
Krak...
Krak...
Krak...
Suara ranting-rating yang patah semakin mempercepat lari seorang gadis. Ditengah larinya ia terus mengumpat mengutuk orang yang membuatnya harus melarikan diri. Di dalam hutan dengan tas punggung yang lumayan besar dan berat tak menyulutkan niatnya untuk berlari semakin masuk kedalam hutan.
"Dasar iblis betina! Ular berkepala dua! Lihat saja saat aku kembali kau akan kubuat mati konyol."
Beberapa kali gadis itu menengok ke belakang, sepertinya sudah tidak ada lagi yang mengejarnya. Gadis itu pun berhenti untuk sekedar merilekskan otot kakinya yang terasa tegang dan sedikit sakit.
Ssrrrreee.....
Lama termenung gadis itu mendengar suara air terjun, tampa pikir panjang ia segera mencari sumber suara itu. Dan benar saja sebuah air terjun setinggi 16 kaki sedang terpampang indah didepannya.
Saat sibuk mengisi air ke dalam botolnya, gadis itu mendengar suara langkah kaki mendekat.
Tak..tuk..tak...tuk..
Gadis itu bersembunyi ke dalam semak, takut jika itu adalah suruhan si iblis betina yang tak lain adalah ibu tirinya.
"Gue pikir siapa ternyata seorang kakek-kakek." Ucap gadis itu berjalan keluar dari semak membuat kakek berjenggot putih tebal itu terpaku menatapnya.
"Apa yang kau lakukan , nak?" Kakek itu bertanya.
__ADS_1
"Kabur, lalu bagaimana dengan kakek yang sudah terlalu tua ini? sendirian dalam hutan hem"
"Kau mengejekku, nak..."
"Tapi aku berkata benar bukan, jadi..?" Sanggah gadis itu tanpa merasa bersalah.
"Ini rumahku..."
"Maksudnya..."potong gadis itu.
"Hutan ini..."
"Kakek tinggal dihutan!" Potong gadis itu tak percaya.
"Aku dipaksa nikah sama pria yang gak aku kenal, lebih tepatnya aku dijual oleh ibu tiriku. Kau tau kek? Aku ini remaja 19 tahun, aku masih ingin melanjutkan kuliahku."
"Lalu kenapa kau lari kemari bukan ke kampusmu?"
"Itu masalahnya iblis itu membawaku paksa dari kampus, padahal cuma tinggal dua semester lagi aku akan lulus." Ucap gadis itu sendu mengenang nasibnya.
"Lalu sekarang kau mau kemana?"
"Ke tempat dimana aku tak bisa ditemukan oleh iblis itu."
"Kau ingin saran, nak?"
__ADS_1
"Tentu jika itu berguna." Timpal gadis itu.
"Siapa namamu nak?"
"Leesyiana Indiraja, tapi kakek cukup panggil aku Lee, saja!"
"Jadi nak Lee, aku akan menyarankan sebuah tempat denganmu yang bernama Indora, kau bisa kesana dengan dengan menyebrangi air tejun itu, disana kau akan tiba di Indora, tempat itu sangat indah kau akan sangat dibutuhkan disana, dokter Lee."
"Bagaimana kakek tau aku... ah tapi aku masih mahasiswi tingkat akhir, kek. Belum resmi." Tak percaya, bagaimana kakek itu tau ia bahkan tidak menyebutkan itu tadi dan mereka baru saja bertemu.
"Tapi kek kau yakin tempat itu di balik air terjun itu." Ucap Lee ragu menatap air terjun yang ditunjuk, kakek.
"Ambillah ini." Kakek itu memberikan sebuah kalung pada Lee. Entah kenapa Lee terlihat tak asing dengan kalung itu.
Lee mengambil kalung itu dan melingkarinya ke leher putih jenjangnya. Lalu ia berbalik akan meminta terima kasih tapi kakek itu sudah menghilang. Saat ia tengok ke depan terlihat air terjun itu membelah dan melihatkan sebuah goa ditengahnya. Di bawah mulut itu entah sejak kapan sudah ada tangga dari batu.
Sedikit ragu Lee menyeret langkahnya menaiki undakan tangga sambil menyandang tasnya.
Lama berjalan menyusuri goa, Lee akhirnya sampai diujung mulut goa, gadis itu bisa tahu saat cahaya terang diujung itu.
Lee keluar dari goa dan betapa kagetnya ia melihat pemandangan disekitarnya.
"Apa-apaan ini? Kakek itu mengerjaiku. Aku harus kembali!" Tegas gadis itu tapi saat berbalik bukannya melihat mulut goa. Gadis itu melihat seseorang sedang dicambuk dengan keji.
"KAKEK!!!"
__ADS_1