga orang sekaligus tanpa tau duduk permasalahannya," sahut Nita menjelaskan.


"Mas, beneran itu?" tanya Zumi makin panik.


"Iya, Sayang. Semua itu benar, aku gak tau siapa mereka dan kenapa mereka bisa semarah itu sama aku. Aku gak paham." Rido membenarkan ucapan Nita.


Zumi hendak menyentuh wajah Rido. Refleks, Rido menjauhkan wajahnya.


Yang Rido rasakan amat ngilu dan perih. Tidak terbayangkan bagaimana saat Zumi menyentuhnya nanti.


"Jangan, Sayang. Ini___"


"Kita ke rumah sakit saja, Sayang. Atau aku panggilkan dokter agar ke sini ya," bujuk Zumi memotong kata-kata Rido


"Dia gak mau," sahut Nita cepat.


Rido memandang ke arah Nita sebentar dengan tatapan tidak suka.


"Dia sudah ku paksa ajak sejak tadi tapi tetep gak mau," lanjut Nita.


Zumi membetulkan posisi duduknya.


"Lho... jangan gitu, Mas. Ini luka Mas sampai kaya gini. Dan___"


"Jidat kamu kenapa, Nita?" tanya Zumi penasaran.


Nita meraba jidatnya sendiri dengan ragu. Rido ikut menatap Nita dengan malas.


"Ini tadi karena mereka menghadang kita terus mobil direm secara mendadak dan akhirnya kaya gini," jelas Nita panjang lebar.


Zumi berdecak keras.

__ADS_1


"Mereka benar-benar jahat sekali, sebenarnya apa sih maunya mereka. Pokoknya kalian harus berobat. Biar aku suruh bibi hubungi dokter untuk kalian."


Zumi menyambut kedatangan pelayan yang membawakan air hangat dan handuk kecil untuk mengompres luka Rido yang memar di wajah dan hampir seluruh tubuh.


"Bi, tolong segera hubungi dokter langganan keluarga kita sekarang," pinta Zumi.


"Baik, Non. Saya permisi," sahut pelayan.


Nita berjalan menuju sofa yang kosong, terus memperhatikan Rido dan juga Zumi. Rido tau jika Nita kesal, terlihat wajahnya yang mendung. Entah apa yang membuatnya seperti itu.


Lain kali Rido akan menegurnya agar tidak lagi berperilaku seolah cemburu. Rido harus mengingatkan pada Nita agar dirinya selalu ingat bahwa yang Rido cintai hanyalah Zumi saja.


"Ohh ya, Nita. Gimana tadi acaranya? Kenapa yang lain belum sampai rumah?" tanya Zumi.


"Mereka masih nanti," sahut Nita singkat.


"Lalu, acaranya gimana? Hmmm?" tanya Zumi lagi sambil tangannya sibuk dengan luka memar Rido.


"Akh! Akh!"


Tiba-tiba Rido berteriak kesakitan, membuat Zumi yang ada di depannya melotot kaget. Nita pun juga sama, kaget karena teriakan Rido.


"Mas, ka... kamu kenapa? In... ini sakit ya, maaf ya," ucap Zumi dengan penuh penyesalan.


Sebenarnya bagus sih jika kedua istrinya itu akur, hanya saja Rido benar-benar tidak ingin Zumi mendapatkan pengaruh negatif dari Nita. Apalagi Nita 'katanya'mencintai Rido, jangan sampai karena cintanya itu membuat Nita berbuat nekat pada Zumi. Rido amat tau bagaimana Nita.


"Sayang, kita ke kamar saja ya. Kamu obatin aku di kamar," pinta Rido. Zumi langsung mengalihkan pandangannya pada Nita.


"Tapi, Mas___"


"Kita ke kamar, Sayang," ulang Rido.


"Bawa dia ke kamar, dia butuh istirahat." Nita membuka suara.


Atas paksaan Rido dan didukung oleh ucapan Nita, akhirnya Zumi memenuhi keinginan Rido. Mereka berdua menuju kamar.


