KONTRAK RAHIM

KONTRAK RAHIM
BAB 018 Antisipasi Ancaman Luar


__ADS_3

Terasa mencair begitu saja emosional Rido, setelah Rido melihat istrinya melakukan panggilan terhadapnya.


Klik...


Rido: Halo, Sayang. Selamat pagi.


Zumi: Iya, Mas. Tadi Mas kan sudah mengucapkan itu di rumah.


Rido tersenyum getir.


Rido: Ekh iya ya. Tapi aku mau mengucapkan itu setiap kita berkomunikasi. Tumben jam segini telpon, udah kangen ya?


Zumi: Sejujurnya iya, Mas. Tapi sebenernya aku khawatir sama Mas. Tiba-tiba saja perasaanku gak enak, Mas baik-baik saja kan?


Rido menelan ludahnya sendiri, yang terjadi sebenarnya Rido sedang tidak baik-baik saja. Rido yang memiliki niatan supaya Zumi datang ke kantor tadi pun terlintas kembali. Tapi Rido tapi apa yang barusan terjadi di kantornya sangat membahayakan Zumi.


Rido pun tidak menginginkan Zumi untuk datang ke kantor lagi.


Rido: Ohh, baik-baik saja kok, Sayang. Kamu gak usah khawatir ya. Ohh ya kamu tadi sudah sarapan belum? Jangan lupa sarapannya tadi dilanjutkan ya. Jangan sampai enggak.


Zumi: Syukur kalau baik-baik saja, Mas. Iya, Mas. Aku pasti sarapan. Ya udah kalau Mas baik-baik saja aku bisa tenang sekarang.


Rido: Iya, Sayang. Kamu hati-hati ya di rumah, jangan keluar rumah tanpa aku temani.


Zumi: Lho, memangnya kenapa, Mas?


Rido: Semua tidak harus aku kasih alasan kan? Ya udah kamu langsung sarapan ya. Kamu matikan panggilan ini sekarang.


Zumi: Baiklah, Mas. Selamat bekerja ya.


Rido: Siap, Sayang.


Tuuut...


Rido menghela nafas berat. Rido ingin melakukan sesuatu agar dirinya lebih tenang.


"Kayaknya buat kopi enak nih," gumam Rido. Rido tidak tau mengapa di meja mejanya belum ada minuman. Mungkin OBnya terlambat mengantar kopi untuk Rido karena kejadian tadi sehingga kinerjanya jadi menurun.


Wajar saja jika mereka takut dan khawatir dengan nasib mereka karena teror tadi.


Rido memilih untuk ke pantry sendiri. Dia akan membuatnya untuk dirinya sendiri.


"Lho, Pak Rido. Kenapa Bapak ada di sini?" tanya OB wanita yang amat kaget melihat kedatangan Rido ke pantry.


"Aku mau buat kopi," jawab Rido.


"Jangan, Pak. Biar saya saja yang buatkan, Bapak kembali sana ke dalam. Secepatnya saya akan antar.

__ADS_1


"Ya sudah, kau antar ke ruanganku," sahut Rido. Dilihatnya OB itu membungkukkan badannya.


"Siap, Pak."


Rido berjalan kembali, wajahnya sesekali melihat suasana dalam kantor yang ternyata sudah kembali normal.


Rido berhenti saat matanya menghadap ke arah jendela. Di sana ada yang aneh. Tanaman hiasan yang cukup mahal di kantornya itu seperti rusak. Seperti ada yang telah menyebabkan rusaknya tanaman yang setiap hari di siram karyawannya itu.


Rido pun mencoba mengecek dengan cara mendekati jendela tersebut.


Kembali Rido menemukan sesuatu seperti tadi. Kali ini botol kaca yang di dalamnya ada kertas tergeletak di antara tanaman yang menjulang cukup tinggi tersebut.


Tanpa pikir panjang, Rido loncat keluar melalui jendela. Rido penasaran apa yang ada di dalam botol tersebut.


Prang!


Rido memecah botol itu, lantas mengambil secarik kertas yang di gulung di dalamnya.


"KAU MUNGKIN BISA HIDUP BAHAGIA DENGAN ISTRIMU, TAPI ITU HANYA SEMENTARA!"


Hah!


Rido terpekik dan refleks menjauhkan kertas itu darinya.


Rido segera masuk kembali ke dalam ruangannya, Rido tidak bisa tenang begitu saja dengan apa yang menimpanya kali ini.


Sampai detik ini pun Rido tidak tau apa kesalahannya.


