
Rido memutar kedua bola matanya mendengar ucapan dari Ny Helena. Sebenarnya dia amat malas akhir-akhir ini harus berhadapan dengan mamanya akan tetapi yang namanya orang tua, mau bagaimanapun dia harus tetap menghormatinya.
Apalagi itu menyangkut kepedulian seseorang, Rido sebenarnya tau bagaimana tanggung jawab sebagai seorang suami tetapi kalau dengan Nita, Rido tidak peduli.
Lagi pula itu kan kemauan Ny Helena, bukan atas kemauan diri sendiri jadi Rido masa bodoh dengan itu. Pernikahan mereka memang diawali dengan keterbatasan dan juga kontrak, bukan dengan cinta seperti halnya pernikahannya bersama Zumi.
Rido sudah kebanyakan pikiran, tetapi yang terjadi di rumah dia harus menyaksikan perang dingin antara dirinya dan juga mamanya Rido.
Rido bingung mau memihak yang mana dan semuanya berat, ada perang dengan dua kubu yang sangat bertolak belakang. Yang satu adalah istri tercinta dan sedangkan yang satunya adalah istri keduanya bersama dengan orangtua kandungnya.
Rido benar-benar kesal.
"Iya, Ma. Aku tau kok mana pendamping hidup dan mana istri, bagiku semua sama. Seperti halnya Zumi, dia adalah pendamping hidup dan juga istri," ujar Rido.
"Wah, wah, anak mama lulusan terbaik di kampus tapi bodoh dan tidak bisa membedakan mana antara pendamping hidup dan mana istri. Sangat di sayangkan ya," timpal Ny Helena mengolok-olok sambil berdecak.
"Apa maksud Mama barusan?" tanya Rido tidak mengerti sampai mamanya mengatainya bodoh.
"Benar kalau Zumi itu dulunya pendamping hidupmu, sampai sekarang pun masih. Benar kalau Zumi itu dulunya istri kamu tapi itu dulu, Rido. Sekarang istrimu adalah Nita. Karena kalau di definisikan, Nita yang sehat itu bisa menjadi ibu dari anak-anakmu kelak. Sedangkan Zumi?" Ny Helena geleng-geleng kepala.
Entahlah Rido sekarang ini tidak menyukai Ny Helena, rasanya dia ingin menghilang saja dari hadapan Ny Helena.
"Ma, aku mau ke kamar dulu. Aku capek, aku pusing. Udah ya, Ma," pamit Rido.
"Tunggu, Rido!" cegah Ny Helena.
Lagi-lagi Rido berhenti dan mengurungkan niatnya untuk beranjak dari hadapan Ny Helena.
"Ada apa lagi, Ma?" tanya Rido dengan malas.
"Kamu sekarang boleh ke kamar Zumi, tapi ingat. Nanti malam kamu tidur di kamar Nita. Dan kamu jangan coba-coba ulangi lagi tidur di kamar tamu seperti apa yang kamu lakukan tadi malam. Mengerti!" tegas Ny Helena.
"Tapi, Ma___"
"Udah, gak usah tapi, tapi. Ini perintah dari mama," ucap Ny Helena sambil berdiri dari tempat duduknya.
Lantas Ny Helena mendekati Rido.
"Ingat, kamu harus segera berikan cucu pada mama. Mama anggap ini adalah sebuah hutang!" bisik Ny Helena dan langsung lenyap dari pandangan Rido.
Mulut Rido menganga otomatis, sebegitu ngebetnya Ny Helena menginginkan memiliki seorang cucu darinya. Rido bingung dan frustrasi, dia sebenarnya jijik pada Nita.
Untuk berdekatan dengannya saja ilfil, apalagi menyentuhnya dan melakukan hal itu.
Rido membuang pikiran kacaunya, dia bergegas menuju ke arah kamar Zumi.
__ADS_1
Rido meraih handel pintu, di dorongnya ternyata di kunci.
Terpaksa Rido harus mengetuk pintu kamar Zumi, padahal niatnya dirinya mau memberikan kejutan atas kepulangannya ke rumah lebih awal itu.
"Sayang? Sayang?" panggil Rido sambil tangannya mengetuk daun pintu pelan.
"Sayang, buka dong pintunya," pinta Rido.
"Iy... iya, Mas. Bentar ya, Mas. Akan ku buka," sahut Zumi dari dalam kamarnya.
