Kutukan Indora

Kutukan Indora
Ramalan Penangkal Kutukan


__ADS_3

   Kakek Joti membawa Lee ke sebuah ruangan tertutup.  Ia tak ingin pembicaraan mereka didengar orang.


"Jadi selama ini kakek di istana, tapi kenapa tak menemuiku? Kau tahu aku sangat pusing mencari tahu kutukan itu, kau tak memberiku klu yang jelas apa sebenarnya kutukan itu dan bagaimana caranya aku bisa mematahkannya. Apa kutukan yang kakek maksud adalah kutukan Indora. Lalu bagaimana caranya aku mematahkannya?" Ucap Lee frustasi.


"Ramalan penangkal kutukan." Ucap kakek mantap.


"Apa? Ramalan, Tere tak mengatakannya ia bilang hanya aku yang bisa mematahkannya tapi aku benar tak tahu caranya."


"Ketika bunga waktu sebrang terpecah menjadi dua."


"Maksud kakek?"


"Dirimu."


"Aku? Jadi aku, tubuhku terbelah menjadi dua begitu. Itu sama saja bunuh diri. Bagaimana aku bisa pulang ke asalaku."


"Kemana perginya kejeniusanmu Lee." Ucap kakek ngeledek.


"Kakek jangan menggodaku, pikiranku benar-benar kacau karena kutukan itu."


"Kau harus memberikan seorang pewaris."


"Don't kidinng me kakek. Is not funny. " teriak Lee marah, bagaimana mungkin kakek itu menyuruhnya melahirkan seorang pangeran. Ia tahu betul tujuan Lee kabur.


"Aku tak bercanda Lee. Kau harus mengandung seorang pangeran."


"Taukah kau kakek kau sudah membuatku marah dan murka sebanyak tiga kali. Pertama kau menipuku dan  membawaku ke tempat ini. Yang kedua aku harus berpura-pura menjadi seorang ratu dan ketiga aku harus menerima kenyataan kalau aku adalah istri yang dibenci  dan sekarang kau menyuruhku bunuh diri."


"Kau tahu semua ratu yang mengandung akan mati."

__ADS_1


"Tapi kau bukan Ratu Lee." Ingat kakek.


"Lalu kau menyuruhku mengandung anak dari orang yang bukan suamiku.  Kau tau persis aku kesini untuk menghindari pernikahan gila yang disiapkan mama tiriku. Dan sialnya kau malah membuatku memilih pilihan yang paling buruk. Aku sungguh membencimu kakek." Lee berjalan meninggalkan kakek.


"Kau sudah banyak kehabisan waktu Lee hanya tinggal beberapa minggu lagi.  Jika tak membuat keputusan selamanya kau akan terjebak disini. Kau tak akan bisa pulang."


"Persetan dengan ucapanmu!" Lee benar-benar murka.



   


     Lee terlihat kacau dan menyedihkan, pikir Tere yang menatap Lee dari tempat berdirinya. Sekarang mereka ada di taman kerajaan.


    Lee menatap kosong hamparan bunga didepannya. Tak ada pembicaraan tawa maupun senyuman yang selalu ia tampilkan. Pikirannya terlalu penuh oleh kutukan dan ramalan itu.


"Entahlah munkin karena takdirnya."


"Maksud anda nona."


     Tiga orang selir yang pernah diintip Lee menghampirinya. "Wah sepertinya Ratu kita sedang bersedih." Ejek selir bergaun Biru.


"Biasa kena marah oleh Raja karena kebodohannya." Timpal yang berbaju merah.


"Aku heran kenapa Raja mau menjadikannya seorang Ratu."  Sahut yang berbaju hijau.


"Itu karena hanya dia yang mau menjadi tumbal."


"Benar benar bodoh dan tak bertata krama." Tambah berbaju merah.

__ADS_1


Plak...


"Haha..... akh.." teriak selir berbaju merah merasakan sakit dipipinya.


     Ke dua selir yang lain pun mendapatkan tamparan yang sama. Sedangkan pelayan dan pengawal Ratu terlihat syok melihat adegan itu.


"Apa yang kau lakukan Ratu bodoh?!" Teriak salah satu selir mendorong pundak Lee, Tere dan yang lain ingin membantu tapi dicegah oleh Lee.


Plak...


satu tamparan kembali mendarat dipipi selir merah yang mendorong Lee.


Plakk...


Satu tamparan kembali didapatkannya karena berusaha membalas Lee.


"Ratu benar-benar hebat." Teriak Lia senang.


"Lia diamlah!" Pinta Tere. Dalam hatinya Tere mengagumi ke beranian lee.


"Ka..kau beraninya Ratu rendahan sepertimu menamparku. Akan ku pastikan raja MENGHUKUM KA..akh..."


"Jangan pernah kau arahkan telunjuk hina mu itu padaku pelacur. Pengawal!" Teriak Lee memanggil para pengawal.


"Ya yang mulia Ratu." Andi dan Rio menghampiri.


"Panggil para pengawas kedisiplinan Istana. Hukum cambuk tiga wanita ini seratus kali. Dan jangan beri makan sebelum mereka menyadari kesalahannya!" Tegas Lee pada Andi dan Rio.


     Lee menatap tajam para selir itu. Mereka baru saja dicambuk beberapa kali hingga jeritan penyesalan mereka begitu menggema ditelinga Lee. Lee tak akan menghentikan hukuman yang ia berikan. Hukum tetaplah hukum yang harus ditegakkan.

__ADS_1


__ADS_2