"Sepertinya ini bukan masalah bisnis, tapi masalah pribadi. Tapi siapa sebenarnya orang yang berada di balik kejadian-kejadian tersebut?" tanya Rido pada dirinya sendiri.


Rido merenggangkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.


Dengan gelisah Rido pun duduk di kursinya.


"Aku harus cari tau secepatnya, berani-beraninya dia cari masalah sama aku. Aku ini orang penting kenapa mereka nekat melakukan hal itu, pasti mereka bukan orang sembarang. Seseorang yang tau kartuku pasti telah membayar orang-orang itu untuk terus mengangguku. Tapi siapa?"


Rido jadi khawatir dengan keadaan keluarganya.


"Semoga saja mereka tidak mencari masalah dengan keluargaku. Karena aku akan sangat marah bila hal itu terjadi, secepatnya aku harus cari beberapa bodyguard untuk mengamankan keluargaku. Terutama Zumi."


Rido mengambil gagang telepon, lantas tangannya sibuk memencet nomor.


Klik...


Rido: Kerahkan beberapa bodyguard berjaga di rumahku! Kawal semua keluargaku!


Seseorang: Baik, Pak.

__ADS_1


Tuuut...


Untuk sementara waktu, Rido bisa sedikit tenang. Rido harap sesuatu tidak terjadi pada keluarganya.


Rido amat gelisah, bersamaan itu kopinya datang dan di belakang OB itu ada sekretarisnya---Putri.


"Saya permisi, Pak," pamit OB tersebut begitu selesai meletakkan cangkir kopi untuk Rido.


"Mari, Mbak," ucap OB itu pula pada Putri.


"Maaf, Pak. Saya sedikit terlambat untuk mengantar dokumen yang Bapak minta. Saya pikir hari ini Bapak masih di rumah. Jadi saya harus mengumpulkan dokumen secara mendadak," ungkap Putri sambil menyerahkan dokumen pada Rido. Rido pun menerimanya.


Sebenarnya Rido akan marah mendengar alasan macam ini tapi Rido menahannya untuk tidak emosional.


"Ya sudah, nanti kamu ambil sejam lagi ke sini," pesan Rido.


"Baik, Pak. Saya permisi," pamit Putri.


Rido menyenderkan kepalanya di kursi.


"Rasanya aku ingin pulang saja, aku ingin ada di samping Zumi terus. Menjaga dia tanpa harus aku khawatir lagi. Aku harus pastikan sendiri kepada rumah. Mereka sudah keterlaluan membawa Zumi dalam masalah ini," kata Rido pada dirinya sendiri.


Rido pun berencana hendak pulang saja, tapi sebelum itu dia menyelesaikan pekerjaannya untuk mengesahkan dokumen-dokumen penting.


Kemarin Rido menyerah urusan kantor pada seseorang, tapi sepertinya orang yang Rido percaya itu masih ada di luar menangani proyek.


Rido belum mendapatkan laporan tentang hasil kinerja proyek, mungkin karena terlambat atau justru belum kelar.


Rido akan sabar menunggu, yang terpenting saat ini adalah keluarganya. Rido harus fokus pada keluarganya. Lagi pula kedua iparnya sudah kembali, kemungkinan besar mereka mau membantu Rido walaupun sebenarnya mereka sudah di sibukkan dengan kantor lain yang ditujukkan oleh Ny Helena.


Rido sendiri belum berani bilang masalah besar ini kepada seluruh anggota keluarganya tapi jika memang harus, Rido akan segera berbicara secepatnya secara terbuka pada keluarganya. Tujuannya satu yaitu supaya mereka hati-hati.


"Baiklah, aku akan selesai ini dulu. Setelah ini aku akan pulang."


Rido sudah sudah sangat yakin dengan kinerja karyawan, dia pun langsung membubuhkan tanda tangan begitu saja.


"Aku akan pulang sekarang, jika ada sesuatu langsung hubungi aku," pesan Rido pada Putri saat mengambil dokumen-dokumen tersebut.


Rido mengenakan jasnya lantas menatap Putri yang masih belum beranjak.


"Tapi, Pak... soal tadi bagaimana? Kalau mereka datang lagi gimana?" tanya Putri dengan ragu-ragu.


"Bukankah sudah ku bilang tadi di depan? Ku pastikan kalian aman! Paham!" Suara Rido kini meninggi.


"Ba... baik, Pak."


Rido pun langsung meninggalkan Putri yang masih tertunduk dalam-dalam di ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2