
Pagi ini dokter sudah datang ke rumah, kata dokter beberapa jam lagi Nita akan sembuh. Dia hanya demam biasa, begitu kata dokter tadi.
"Mohon obatnya di minumkan ya, Pak," ujar dokter pada Rido.
"Iy... iya, Dok. Terima kasih banyak," ujar Rido yang baru saja bangun dan mendapatkan kabar dari salah satu pembantunya yang membersihkan kamar tamu, pembantu itu bilang jika Nita sakit dan saat ini dokter sedang menuju ke rumah untuk memeriksa Nita. Akhirnya Rido pun menemui dokter tersebut di kamar Nita.
Ya, untuk memastikan apakah benar Nita sakit? Sedangkan semalam saja terlihat baik-baik saja. Hanya saja Rido merasa dia harus melihat keadaan Nita.
"Iya, sama-sama. Jika bisa dia tidak mandi malam-malam, ini efek cuaca dan kondisi tubuh bu Nita yang tidak cocok jika mandi malam," ucap dokter itu lagi.
Rido menganggukkan kepalanya.
'Sial, jadi itu penyebabnya? Ku kira karena hal lain,' batin Rido yang merasa sedikit khawatir dengan kejadian semalam. Rido pikir Nita begitu karena baru pertama kalinya dia melakukan hal tersebut.
"Iya, Dok," sahut Rido lagi.
"Ya, Sudah kalau begitu, saya permisi pulang," pamit dokter dan membungkuk hormat pada Ny Helena yang duduk di tepi ranjang menemani Nita yang masih saja memejamkan matanya.
"Baik, Dok. Mari saya antara sampai depan," ajak Rido.
"Terima kasih, Pak. Mari."
Dokter itu berjalan mendahului Rido keluar dari dalam kamar. Rido hendak ikut tapi Ny Helena buru-buru memanggilnya.
"Rido, kamu di sini saja temani Nita. Biar mama yang antar dokter itu sampai depan," ujar Ny Helena.
"Enggak, Ma. Aku gak bisa menemani dia," sahut Rido.
Ny Helena kini bangkit.
"Apa kamu bilang? Coba bilang sekali lagi sekarang, Rido!" pinta Ny Helena. Meskipun pelan tapi penuh dengan penekanan.
Rido hanya diam saja, Ny Helena mengartikan bahwa Rido setuju. Akhirnya Ny Helena yang keluar dari kamar Nita, Ny Helena pergi tanpa pamit. Nya Helena pun menghilang dari pandangannya saat pintu kamar kembali tertutup.
Rido mencuri ke arah Nita yang tampak tenang di atas kasur.
"Kenapa juga aku harus menjaganya? Dia baik-baik saja dan kata dokter dia akan segera sembuh. Lebih baik aku ke kantor hari ini dan biar bibi yang jagain dia," gumam Rido. Rido pun meyakinkan dirinya untuk meninggalkan Nita sendirian di kamar setelah menengoknya dua kali.
__ADS_1
Bukan tidak mau bertanggung jawab, tapi Rido tau bahwa banyak orang di rumahnya itu yang bisa menjaga Nita. Lagipula Rido merasa harus tetap bekerja meskipun Nita sakit.
"Dia hanya demam, dia akan sembuh secepatnya."
Di meja makan, seperti biasanya sudah berkumpul untuk sarapan.
"Gimana keadaan Nita, Ma?" tanya Shofie di tengah-tengah sarapan mereka.
"Tadi sudah di tanganin dokter, semoga saja dia cepat sembuh setelah minum obat tadi," jawab Ny Helena.
"Iya, Ma. Semoga saja, kasihan anak orang sakit di rumah kita," ujar Shofie.
"Kamu gimana sih, dia bukan anak orang lain lagi. Nita itu adalah bagian dari keluarga kita sekarang, dia kan menantu mama," ingat Ny Helena.
Semua orang mencuri pandang ke arah Zumi yang tampak diam saja.
Zumi kepikiran Nita yang sakit dan Rido tidak ada di meja makan, pastilah Rido saat ini sedang menemani Nita di kamarnya.
Sama seperti yang Rido lakukan saat Zumi sakit. Rido selalu memperhatikannya dan memanjakannya.
