Kutukan Indora

Kutukan Indora
Sidang 2


__ADS_3

     Sudah dua hari semenjak adegan Kiss itu. Dan Lee terus menghindari Galih bahkan ia menyuruh Panji atau Rina menggantikannya mencek keadaan pria itu. Lagi pula pria itu sudah membaik pikir Lee.


    Diruangannya lee sibuk membolak balikan bukunya. Bukanya ia membaca buku itu. Lee hanya membolak baliknya asal dan terus melamun.


Kau bodoh Lee apa yang kau lakukan dengan pria itu, hah. Harusnya kau mencari cara keluar dari tempat ini bukannya bermesraan mencari cinta seorang pria. Ingat prinsip hidupmu Lee tak ada namanya pria, cinta atau apalah namanya itu.


"Maafkan sikapku padamu Lee." Seseorang muncul dari balik pintu.


"Tere! Tidak tere kau benar aku sangat egois. Maafkan aku Tere."  Ucap lee berjalan mendekati Tere lalu memeluk dayang itu.


"Sungguh aku tak bermaksud menghancurkan kerajaan ini, a..aku aku hanya takut aku tak bisa menolong kerajaan ini Tere. Aku belum siap memberikan tubuhku sebagai pengorbanan untuk kutukan itu."  Lee menangis dipelukan Tere.


"Aku tau pasti itu sangat menyakitkan. Tapi Lee kali ini aku mohon selamatkan ratu Saina selamatkan kerajaan ini. Raja masih menghilang dan saat ini istana kosong tanpa seorang pemimpin."


"Aku mohon kembalilah ke istana dan hadiri sidang itu. Aku yakin kau bisa melakukannya ku muhon demi rakyat negeri ini. Kau tak inginkan ada ketidak adilan lagi menimpa para rakyat lemah itukan."  Mohon Tere akan bersujud namun ditahan Lee.


"Aku janji setelah sidang kau boleh pergi kemana pun kau mau jadi aku minta pa...."


"Baiklah aku akan kembali. Tapi hanya untuk menghadiri sidang setelah itu aku tidak akan lagi berpura-pura menjadi ratu."  Pinta Lee.


"Terima kasih Lee, aku akan menjemputmu besok dengan tandu."


"Tidak kita berangkat sekarang." Lee pun segera mengemas barang-barang berharganya dan memasukkannya ke dalam ranselnya.

__ADS_1


      Selesai Lee pun keluar disana sudah ada dua kuda. Satu ditunggangi Andi dan satu lagi mungkin Tere. Pikir Lee.


"Kau bisa berkuda Tere?"


"Ya sedikit." Jawab Tere.


"Bolehkan aku menunggangi kudamu Tere."


"Tapi yang mulia." Ucap Andi mencegah Lee.


"Ku mohon Andi, kali ini saja ya. Tere kau bersama Andi saja." Ucap Lee sudah naik ke punggubg kuda.


     Dari kecil Lee sangat menyukai kuda. Setiap liburan sekolah Lee selalu meminta Daddy nya untuk berlibur ke pacuan kuda. Karena itu Lee sangat lincah dalam berkuda.


"Dia benar-benar mengagumkan." Guman Andi.


"Jangan bilang kau menyukainya, ingat dia adalah wanita sang Raja." Ucap tere mengingatkan Andi akan statusnya.


"Tapi dia bukan Ratu."


"Kau lupa dia adalah bunga waktu. Dia wanita sang Raja. Bahkan Raja rela tinggal diklinik kecil itu untuk bersamanya."


"Itu karena raja kira dia adalah Ratu."

__ADS_1


"Tidak kau salah, Raja mendekatinya karena memang seharusnya begitu. Mereka sudah ditakdirkan berdua. Jadi jangan macam-macam Andi. Ini saranku padamu."


*****


      Balutan gaun sutra berwarna biru membalut anggun tubuh ramping nan semampai itu. Kulit putih lembut bak porselin terlihat bersinar dengan tatanan bunga melingkar dikepangan surai pirang yang panjang nan mengkilau.


     Lee terlihat sangat cantik dengan gaun itu. Tapi sama sekali tak ada tatapan memuji dari orang sekelilingnya. Semua menatapnya tajam. Ya saat ini Lee berdiri di tengah ruang persidangan. Di sisi kiri dan kanannya terdapat jejeran para menteri dan penjabat . Sedangkan didepan singgasana berlambang naga tengah kosong ditinggal pemiliknya. Disamping singga sana terletak dibawah altar tinggi terdapat jejeran selir yang duduk dibalik tirai kuning nan trasparan.


"Baikala sidang kita mulai." Ucap hakim yang memimpin jalannya sidang.


"Sesuai dengan petisi yang ditulis para penjabat ingin yang mulia Ratu digulingkan dari kursinya karena telah melakukan penganiayaan terhadap para selir Raja." Terang sang hakim.


"Sebelum membuat keputusan saya ingin yang mulia Ratu menyatakan alasan atau pendapatnya. Apa benar yang mulia menganiaya para delir Raja."


"Apa yang anda lakukan hakim ? Tak ada gunanya bertanya jelas-jelas Ratu bersalah karena telah menganiaya wanita raja. Yang dengan senang tiasa melayani sang raja."


"Ya benar kata penjabat Han. Ratu bersalah karena menganiaya wanita raja sama halnya dengan menganiaya Raja sendiri." Tambah penjabat Budi ayah dari selir merah.


"Ya betul, gulingkan sang ratu gulingkan." Semua penjabat dan menteri sebelah kiri menyatakan pendapatnya.


     Sedangkan penjabat sebela kanan yang merupakan kubu berlawanan, hanya dia mengamati. Mereka tidak membela maupun memojokan. Jika mereka mendukung para penjabat dan meteri kiri sama saja bersatu dengan musuh. Itu tak mungkin.  Tapi jika membela Ratu Saina yang bodoh dan tak dihormati rakyat bahkan sang Raja percuma saja tak menghasilkan apapun. Jadi mereka hanya diam sebagai penonton dan mengamati.


"Yang mulia jika anda tidak menjelaskannya juga terpaksa anda harus meninggalkan istana ini."

__ADS_1


"Apa lagi yang ditunggu gulingkan wanita itu." Ucap penjabat yang merupakan ayah para selir hijau, biru dan merah.


__ADS_2