
"Apa kau sudah mengabari raja tuan?"
"Panglima Galih sudah menjeput yang mulia kemarin, sekarang bagaima dengan yang mulia Ratu?"
Seorang Dayang dan pengawal itu menatap Lekat seorang gadis yang tengah terlelap diruang kerja sang Raja. Ia terlelap dengan wajah lelahnya. Karena sudah dua hari ia tak tidur.
"Sebaiknya kita pindahkan yang mulia Ratu ke kamarnya." Ucap Tere.
Andi pun bergerak mendekati kursi tempat Lee tertidur. Perlahan tampa membangunkan Lee Andi mengangkat tubuh ramping itu hati-hati. Ringan seperti kapas dan sangat wangi pikir Andi.
Baru kali ini Andi berada sangat dekat bahkan menyentuh Lee. Sungguh ini membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Brak...
Seorang pria masuk dengan tergesa-gesa yang didampingi sang pengawal setia. Pria itu menatap tajam Andi.
"Yang mulia!" Kejut Tere dan Andi.
"Apa yang kau lakukan? apa yang terjadi padanya." Teriak Sang Raja marah bercampur kwatir menarik paksa tubuh Lee dari gendongan Andi.
"Ratu tidak apa-apa yang mulia Raja. Ratu hanya kelelahan hingga tertidur diruang kerja anda. Jadi saya menyuruh pengawal Andi untuk membawa ratu ke kediamannya." Terang Tere.
"Tapi tetap saja pengawal ini tak boleh menyentuh Ratu. Sekarang kalian pergilah aku akan membawa Ratu ke tempatku." Ucap Gion lalu pergi mengendong Lee.
"Tapi..." belum sempat Andi dan Tere melarang Galih sudah menghadang mereka. Mereka hanya bisa pasrah melihat sang Raja membawa Lee.
"Bagaimana ini, kita harus mencegah yang mulia." Ucap Andi panik.
"Itu sudah menjadi takdir Lee." Ucap Tere.
"Tapi kau tahu Lee bukan Ratu. Jadi mereka tak memiliki hubungan apapun. Jika Lee sadar ia pasti sangat marah."
"Bukankah kau yang akan marah Tuan, kau menyukai Lee bukan. Sudah aku katakan lupakan keinginanmu itu. Lee adalah wanita Raja. Raja tak perlu melakukan ritual apapun untuk menjadikan wanita miliknya. Dan satu lagi Lee sudah ditakdirkan menjadi milik Raja dan aku lihat Raja juga menyukai Lee."
****
"Apa kau marah padaku Lee? Kenapa kau menghindar bahkan pergi tanpa pamit padaku Lee? Apa aku sudah melakukan kesalahan padamu?"
__ADS_1
Gion memandang wajah tidur gadis itu. Gadis dengan hanya beberapa hari mampu mengoyak perasaan kaku dan dinginnya.
"Ma..! Mama! Jangan pergi ma! Mama...mama." Lee menggigau dalam tidurnya, bahkan peluh membasahi wajah Lee. Lee terlihat pucat membuat Gion yang sedari tadi duduk menatap Lee mulai panik.
"Lee kau tak apa lee? Lee! Bangun Lee."
"Mama.. mama... MAMA!" Teriak Lee langsung terduduk dengan tangan seakan meraih sesuatu didepan.
"Lee kamu tak apa?" Lee menoleh ke sumber suara.
"Galih." Lirih Lee lalu memeluk Gion dengan erat.
"Mama, Lih. Mama pergi ninggalin aku Galih." Tangis Lee dalam pelukan Gion. Gion mengelus elus pundak Lee agar gadis itu tenang.
Matahari sudah mencapai puncaknya. Bahkan cahaya sudah menembus dinding kokoh istana Indora. Namun sepasang anak manusia itu masih terlelap dalam pangkuan orang terkasihnya.
"Sudah delapan jam saat yang mulia raja kembali. Tapi kenapa mereka belum juga bangun Tuan." Tanya Tere khwatir pada Galih.
"Tenanglah Nona, Ratu itu sedang bersama suaminya. Kenapa anda sepanik itu." Ucap Galih yang tak tahu siapa Lee. Sementara Tere semakin cemas bagaimana kalau lee sangat marah mengetahui ia tidur dengan raja. Bisa-bisa gadis itu kabur lagi.
"Aku akan mengurusnya. Lebih baik anda kembali ke kediaman Ratu. Saya akan memanggil Anda saat Ratu bangun nanti." Perintah Galih.
Mau tak mau Tere beserta para dayang Ratu lainnya pergi dari bangunan utama.
"Wah.. sepertinya raja dan ratu bergadang semalaman." Ucap Lia yang langsung ditatap tajam Tere.
"Ah mulut ini benar-benar tak bisa bekerja sama." Ucap Lia menepuk Bibirnya membuat para dayang lainnya tertawa.
Di kamar sang Raja Lee sudah bangun sedari tadi. Bahkan ia mendengar perbincangan dayangnya dengan pengawal sang Raja.
Namun ia sama sekali tak berani bergerak. Karena takut membangunkan pria yang dikiranya sang Raja itu. Bahkan Lee tak berani melihat wajahnya. Entah bagaimana Lee sangat bingung setahunya semalam ia menangis dipelukan Galih.
"Ya galih bukankah aku semalam dengan Galih. Tapi kenapa mereka bilang aku dengan Raja."
"Akh..." pakik Lee terkejut saat sebuah tangan kekar memeluknya erat hingga punggunya bisa merasakan tubuh kekar dibelakangnya.
"Kau sudah bangun Lee." Ucap pria itu.
__ADS_1
Suara itu aku sangat kenal suara itu
Masih dalam pelukan pria itu Lee memutar tubuhnya hingga mereka sekarang berhadapan.
"Galih... kau..." kejut Lee menutup mulutnya.
Gion menarik Lee semakin dekat hingga tak ada jarak antara tubuh mereka selain sutra yang mereka pakai.
"Apa yang kau lakukan disini, galih? Kau bisa dihukum jika ketahuan tidur denganku." Ucap Lee pelan menyadarkan pria yang dianggapnya Galih sang pengawal Raja.
"Tak ada yang akan berani menghukumku Lee. Sebaiknya kau kembali tidur, kau sangat lelah menggantikan tugasku selama tiga hari ini."
"Apa yang kau bicarakan Galih. Kau bisa dihukum. Saat ini aku bukan Lee. Tapi Ratu negeri ini kita bisa dihukum pegal jika ketahuan selingkuh." Ucapnya berusaha bicara sepelan mungkin.
"Selingkuh?" Tanya Gion tersenyum miring.
"Ya."
"Jadi kau mengakui aku sebagai kekasihmu?" Selidik Gion lagi.
"Ke...keasih... a..apa yang kau bicarakan kita hanya.."
"Kau bilang kita selingkuh. Bukankah itu artinya kau mengakui aku sebagai kekasihmu." Cup... Gion mendaratkan sebuah ciuman dibibir Lee singkat.
"Apa yang kau..." Gion kembali mencium bibir Lee. Kali ini sangat lama.
"Apa kau menagkui aku sebagai kekasihmu Lee?" Tanya Gion lagi. Saat Lee sudah duduk ditepi Ranjang memberi jarak diantara mereka.
"Itu tak mungkin Gal..."
Gion menarik tangan Lee hingga tubuh gadis itu membentur tubuhnya. Perlahan wajahnya mendekat ke wajah Lee.
"Apa kau tak menyukai aku Lee?" Tanya Gion terus mendekatkan wajahnya.
"Ta..tapi Gal..."
"Diamlah."
__ADS_1