
Zuzu membuka lemari Chelsea, lalu membalikkan kamera hpnya dan merekam apa yang sedang dilakukan Zack. Terlihat kalau Zack sedang memegangi dua buah botol obat kecil yang masih setengah isi pil nya.
"Apakah Chelsea sakit parah sampai ada dua pil obat yang berbeda, coba aku bawa satu persatu.. Chelsea pasti tidak akan menyadarinya." Gumam Zack dalam hati.
Zack mulai membuka dan mengambil satu bersatu pil yang berbeda dari dua wadah obat itu, ia memasukkannya kedalam kantongnya.
Chelsea seakan tak percaya apa yang telah dilihatnya tadi.
Zuzu kembali memperlihatkan beberapa bra dan cd milik Chelsea, Chelsea hanya terdiam membeku melihat tingkah laku Zuzu yang keterlaluan.
"Oh, bukannya ini bra milik Chelsea." Ucap Zuzu yang memperlihatkan bra biru berbintik putih yang terlihat besar.
Sontak Zack terkejut melihat bra yang di bawa Zuzu. Zack langsung menghampiri Zuzu dan mengambil bra tersebut, memastikan kalau yang dikatakan Zuzu itu salah. Sedangkan Chelsea hanya menahan malu melihat baju dalam nya di sentuh oleh Zack.
"Hmm~, ukuran bra ini adalah E.. seperti milik para siswi kuliah. Tidak mungkin kalau ini milik Chelsea." Ucap Zack yang melihat dan membolak-balikkan bra itu.
"Hah, kamu mengerti tentang ukuran cup wanita Zack?!." Pekik Zuzu yang mencoba meminta jawaban pasti.
Zack terkejut mendengar suara Zuzu, pipi Zack merah merona.
"A..aku hanya melihat iklan di hp.." lirih Zack yang memalingkan wajahnya dari hp Zuzu dan Zuzu.
Zuzu hanya menyelipkan senyuman geli mendengar hal itu, Zuzu mulai menambahkan bumbu keyakinan tentang bra milik Chelsea itu.
"Apa kau yakin itu tidak milik Chelsea, coba lihat yang merah ini.. ukurannya sama atau tidak?" Ucap Zuzu yang mengambil bra warna merah itu.
Zack hanya diam mengukur kesamaan dari bra warna biru tadi, ternyata hasilnya sama. "Sama ukuran E." Ucap Zack yang masih tidak percaya.
"Ini.." ucap Zuzu yang menyerahkan bra warna putih. Zack menerimanya.. Zack memastikannya lagi. Dia berkata sama tapi tidak yakin kalau bra itu milik Chelsea. Chelsea sangat-sangat merasa malu melihat Zack meraba dan mengukur semua bra miliknya.
Sampai bra yang terakhir berwarna putih dan abu abu, jawaban Zack tetap sama.
"Sudah 7 yang ada di tanganmu, dan semua berukuran E. Apa kamu masih tidak percaya?" Tanya Zuzu yang memastikan lagi.
"Warna putih dan abu-abu ini terlihat familiar waktu kemarin olahraga, sempat aku melihat wanita memakai bra ini. Apakah itu Chelsea?" Lirih Zack yang tak menyadari kalau dirinya masih direkam.
"Apa!, Kau mengintip Chelsea di ruang ganti wanita?!" Pekik Zuzu yang merasa tak percaya.
"Aku hanya melihat tubuhnya dari belakang, eh .. apa yang yang ku ucapkan?!" Ketus Zack yang menyadari apa yang di ucapkan.
"Dasar Zack cabul!.." goda Zuzu yang tertawa terbahak-bahak.
Pipi Zack merah merona, begitu juga dengan Chelsea.. mereka berdua sangat merasa malu.
"Apa kamu sudah mendapatkan gelang milik Mimi?" Ucap Zack yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
Zuzu langsung kembali melihat lemari pakaian Chelsea, ia melihat gelang sunflower ada di atas cd Chelsea.
Dengan sengaja Zuzu memperlihatkan cd Chelsea yang berwarna merah kepada Zack.
"Zack, lihat cd Chelsea ini.. berapa ukurannya?" Tanya Zuzu dengan polosnya.
Zack semakin tersipu malu melihat cd berwarna merah yang di bawa Zuzu, ia memastikan kalau cd merah itu satu set dengan bra merah milik Chelsea.
"Jangan memperlihatkan barang wanita di hadapanku!.." ketus Zack yang menaruh 7 cup itu di atas ranjang Chelsea.
Zack berlari tersipu keluar dari kamar Chelsea.
