
Para penjabat dan menteri bersorak meminta hakim melengserkan kedudukan sang Ratu. Sementara Lee masih diam mematung tampa memperdulikan siapapun.
Tere dan Andi dan para dayang yang melayani Lee berdiri dengan cemas melihat majikannya yang diam saat dihakimi.
"Dasar wanita tidak tau malu bodoh. Apa lagi yang kau tunggu pergi! Pergi dari istana ini kau bukan lagi sang Ratu." Ucap Selir merah menarik lengan Lee namun ditahan Lee.
Plak...
Semua orang terkejut saat sebuah tamparan melekat dipipi mulus selir merah.
"Lancang sekali kau wanita bodoh. Siapa dirimu beraninya kau menampar putriku." Ucap penjabat Han menatap tajam Lee dangan telunjuknya mengarah pada jidad Lee.
"Aku hanya menampar pelacur yang tak tahu diri, kenapa? Apa aku salah?" Ucap Lee masih dengan sikap yang anggun bak Ratu namun terlihat tegas dan bijak.
"Apa kau bilang pelacur." Teriak Han menampar Lee namun ditahan Andi.
"Anda sudah kelewatan batas Tuan."
"Lepaskan tanganku pengawal rendahan." Ucap penjabat Han.
__ADS_1
"Apa apan ini. Bagaimana bisa kerajaan sekuat dan semakmur Indora mempunyai penjabat yang pembangkang dan tak hormat seperti ini." Ucap Lee memandang Rendah mereka yang mengejeknya.
"Anda berbicara soal status padaku penjabat Han. Tapi anda sendiri lupa akan status anda. Bagaimana mungkin kalian memperlakukan aku seperti ini. Aku Saina ratu negeri ini wanita nomor satu kerajaan Indora. Ibu dari rakyat. Namun dilecehkan oleh penjabat yang seharusnya melindungi keluarga kerajaan. Sungguh menyedihkan hukum di kerajaan ini." Teriak Lee.
"Yang mulia Ratu." Tere tak sanggup berkata.
"Kalian seharusnya malu pada diri kalian sendiri. Bagaimana bisa kalian mengusirku tanpa kehadiran suamiku. Raja kalian masih menghilang tapi kalian malah berusaha mengusirku. Dan apa yang kalian bilang menganiaya wanita Raja." Ucap Lee tak percaya.
"Akulah wanita raja yang kalian lecehkan. Ingat aku masih seorang Ratu. Dan Hakim apa boleh saya bertanya?"
"Ya...yang mulia ratu te..tentu." ucap hakim gugup.
"Mengurus istana dalam, dan melayani sang Raja."
"Benar mengurus istana dalam. Tentu aku berhak menghukum bagi siapapun yang tidak disiplin diistana ini termasuk selir yang kurang ajar dan tak memiliki sopan santun."
"Ya yang mulia itu sudah menjadi tugas Anda."
"Lalu apa hukuman bagi orang yang berani mengejek dan melecehkan sang Ratu. Bukankah mereka berhak dihukum penggal?"
__ADS_1
"Ya yang mulia. Sesuai peraturan bagi siapapun yang menghina dan melecehkan keluarga kerajaan apalagi ratu dan raja wajib dihukum penggal." Terang Hakim.
"Kau dengar itu penjabat han. Seharusnya aku menghukum putrimu penggal kepala. Tapi karena kebaikanku dan mengingat ia pernah melayani Raja yaitu suamiku, aku hanya menghukumnya 100 cambukan. Dan seharusnya kau juga dihukum penggal karena telah tidak hormat dan menuduhku Ratu dari kerajaan ini." Tegas Lee.
"Ini mungkin salahku karena terus diam saat kalian sudah kelewatan batas. Tapi tidak kali ini. Kalian semua ingat ini aku Ratu Saina tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berani melewati batasannya. Dan aku tidak segan menghukum siapapun yang tidak disiplin di istana dalam ini baik itu pengawal, dayang, penjabat, menteri selir bahkan putri sekalipun. Tidak ada kompensasi bagi pelanggar aturan." Teriak Lee dengan tegas membuat semua diam dan tergkagum.
"Andi! Rio! Bawa penjabat Han ke ruang introgasi berikan ia hukuman sesuai aturan yang ada. Dan selir Merah kau sudah salah besar berusaha menamparku. Hukum wanita jalang ini 500 cambukan."
"Baik yang mulia Ratu." Patuh Andi dan Rio.
"Apa yang kau lakuakan lepaskan Ayahku, jangan hukum dia. Kumohon lepaskan Ayahku yang mulia Ratu." Ucap Selir merah meronta dipegangan para dayang.
"Jangan hukum penggal Ayahku aku mohon Ratu."
"Bawa selir merah dari sini!" Perintah Lee.
****
Setelah kejadian di ruang sidang tak ada lagi yang berani meremehkan Ratu. Semua akan menunduk hormat dan tak berani menatap Ratu saat sang Ratu berjalan di depan mereka.
__ADS_1
Sudah tiga hari semenjak sidang terjadi. Sekarang Lee bertugas menggantikan tugas Raja selama Raja belum ditemukan. Lee benar-benar pusing membaca semua petisi maupun memeriksa upeti-upeti dari daerah. Belum lagi masalah kenegaraan lainnya. Bahkan dua hari ini ia harus rela tidur dini hari.