
Seminggu berlalu semenjak menghilangnya sang Ratu. Sudah banyak prajurit rahasia disebarkan untuk mencari ratu secara diam-diam tapi tak kungjung ditemukan.
Giondra si raja muda itu pun memutuskan untuk mencarinya sendiri bersama sang pengawal setia, Galih.
Maka disinilah mereka di dalam hutan Indabar. Karena hanya ini satunya tempat yang belum mereka cari. Besar kemungkinan sang Ratu berada disini.
Hari mulai gelap saat sang Raja memasuki hutan. Mereka pun memutuskan untuk berkemah dihutan itu.
"Apa anda lapar yang mulia?"
"Menurutmu?" Ucap Raja agak ketus.
"Hamba akan mencari air dan makanan dulu. Sebaikanya yang mulia beristirahat!" Saran Galih berlalu.
Krak...
Tak berapa lama Galih pergi, Gion mendengara suara ranting patah yang disusul suara raungan.
Gion terkejut melihat seauatu didepannya. Ia segera menarik pedangnya saat seekor harimau akan mencengkeramnya.
Dengan cekatan Gion bertarung melawan harimau itu. Ia sempat beberapa kali terguling, hingga pedang tajamnya menusuk perut harimau itu. Tapi sebelum tumbang harimau itu berhasil mencakar kuat dada Gion hingga bajunya robek dan berwarna merah akibat darah.
Perlahan Gion mulai mersakan pusing. Badannya serasa remuk akibat bertarung dengan harimau besar yang telah tewas itu. Hingga Gion pun jatuh pingsan.
Dua orang gadis dan seorang pria tengah berjalan memasuki hutan. Mereka baru saja selesai belanja bahan makanan dan obat-obatan di pasar.
Langkah mereka terhenti saat mendengar suara raungan disalah satu sisi hutan. "Kalian dengar itu?" Tanya salah satu gadis.
"Suara harimau!" Ucapa gadis yang satu lagi.
"Sudah abaikan!" Ucap sang pria.
"Akh...!" Teriakan seseorang.
__ADS_1
"Sepertinya ada manusia!" Ucap gadis berambut pirang berlari ke arah sumber suara.
"Lee kau mau kemana?" Teriak gadis berambut kepang.
"Lee kembali hari mulai gelap!"
"Aku harus menolong seseorang!" Teriak Lee telah berlari menjauh. Terpaksa kedua orang yang bersamanya itu pun ikut menyusul.
"Oh tuhan!" Ucap kedua teman Lee terkejut melihat hariamau yang telah terkapar.
" apa dia sudah mati, Panji?" Tanya gadis berkepang.
"Sepertnya sudah Rin."
"Sudahlah jangan hiraukan harimau itu, sebaiknya kalian menolongku membawa pria ini. Sepertinya ia terluka parah." Ucap Lee memeriksa luka pria asing yang tengah pingsan itu.
*****
"Apa dia masih belum sadar?" Tanya Rina pada Lee. Lee menatap pria tampan yang tengah pingsan itu, rasanya ia pernah melihat pria itu. Tapi entah dimana ia lupa, mungkin ia akan menyakanya saat ia sadar.
"Rin aku boleh minta tolong, gak?"
"Apa?"
"Jagain dia dulu ya, aku mau ke tenpat Bapak. Kasih obat buat ibu." Terang Lee mengambil sebungkus obat yang telah ia siapkan.
"Nanti kalau ada pasien yang datang gimana?" Tanya Rina mengingat rumah pak Kades yang lumayan jauh.
"Nanti Panji bakal datang, katanya jam sepuluh. Sementara itu kamu atasi aja sendiri dengan caramu, ok."
Sementara itu didalam hutan, Galih sangat panik menemukan seekor harimau tergeletak mati ditanah. Namun ia sama sekali tak menemukan majikannya membuat ia sangat khawatir.
Seharian ia mencari-cari sang raja junjungannya. Tapi sama sekali tak ada petunjuk. Galih pun memutuskan untuk kembali ke iatana. Mungkin saja sang Raja telah kembali.
__ADS_1
Seorang pria bertelanjang dada dengan balutan kain kasa menempel ditubuhnya, perlahan matanya terbuka. Silau itulah yang ia rasakan.
Saat akan duduk dadanya terasa panas dan meregang. "Tuan sudah bangun? Berbaringlah jahitannya belum kering. Luka anda bisa saja terbuka kembali." Terang Rini membantu pria itu kembali berbaring.
Sungguh tampan. Bahkan saat matanya terbuka. Wah.. ototnya pun sangat-sangat keras sungguh indah.
Puji Rina yang terpesona akan paras pria asing yang ia dan temannya selamatkan.
"Dimana ini?" Tanya pria yang tak lain Gion. Suara bas berat itu terdengar lemah menahan sakit.
"Desa Sumba tuan, kalau boleh tau tuan ini siapa? Dan hendak kemana?" Tanya Rina.
"Saya dari ibu kota, saya sedang mencari seseorang. Hmn.. terima kasih saya akan membalas budi anda."
"Tidak tuan, saya tak berhak. Teman sayalah yang menolong dan mengobati tuan." Terang Rina mengingat Lee.
"Jadi bukan anda?" Tanya Gion.
"Bukan tuan, saya hanya menjaga anda. Sementara teman saya pergi."
"Tempat apa ini?" Tanya Gion saat melihat sekeliling ruangan yang dipenuhi pajangan obat obatan dan beberapa tempat tidur berukuran kecil.
"Ini klinik, teman-teman saya yang mengurusnya."
"Klinik?" Tanya Gion merasa aneh mendengarnya.
"Ya klinik, yang Lee bilang seperti tempat atau balai pengobatan." Terang Rina antusias.
"Rina! Rina! Kau dimana?" Suara bariton seorang pria berjalan memasuki ruangan pasien.
"Rina! Kau ini ku panggil-panggil gak nyahut." Ucap Panji kesal.
"Kau tak lihat aku lagi ngurus pasien." Melirik ke arah Gion.
__ADS_1
"Oh dia sudah sadar. Tapi sekarang aku butuh seorang asisten, kita dapat pasien darurat di rumah pak Dito."