"Aku tinggal dulu ya. Ohh ya, kamar kamu... ekh maksudnya kamar kalian nanti ada di atas ya, mama udah siapkan di atas. Kamu bisa ke sana untuk istirahat, biar nanti dokter ke kamarmu setelah memeriksa mas Rido," jelas Zumi sebelum akhirnya pergi meninggalkan Nita sendirian di ruang tamu.


Rido amat bahagia bisa merangkul Zumi kembali.


"Maaf ya, Sayang. Aku merepotkanmu dengan keadaanku yang seperti ini. Aku jadi gak bisa menggendongmu ke kamar seperti biasanya," ringis Rido.

__ADS_1


Zumi tersenyum tipis.


"Ya ampun, Mas. Mas jangan berfikir seperti itu. Gak papa kok, Mas sama sekali gak merepotkan. Sekarang yang terpenting adalah luka kamu segera sembuh," sahut Nita.


Akhirnya Rido kini merasa lebih baik dari sebelumnya. Bagi Rido lukanya sekarang tidak terasa sama sekali karena obatnya adalah Zumi. Rido telah mendapatkan obat itu.


"Sayang, kamu tau gak? Seharian ini aku hampir mati di gedung itu." Rido kini tiduran di atas ranjang. Tangannya melingkar di pinggang Zumi yang duduk di tepi ranjang, tatapan Rido amat mesra.


"Kenapa bisa begitu, Mas? Apa penyebabnya?" Zumi terlihat mengerutkan keningnya. Rupanya Zumi terlalu serius menanggapi perkataan Rido, padahal niat Rido adalah untuk menggombal tapi Zumi sepertinya justru berfikir begitu. Rido jadi gemas sekali.


"Iya, Sayang. Karena kamu gak ada di sana, aku rindu banget sama kamu. Aku tidak bisa jika sehari saja tanpa melihat kamu," kata Rido sambil terus memandangi Zumi dengan penuh kerinduan.


Bibir Zumi mengembang membentuk sebuah senyuman yang amat manis.


"Mas bisa saja. Ohh ya, Mas... Mas merasa punya musuh gak?" tanya Zumi.


Kedua bola mata Rido memandang ke langit-langit kamarnya, mencoba berfikir.


"Musuh? Kayaknya enggak, aku gak punya musuh. Selamat ini aku baik-baik saja sama orang dan gak pernah berbuat buruk sama mereka," sahut Rido.


Zumi ikut berfikir keras.


"Lalu mereka itu siapa ya, Mas. Kenapa mereka menyerang kamu, Mas?" Zumi terlihat seperti terheran-heran.


"Iya aku juga gak tau, Sayang. Tapi yang jelas mereka mengenalku dan kata mereka, mereka akan datang lagi." Rido menjelaskan.


"Ap... apa? Mereka akan datang? Astaga, Mas. Ini gak bisa dibiarin. Mas dalam ancaman, kita harus secepatnya lapor polisi," kata Zumi.


Rido tertawa kecil.


"Jangan panik, Sayang. Lain kali akan ku buat mereka yang ada di posisiku sekarang, aku akan hajar mereka. Aku kalah tadi karena capek gak ada tenaga dan di tambah lagi gak ada kamu di sampingku," sahut Rido dengan wajah lebih cerah.


"Ihhh, Mas. Mas malah bercanda, sebelum ini Mas gak pernah kaya gini. Tapi hari ini Mas bonyok, itu berarti mereka bukanlah orang biasa." Zumi mendefinisikan kejadian tersebut.


"Udah ya, Sayang. Aku gak mau kamu mikirin aku sejauh itu, mereka cuma orang yang gak penting. Aku aja santai kok, udah ya," Rido mencoba menenangkannya Zumi.


Akhirnya Zumi pun mengangguk meskipun terlihat masih panik, sungguh Rido gemas sekali. Ingin sekali Rido mencumbunya tapi badannya tidak memungkinkan.


"Sayang, coba wajahmu mendekat," pinta Rido pada Zumi.


"Mas, kamu___"

__ADS_1


Belum sempat Zumi mengutarakan kata-katanya, Rido sudah menarik lengan Zumi yang membuat Zumi tertarik dan tak ayal akhirnya Zumi menubruk Rido.


Bibir mereka bersatu.


__ADS_2