'Aku mikir apa sih, aku gak boleh cemburu. Aku harus buang jauh-jauh pikiran negatifku ini,' batin Zumi.
"Iy... iya, Sayang. Tante mau sarapan juga. Tony juga sarapan ya, nanti di sekolah biar kuat," sahut Zumi, Zumi tersenyum tipis ke arah Tony. Semua orang pun kembali menyantap sarapannya tanpa peduli dengan obrolan Tony dengan Zumi.
"Om Rido!" seru Tiyo.
"Ayo sarapan, Om," lanjutnya.
Semua orang kembali menengok ke arah datangnya Rido. Ny Helena heran dengan Rido yang sudah rapi, Zumi pun ikutan kaget karena sejak tadi dirinya tidak ke kamarnya. Setelah bangun tidur, Zumi ikutan sibuk di dapur dan terakhir ikut sarapan.
Zumi belum sempat mengecek kamar seperti apa yang Zumi lakukan sebelumnya. Karena Zumi pikir, Rido tidak akan ke kamarnya tapi ternyata Rido muncul dari arah kamar Zumi dengan pakaian dinasnya.
"Selamat pagi, anak ganteng," ujar Rido dan bertos dengan Tiyo, Tony, dan juga Anin.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Rido dan langsung menarik kursi di samping Zumi lalu duduk.
"Pagi, Ma," lanjutnya. Rido menyambar dua potong roti lalu mengolesnya dengan selai kacang.
__ADS_1
"Kamu mau kemana, Rido? Kamu kok udah rapi? Bukannya kamu tadi di atas?" tanya Ny Helena dengan heran.
"Iya, Ma. Aku akan berangkat ke kantor hari ini," sahut Rido. Sesekali dia mengunyah rotinya.
"Tapi Nita----"
"Sudah sama bibi. Mereka akan merawatnya. Jadi mama tidak usah khawatir. Aku memiliki kewajiban untuk bekerja."
"Tapi Rido---"
"Udah ya, semuanya. Aku duluan, aku ada janji sama Hari untuk membahas mengenai kerjaan kemarin yang sempat aku tinggal," kata Rido sambil berdiri.
"Mas, gak di habisin sarapannya dulu?" Kini Zumi ikut berbicara.
"Enggak, Sayang. Aku nanti sarapan bareng Hari aja. Ya udah ya, aku berangkat sekarang," sahut Rido langsung mencium pipi Zumi dan meraih tangan Ny Helena dan menciumnya.
"Rido, mama belum selesai bicara. Rido!"
Yang di panggil malah berlarian keluar rumah. Ny Helena menghela nafas berat. Zumi jadi tidak enak hati dengan sikap Rido belakangan ini yang selalu membuat Ny Helena kesal.
Zumi menundukkan kepalanya dan kembali menyantap sarapan tatkala Ny Helena melirik ke arahnya.
Entahlah apa yang Ny Helena pikirkan saat memandang Zumi, Zumi tidak tau oast
***
Waktu Zumi sedikit longgar, siang ini Zumi berencana untuk mengantar bekal ke kantor Rido. Zumi sudah masak makanan kesukaan suaminya. Zumi yakin, Rido akan menyukainya.
"Semuanya sudah siap, Non?" tanya seorang pelayan yang sejak tadi menemani Zumi di dapur.
"Iya, Bi. Ohh ya, ini ada sup daging ayam masih panas. Nanti kalau sudah agak dingin, tolong Bibi berikan sama Nita ya. Nita kan sedang sakit jadi Bibi antar ke kamarnya. Kalau semisal dia tanya saya, katakan kalau saya mengantar bekal ke kantor," pesan Zumi.
"Iya baik, Non. Apa Non mau berangkat sekarang?" tanya pelayan.
"Iya, Bi. Saya sudah pesan taksi, lima menit lagi sampai. Ya sudah kalau begitu, titip dulu makanannya ya. Saya mau ambil tas ke kamar," lanjut Zumi. Pelayan pun mempersilahkan.
Diam-diam pelayan tersebut memperhatikan Zumi sampai Zumi tidak terlihat kembali.
__ADS_1
"Kasihan non Zumi, saya gak habis pikir mengapa non Zumi bisa menerima non Nita dengan baik. Bahkan mampu memperlakukan non Nita dengan baik pula," gumam pelayan.