"Hahaha, apa kau puas dengan tingkah laku sahabat pria yang mencintaimu itu?!" Ucap Zuzu yang melempar cd Chelsea ke atas ranjang Chelsea.
Chelsea terdiam dengan wajah yang tak berdaya.
Mimi mengambil paksa hp yang di bawa Chelsea.
"Kerja bagus Zuzu, tak sia-sia aku berteman denganmu. Buang gelang itu dan ambil kembali semua kapsul itu." Ucap Mimi yang berjalan menjauh dari Chelsea.
"Baik nona." Ucap Zuzu yang mengambil kembali kapsul yang ada di botol itu.
Mimi mematikan Vidio call nya, dan Mimi berhenti sejenak dengan senyum sinis di wajahnya.
"Ini belum seberapa, ukuran bra akan menjadi gosip utama lelaki di kelas, dan tentang obat itu.. bersiaplah untuk yang terburuk dari jawabannya." Ucap Mimi yang berlalu meninggalkan Chelsea yang masih terduduk lemas.
Mimi berjalan menjauhi Chelsea, setelah Mimi tidak terlihat di mata Chelsea. Chelsea mulai berjalan perlahan..
__ADS_1
Tap.. tap.. tap..
Chelsea berjalan melewati jalan bagian timur yang menuju jalan pintas di belakang rumahnya.
Brukk!!!
"Ada yang jatuh?!" Ucap Chelsea yang mengawasi keadaan di sekitarnya.
Chelsea Melihat ada yang bergerak di balik semak-semak, tanpa pamrih Chelsea langsung menghampiri semak-semak itu.
Tap.. tap..
"Seseorang yang terluka!" Ketus Chelsea yang terkejut melihat seorang lelaki terbaring dengan luka di pinggangnya.
"To..tolong.. a..ku.." lirihnya yang tak bergerak.
"Aku harus menolongnya, aku harus membawanya pulang untuk mengobatinya."ucap Chelsea yang mulai membantu lelaki itu berdiri.
Chelsea memapah lelaki itu yang sepertinya sedang sekarat.
Matahari mulai terbenam, Chelsea mengunci pintunya lalu mencari kotak P3K di bawah kolong ranjang ayahnya.
Chelsea membantu melepaskan baju yang dipakai lelaki itu, baju yang dipakai lelaki itu seperti baju seorang bangsawan.
"Banyak darah di baju ini, tapi tidak ada bekas luka di punggungnya.. hanya ada luka sayatan lama yang sudah membaik." Ucap Chelsea yang merasa aneh.
Chelsea mencarikan baju atasan milik ayahnya.
"Hanya kemeja polos milik ayahku yang masih tersisa di lemari, ya sudah di pakai saja.." ucap Chelsea yang membantu memakaikan kemeja itu.
Setelah memakaikan kemeja kepada lelaki itu, Chelsea membaringkan tubuh lelaki itu.. menyelimuti tubuh lelaki itu. Chelsea langsung menyimpan kotak P3K di kolong bawah ranjang itu.
Chelsea menutup pintu kamar ayahnya, membiarkan lelaki itu beristirahat.
Kini dia menuju kamarnya, terlihat berantakan. Chelsea hanya mendengus kesal namun tetap bersabar menghadapi semua ini, Chelsea mulai merapikan bra miliknya yang berantakan.
Lalu Chelsea baru menyadari kalau di meja belajarnya ada 2 obat yang berbeda, dia mencarinya namun, tidak menemukan apapun. Chelsea tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi gosip besok.
Bruk~
Tengah malam pun tiba~
"Tidak!!!~" pekik Chelsea yang sontak terduduk terbangun di atas ranjangnya.
Chelsea mengusap kasar wajahnya, memutar kembali apa yang telah di mimpikan tadi.
"Huhh~, Mimi terlalu kasar sampai terbawa ke mimpiku. Hancur sudah reputasiku sebagai seorang gadis." Ucap Chelsea yang mulai beranjak dari ranjangnya.
"Aku mandi dahulu saja deh, siapa tahu hal itu hanya halusinasi ku saja." Ucap Chelsea yang mulai memilih baju.
Lelaki itu terbangun, memeriksa tubuhnya yang memakai kemeja polos murahan, ada seribu tanya di hati lelaki itu.. mencoba untuk berdiri, lelaki itu tampak tak memiliki tenaga untuk mencari sumber suara tadi.
"Sial!.. tenagaku terkuras habis karena pertarungan tadi." ketus lelaki itu dengan nada suara yang lemah.
