Kutukan Indora

Kutukan Indora
Kiss


__ADS_3

    Sudah lima hari semenjak kedatangan Tere dan Andi. Semenjak itu Lee selalu berpikir atas semua tindakan yang ia lakukan.


Apa benar telah melakukan kesalahan besar? Apa aku penyebab petisi itu? Apa aku penyebab kekacauan negeri ini hingga menghilangnya sang Raja.


     Di sebuah kamar berukuran kecil,  Gion telah duduk bersandar ditepian ranjang. Biasanya Lee akan datang mencek kondisinya atau waktunya penggatian perban dan membersihkan lukaanya.


Krekk...


     Pintu terbuka melihatkan seorang gadis berambut pirang nan cantik dengan sebuah nampan yang terdapat panci kecil berisi air dan sebuah kotak yang Gion tahu itu bersi obat-obatan dan beberapa perban.


"kau telat tabib Lee." Gion mengingatkan.


"Maaf, apa sekarang anda sudah merasa baikan panglima Galih."


     Lee tahu identitas pasiennya itu saat pria itu memergokinya bicara dengan dayang Tere dan Andi. Lee sama sekali tak menyangka ternyata dia telah menolong sang pengawal setia raja. Padahal ia selalu bersembunyi dari semua orang yang berasal dari istana.


"Sangat baik karena kau yang merawatku, tabib Lee." Ucap Gion tersenyum.


"Tuan saya masih merasa saya pernah melihat anda." Ucap Lee berusaha mengingat.


"Kenapa kau selalu bertanya tentang itu, tentu kita pernah bertemu aku kan pengawal Raja dan kau pernah menjadi ratu."


"Tidak aku rasa bukan tapi wajah anda..."


"Kau ingin mengobatiku atau akan terus berpikir seperti itu."


"Baiklah."


    Dengan perasaan masih gelisah Lee bergerak mendekati Gion. Tangan Lee  melingkari pinggang Gion bergerak memutar perban satu persatu hingga perlahan terlepas.


     Setiap melakukan hal itu entah kenapa Lee selalu merasa suhu tubuhnya naik 180 derajat. Jarak diantara mereka yang sangat dekat. Lee dapat merasakan hembusan nafas pria itu dikeningnya.

__ADS_1


    Waktu seakan melambat saat Lee berada sangat dekat dengan pria itu. Rasanya Lee mau pingsan saja apa lagi melihat otot-otot kekar pria itu. Apa lagi saat tangannya tak sengaja memegang dada yang sispack itu untuk mengobatinya benar-benar membuat Lee gila.


Tenang Lee sebentar lagi selesai. Kumohon tenanglah...


"Kau tak apa, tabib Lee?" Gion mengangkat dagu Lee agar menatapnya.


Tampan bahkat sedekat ini dia lebih tampan sangat sangat tampan


"Lee!"


"Tampan!"


"Kau bilang apa?" Gion bertanya.


"Ohh... tidak gue... maksudku oh.." lee gugup.


"Aku tak berkata apa-apa." Lanjut Lee meyakinkan.


*****


    Siang ini Lee berlatih memanah, sedari dulu ia memang ingin memanah. Tapi di tahun 2019 siapa juga yang suka memanah. Semua remaja sepertinya lebih suka berdandan menari apalagi dance.  Kalaupun senjata mereka lebih suka pistol, atau samurai, anggar dan olahraga beladiri. Tak ada yang memanah dizaman modern ini.


     Sebenarnya siang ini Panji akan melatinya memanah. Tapi pria itu memiliki pasien dadakan jadi disinilah Lee. Halaman belakang memanah sendiri tanpa pelatih maupun pengalaman memanah.


Shreettt....


Shreettt. ..


Shreettt. ..


     Sudah yang ke dua puluh, tapi tak ada satupun yang menancap dipapan berlingkaran merah dan hitam itu.

__ADS_1


"Ahh... ini tak berhasil, aku memang bukan pemanah handal."  Ucap Lee dalam keadaan lelah dan pasrah. Lee menggoyang goyangkan busurnya malas.


" lebih mudah menjahit atau membedah tubuh manusia dari pada ini." Ucap Lee kecewa dengan peluh yang telah membasahi wajah dan tangannya.


"Kau mengerikan tabib Lee" tangan Lee yang memegang busur terangkat kedepan.  Seseorang memegang pergelangan Lee.


    Reflek Lee menengok ke belakang, menemukan Galih (gion)  berada tepat didepannya bahkan jarak wajah mereka sangat dekat karena pria itu sekarang tengah merapatkan tubuhnya ke punggung Lee bahkan kedua tangan pria itu sudah bergerak mengintrusikan kedua tangan Lee untuk mengambil posisi memanah.


"Kau tak akan bisa memanah jika terus menatapku seperti itu nona." Ucap Gion membuat Lee langsung menghadap kedepan dengan rona merah dipipinya.


    Lee dapat merasa nafas pria itu di tengkuknya. Karena saat ini pria itu mendekatkan wajahnya lebih maju kedepan.


"Kau harus menarik busur ini, seperti ini dan fokuslah pada targetmu. Ya.. seperti itu... da...n lepas." Instruksi Gion pada Lee. Dan benar saja panah itu menancap tepat pada sasaran.


     Lee meloncat kegirangan karena keberhasilan pertamanya. " aku berhasil... haha... aku benar-benar berhasi... aku berhasi Galih yey.... hore..."


    Lee sangat senang tanpa sadar sudah memeluk Galih dan melompat-lompat hingga berkali-kali mencium pipi pria itu.


     Gion tak bisa berkata ia sangat syok dengan perlakuan gadis didepannya itu. Bahkan tubuhnya kaku saat gadis itu beberapa kali menciumnya dan melompat-lompat dipelukannya. Gion dapat merasakan tubuh mereka saling bergesekan.


    "Terima kasih Galih terima kasih. Hah akhirnya impianku terkabul. terimakasih." Ucap Lee terus mengulang.


   Entah kenapa ada persaan hangat dihati Gion. Tampa sadar ia sudah tersenyum menatap gadis yang didepannya itu.


     Sadar akan perbuatannya Lee segera menjauhkan wajahnya dari pipi Gion. Berjalan mundur melepas tangannya yang melingkar di pinggang pria itu.


"Maaf... ak..aku tak akhhh.." Gion menarik pinggang Lee hingga tubuh mereka saling membentur.


    Lee menatap terkejut pria itu hingga tatapan mereka saling bertemu. Gion semakin mempererat tubuh Lee mendekatinya. Tangannya yang satu lagi bergerak mengangkat dagu Lee. Dan perlahan wajah Gion mendekati wajah gadis itu.


     Lee yang tanpa sengaja mencengkram bahu Gion erat memicingkan matanya. Berharap ini hanya mimpi hingga ia meresa sesuatu yang basah dibibirnya.

__ADS_1


   Bibir Gion telah menempel dibibir Lee dan berusaha memasukinya, Tapi Lee hanya diam tanpa bereaksi. Gion terus berusaha hingga ia sedikit menggit bibir merah muda yang sangat manis itu. Tanpa sadar Lee pun membuka mulutnya hingga mereka saling berciuman dengan lembut. Ada perasaan nikmat yang dirasa Lee. Rasa yang tak pernah ia rasakan selama hidupnya rasa yang cukup membuat jantungnya meledak.


__ADS_2