"Iya, mas tunggu."
Selang 1 menit lebih belum juga di buka, 2 menit, dan 3 menit berlalu masih belum juga di buka.
Tok... Tok...
Rido kembali mengetuk pintu.
"Sayang, aku masih di sini menunggu lho," ucap Rido.
"Ya, Mas. Sebentar," sahut Zumi lagi.
"Kamu lagi apa sih? Apa kamu baik-baik aj___"
Klak!
Suara kunci di putar anakannya.
Wajah Zumi menyembul dari balik pintu kamarnya hanya separuh saja.
"Sayang, kamu gak papa? Kenapa kamu lama sekali?" tanya penasaran dengan apa yang Zumi lakukan di kamarnya.
"Kamu lagi apa sih?" lanjutnya, Rido pun masuk ke dalam kamarnya. Zumi masih memegang pintu. Rido tersenyum dan menutup pintu kamar tersebut.
Kedua tangannya yang kekar langsung menyambar tubuh Zumi dan menggendongnya.
Zumi tidak mengeluarkan suara apapun, Rido pun memandangi wajahnya yang tepat ada di bawah dadanya yang bidang. Rido terus berjalan dan tetap memandangi Zumi.
"Ka... kamu abis nangis ya, Sayang?" tanya Rido kaget.
"Enggak kok, Mas. Aku tadi kena debu aja pas bongkar-bongkar buku di rak. Makanya kaya gini," sahut Zumi berbohong.
Rido pura-pura percaya saja, dia tau kalau Zumi sedang berbohong padanya. Rido merasa dia harus mencari tau sumber dari tangisan Zumi, apa itu justru karena Rido?
***
__ADS_1
KAMAR NITA
Begitu masuk ke kamar tanpa permisi, Rido memeriksa isi kamarnya bersama istri keduanya yaitu Nita.
Rido duduk dengan gelisah di tepi ranjang, Nita masih di dalam kamar mandi sejak 15 menit yang lalu.
Nita tadi pamit hendak mandi waktu keduanya sama-sama di bawah berbincang-bincang dengan Ny Helena.
Lalu kemudian Nita mengatakan akan mandi dulu, lantas Ny Helena pun mempersilahkan.
Rido pun hanya masa bodo saat Nita pergi.
Beberapa saat Ny Helena pun ikutan pergi. Rido senang saja, keduanya meninggalkan dirinya sendiri. Itu berarti Rido bisa mencuri-curi waktu untuk bersama dengan Zumi malam ini meskipun sebelumnya Rido sudah di berikan ultimatum untuk tidur di kamar Nita.
Tapi niatnya itu di urungkannya, apalagi sudah lewat jam 9 malam. Mungkin Zumi juga sudah tidak, jadi percuma jika Rido ke kamar. Zumi pasti sudah tidur dan tidak mungkin Rido tega membangunkan Zumi begitu saja.
"Benar kata mama, berarti aku harus lakuin ini sekarang. Supaya Nita cepat hamil dan punya anak. Kelak dengan adanya anak itu, aku akan segera terbebas dari Nita. Dan akhirnya aku dan Zumi juga anakku bisa hidup bahagia bertiga tanpa harus ada orang yang menjadi penghalang kebahagiaanku bersama Zumi, termasuk mama sekalipun," gumam Rido.
Kricik... kricik...
Suara air shower terus masih terdengar mengucur.
"Astaga, itu manusia apa bukan. Mandi malam-malam betah banget di dalam kamar mandi, apa gak kedinginan nanti," gumam Rido.
Rido menunggu Nita keluar kamar mandi sambil menahan kantuk.
Suara air shower sudah tidak terdengar, entahlah sejak kapan. Rido tidak konsentrasi mendengarkannya tadi karena kantuk yang menyerangnya.
"Rido!" ucap Nita seperti seseorang yang kaget.
Rido melihat ke arah Nita, dilihatnya Nita keluar hanya mengenakan sehelai handuk melilit tubuhnya yang kurus tapi berisi.
Tiba-tiba kantuknya seketika hilang.
Rido melihat Nita dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Cantik! Seksi! Menggairahkan!
Untuk ukuran orang normal.
Menurut Rido, seindah apapun bentuk tubuh Nita, tetap Zumi yang paling indah.
Rido berdiri dari sisi ranjang.
"Nita, kita lakukan sekarang!" kata Rido dengan mantap.
__ADS_1