KULTIVASI MODERN

KULTIVASI MODERN
Sampai Dirumah Mertua Dan Ketegangan


__ADS_3

Mobil mereka melaju dengan sedang, dalam mobil mereka berdua hanya mengobrol santai, jarak antara toko Fadil dari Istana terpaut dua jam perjalanan menggunakan mobil.


Sentia menceritakan tentang keluarganya yang juga merupakan pejuang, namun pemahaman mereka tentang kultivasi tidak terlalu mendalam, masih banyak yang belum mereka ketahui dalam kultivasi.


Kakek Sentia masih hidup sampai saat ini, dia merupakan pejuang terkuat dibumi, sebelum Fadil naik tingkat keranah Jiwa emas, kakek Sentia juga berada ditingkat jiwa emas, namun masih tahap awal, sedangkan Fadil sudah ditahap menengah belum lagi kekuatan tulangnya yang berada ditingkat tulang emas, Fadil setara dengan tingkat jiwa berlian tahap awal.


Tidak lama kemudian, Fadil dan Sentia sudah sampai didepan gerbang istana, tampak penjaga membawa pedang dipinggang, dan kaki sebelah kanannya tergantung sebuah pistol, penjaga itu sudah tau dengan mobil sport itu, lalu membukakan pintu gerbang dan berkata.


''Selamat datang tuan putri..'' ucap penjaga itu dengan hormat.


Mobil mereka melaju ketempat parkir khusus keluarga kerajaan, lalu mereka berdua segera turun dan berjalan ke aula istana.


Perkarangan istana ditanami pohon dengan jenis berbeda, tapi tersusun rapi sesuai jenisnya, luas perkarangan istana mencakup empat kali stadion sepak bola.


Fadil dan Sentia sudah sampai didepan pintu aula istana, penjaga disana segera membukakan pintu, karna melihat tuan putri mereka.


''Silahkan masuk tuan putri dan tuan muda..'' ucap penjaga itu mempersilakan mereka masuk dengan hormat.


Fadil dan Sentia hanya mengangguk dan berjalan kedalam aula istana, sampai disana mereka disambut dengan tatapan berbinar dan bertanya-tanya.


Disana terdapat sepuluh pria paruh baya, satu wanita yang berumur sekitar 35 tahun dan seorang kakek tua.


''Salam kakek, ayah ,ibu, dan semuanya..'' ucap mereka berdua.

__ADS_1


''Cucuku, selamat datang kembali..'' ucap kakek Sentia dengan perasaan bahagia.


''Terimakasih kakek..'' balas sambil menyalami kakek tua itu.


Sentia melihat kearah orang tuanya dengan santai, lalu berjalan kearah mereka, lalu memeluk mereka berdua.


''Putriku, apakah kamu tidak apa-apa diluar sana..'' tanya ibunya dan diangguki oleh ayahnya.


''Aku baik-baik saja ibu, gege Fadil selalu melindungi ku..'' ucap sentia sambil melirik kearah Fadil.


Mereka semua melirik kearah Fadil, sedangkan Fadil hanya tersenyum canggung.


''Apakah kamu kekasih cucuku anak muda..'' tanya kakek Sentia sambil melepaskan aura kultivasinya untuk mengetes kekuatan Fadil.


''Benar kakek, mohon restunya..'' ucap Fadil menundukan kepalanya sedikit.


Lancangg...


''Dimana sopan santunmu..'' teriak salah satu petinggi istana dengan nada tinggi.


swoooss.....


Aura jiwa emas tahap menengah menekan mereka semua sampai kesulitan bernafas, petinggi tadi sampai terjungkal kelantai, karna aura itu berfokus kearahnya.

__ADS_1


''Sangat kuat..'' batin kakek Sentia sambil menahan tekanan dari Fadil.


Fadil menarik kembali aura kultivasinya setelah melepaskan selama lima detik, dia melirik kearah petinggi itu, lalu berkata.


''Jangan pernah berteriak kepadaku..'' ucap Fadil acuh tak acuh.


Petinggi itu tampak pucat setelah menyadari telah salah menyinggung orang, dia menundukkan kepalanya dan kembali duduk.


''Maaf semuanya, tadi saya kelepasan..'' ucap Fadil santai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


''Sudah, tidak apa-apa anak muda..'' ucap sikakek mencairkan susana.


''Terimakasih kakek..'' ucap Fadil sambil tersenyum canggung.


''Mari duduk disini..'' ucap kakek Sentia, lalu mengajak Fadil duduk disebelahnya.


Sentia pun juga ikut duduk disampingnya Fadil, mereka mengobrol santai bersama, lalu ayah dan ibu Sentia juga ikut bergabung untuk mengobrol dengan Fadil..


...****************...


...----------------...


...****************...

__ADS_1


Bagaimana kelanjutan ceritanya, yuk ikuti terus novel ini biar tidak ketinggalan cerita seru lainnya. 😃


__ADS_2