Kutukan Indora

Kutukan Indora
Neraka?


__ADS_3

   Perempuan berpakaian lusu dengan tubuh bersimpah darah yang telah berubah warna menjadi kehitaman. Perempuan itu terus dicambuk berkali-kali, ia terlihat sangat sekarat.


   Sedangkan orang-orang sekitar hanya diam menonton kejadian itu. Tak satupun dari mereka yang iba dan menghentikan adegan cambukan itu.


"Ini akibatnya kalian melawanku. Siapapun yang berani menentangku akan bernasib sama dengannya." Tegas seorang pria paruh baya berpakain sutra mahal seperti di film kerajaan.


"Cambuk terus perempuan itu hingga ia mau berlutut dan mohon ampun padaku." Perintah pria itu lagi kepada algojo pemegang cambuk.


"HENTIKAN!" Seseorang gadis menembus kerumunan. Semua orang beralih menatapnya, bukan karena pakaiannya yang aneh, bukan karena tas ransel yang disandang gadis itu.


Juga bukan karena sepatunya yang aneh namun indah.


   Tapi karena keberanian gadis itu bersuara menghentikan tidakan kekerasan yang tak manusiawi itu.


"Lo tuli ya? Gue bilang hentikan brengs*k. Kau pikir ini negara nenek moyang lo menghukum seseorang tampa ulas kasih." Cerocos gadis itu yang membuat semua bingung dengan kata-katanya.


"Dan lo, udah bangkotan masih aja nyiksa orang, perempuan lagi. Dasar banci lo!" Omel gadis itu.  Walau tak sepenuhnya mengerti, pria tu itu tahu gadis ini sedang marah dan mengata-ngatainya.


"Kamu ingin bernasib sama dengannya anak manis?" Ucap pria itu menatap tajam gadis berpakaian aneh itu.

__ADS_1


"Tidak, sebaliknya kau. Apa kau ingin tepar hingga jatuh pingsan." Lotot gadis itu tak kalah tajam.


"Kau menantangku nona?"


"Menurutmu?"


    Di Istana seorang pengawal berlari menemui kepala pelayan.


"Kau yakin itu Ratu?"


"Aku sangat yakin nona. Walau ratu berpakaian aneh, tapi aku bisa mengenali wajahnya."


"Baiklah suruh orang menyiapkan kereta Ratu dan katakan kepada kepala pengawal menysulku ke alun-alun."


"Akhrinya aku menemukanmu Ratu. Semoga kau baik-baik saja." Harap kepala pelayan.


   Sebuah tandu sudah diangkut keluar istana dengan beberapa pengawal dan pelayan.


    Sejenak orang-orang di alun-alun menatap tandu itu, lalu kembali bergeming. Tak ada satupun yang menunduk maupun memberi hormat pada pemilik tandu itu. Walau mereka tahu kalau pemilik tandu itu adalah Wanita nomor satu di kerajaan Indora ini.

__ADS_1



    Lee sungguh tak menyangka ia akan tiba disebuah negeri asing yang terlihat bagai neraka. Nerakakah nama tempat ini?


    Tak ada toleransi, tak ada Ham tak ada aturan. Mereka melakukan semua seenak mereka. Seperti hukum rimba yang kuat itu bertahan.


    Lee sudah tak kuat menahan ketidak adilan dimatanya. Bagaimana mungkin perempuan seorang makhluk tuhan yang lemah dicambuk ganas oleh pria berotot.  Seratus kali lebih kuat dari perempuan itu.


    Lee mencoba menghentikannya, tapi si pria tua bos dari algojo itu malah menentangnya. "Jika kau ingin gadis itu selamat langkahi dulu algojoku." Ucap pria itu menyuruh algojo yang sedang mencambuk itu berdiri didepan Lee.


"Baiklah." Ucap Lee penuh percaya diri.


   Saat algojo itu hendak memukulnya, Lee mengeluarkan sebuah alat dan menyentuhkannya pada lengan algojo itu. Algojo itupun tegang-tegang karena tersengat listrik hingga pingsan.


    Semua rakyat terpana akan kehebatan gadis bertubuh semampai itu.  "Wah.. dia hebat."


"Gadis itu luar biasa."


"Dia mengalahka algojo itu."

__ADS_1


 


    Semua rakyat pun bersorak Sorai dengan gembira.


__ADS_2