Meski tak memiliki tenaga, lelaki itu tetap berjalan perlahan menuju kamar di sebelahnya.. yang tak lain adalah kamar Chelsea.
Saat sampai di kamar Chelsea ternyata tidak ada orang, namun.. ada sesuatu di balik kamar mandi Chelsea.
Suara air mengguyur tubuh seseorang, itu membuat lelaki itu ingin tahu siapa yang berani membawa pulang dirinya ke rumah yang kecil dan sepi itu.
Lelaki itu sudah sampai di depan pintu kamar mandi Chelsea, tangannya ingin membuka pintu kamar mandi, namun.. suara guyuran air sudah berhenti. Lelaki itu berhenti mengurungkan niatnya untuk membuka pintu itu. Tak lama dari diamnya lelaki itu, suara tangis Chelsea terdengar begitu merdu.
Hiks.. hiks..
Tangis Chelsea yang membuat hati lelaki itu terdiam terkesiap.
"Dia menangis?, Tapi kenapa!?" Gumam lelaki itu dalam hati.
"Kenapa?.. kenapa aku harus melalui ini sendiri?.. kenapa?... Aaaachh..." Teriak Chelsea yang sedang meringkuk bersandar di tembok itu.
Teriakan merdu Chelsea membuat lelaki itu terkesiap seribu tanya.
"Apakah dia sedang mengeluh di tengah malam begini?, Tapi kenapa?. Entahlah jika bertanya sekarang takutnya mood sedihnya berubah menjadi kesalahan pahaman dan menjadi serpihan duri di hati." Gumam lelaki itu yang berjalan menjauh keluar dari kamar Chelsea.
__ADS_1
Chelsea menangis sesekali berteriak tak bersuara keras, teriakan itu terdengar sampai di telinga lelaki itu, membuat lelaki itu lemah Tak berdaya.
Sementara di grup SMA 2-1.
"Ku dengar Zack tahu ukuran dada Chelsea.." pesan yang dikirim Mimi.
Melihat notifikasi dari Mimi gadis kaya di sekolah, semua para lelaki menjawab pesan yang dikirim Mimi di grup itu.
"Benarkah?"
"Apa yang dilakukan Zack?"
"Darimana kau tahu?"
"Berapa ukurannya?"
"Kapan itu terjadi?"
"Apakah itu benar Zack?"
"Jawab saja jangan malu.."
"Apa kau ingin menyimpannya untuk diri sendiri, Zack?"
"Mentang-mentang Zack Sabahat Chelsea jadi Zack rakus dengan ukuran dada Chelsea."
"Iya tuh.."
Zack yang tadi tertidur lelap terbangun karena ramainya grupnya, mencoba mengambil hp dan melihat isi grup itu.
Sontak ia terkejut membaca satu persatu isi grup itu, Zack mencoba menjelaskan kepada para teman lelakinya.
"Bukan begitu yang sebenarnya teman-teman." Pesan yang dikirim Zack.
"Lalu bagaimana?"
"Apa kau melakukan yang lebih?"
"Bagaimana situasinya?"
"Apa Chelsea tidak marah denganmu Zack?"
"Chelsea akan marah dengan Zack jika dia mendengar hal ini."
"Kukira Zack orang yang sensitif, apa Zack tidak merasa bersalah dengan Chelsea?"
"Aku tidak tahu ukuran dada Chelsea!"
"Aku hanya tahu ukuran cup milik Chelsea!" Pesan yang dikirim Zack.
"Haa..."
"Apa kau serius?!"
"Bagaimana kau melakukannya?"
"Apa kau menyelinap kerumah Chelsea?"
"Apa orang tua Chelsea tidak marah?"
"Berapa ukuran cup milik Chelsea?"
"Dasar cabul:c"
"Zack kau harus menjelaskan kepada kami besok, jika tidak mau menjadi gosip utama di sekolah!."
Zack hanya mendengus kesal membaca pesan terakhir.
"Baik, besok aku jelaskan. Asalkan kalian jangan membocorkan hal ini kepada kakak kelas kita." Pesan yang dikirim Zack untuk terakhir kalinya.
Zack memutuskan untuk keluar dari grup itu, dan memastikan hpnya sedang berada di mode off.
Zack menyesali apa yang telah tadi ia perbuat, Zack merasa dirinya telah dijadikan kambing hitam oleh Mimi gadis yang bikin jengkel itu.
__ADS_1
"Besok aku harus minta maaf kepada Chelsea karena ketidak sopanan ku tadi." Ucap Zack yang merebahkan tubuhnya dengan raut wajah yang sangat-sangat bersalah.