Kutukan Indora

Kutukan Indora
Egois


__ADS_3

"Galih! Abilkan aku air!"


"Dayang!" Pria itu berteriak memanggil pelayannya ia lupa kalau saat ini ia berada di klinik. Tentu tak akan ada para pelayan setia yang akan melayaninya.


Auhhh shit.. bagaimana aku lupa dimana aku sekarang..


   Dengan susah payah Gion berusaha menggapai air yang terletak disisi kirinya di atas meja. Digeser tubuhnya sedikit kedepan hingga tangannya menyentuh air.


"Akh...!" Gion merintih saat dirasa kulitnya yang terluka terasa ditarik.


      Sebuah tangan kecil nan mulus menimpa tangan Gion yang memegang gelas. "Tuan belum boleh bergerak dulu, jahitannya bisa kebuka lagi." Suara sedikit tinggi penuh kekahwatiran dengan senyum nan ramah itu membuat Gion terkejut.


    Bukan karena pesona gadis itu melainkan wajahnya. Ya dia adalah Ratunya permaisurinya istri yang di carinya hingga mendapatkan luka ini, dia Saina pikir Gion.


"Bagaimana tubuh tuan, udah enakan?" Tanya Lee menyodorkan  kembali  memberikan segelas air pada Gion.


"Kalau boleh tau tuan ini siapa? Atau tuan ada keluarga yang bisa saya kabari mungkin?" Tanya Lee.


"Lee seorang pengawal dan seorang dayang datang dari istanan." Ucap Panji muncul didepan pintu.


"Kau yakin, oh tidak bagaimana ini. A..apa yang mereka inginkan. Apa mereka bertanya tentang yang mulia Rat..."


"Mereka mencarimu Lee."


"Benarkah."

__ADS_1


"Aku menyuruh mereka menunggumu di ruang sebelah."


"Baikalah."


Apa itu Tere tapi bagaimana mereka bisa menemukanku


"Yang mulia Ratu anda baik-baik saja." Andi memberi hormat.


"Kau pikir apa yang kau lakukan, hah!" Teriak Tere marah pada Lee.


"Seharusnya anda menanyakan itu pada diri anda sendiri nona Tere. Anda lupa berbicara dengan siapa?" Ingat Andi.


"Tentu aku tak lupa tuan. Jadi ku mohon anda diamlah agar gadis ini tau kesalahannya." Tunjuk Tere.


"Kau ingin tau kesalahan mu?  Gara-gara mencarimu yang mulia Raja sekarang hilang tak tau kemana. Tampa pengawal maupun dayang disisinya. Kau sudah berjanji padaku pada semua rakyat kalau kau akan mengubah semua pikiran orang tentang Ratu Saina. Dan kau hampir berhasil tapi kenapa kau menghilang begitu saja, hah. Apa kau tak tahu bagaimana rakyat menilaimu bagaimana kalau mereka mencelakaimu."


"Istana sangat gempar atas menghilangnya sang ratu dan juga petisi penggulingan sang ratu." Ucap tere sedih.


"Apa penggulingan sang ratu?"


"Ya mereka menuntut Raja untuk menggulingkan Ratu karena insiden hukuman cambuk yang kau berikan. Kau harus bertanggung jawab Lee, karena kau Ratu siana bisa diusir dari istananya. Kau harus kembali Lee."


"Aku tak bisa sungguh aku tak bisa Tere maaf."


"Kau egois Lee, kau ingkar akan janjimu. Dan sekarang kau membuat Ratu saina diusir dari istana kau juga membuat Raja menghilang semua ini karena mu Lee."

__ADS_1


"Semua salahmu Lee, sekarang Istana gencar karena ulahmu mu Lee. Karena keegoisanmu."


"Terserah kamu mau bilang aku egois atau apa yang penting aku tidak akan kembali. Aku bukan Saina, aku bukan Ratu negeri ini Aku bukan permaisuri raja itu. Aku adalah Leesyiana tabib pengembara, itulah rakyat kenal."


"Tidak Lee kau salah,  kau wanita penangkal itu kau adalah bunga waktu dari sebrang itu. Sudah menjadi takdir kamu di istana Lee."


"Sudah aku bilang aku bukan gadis yang ditukjuk oleh ramalan konyol itu."


"Ramalan itu benar Lee."


"Kau jangan seperti kakek Joti  Tere. Sampai kapanpun aku tak akan melakukan apapun yang kalian mau. Aku tidak peduli dengan kutukan itu aku tidak peduli dengan nasib ratumu aku tidak peduli."


"Apa kau tak ingin kembali ke masamu?" Tanya Tere.


"Tampa kau tanya kau pasti tau jawabannya. Tapi aku gak mau pulang dengan menyerahkan tubuhku pada Raja mu itu."


"Jaga ucapanmu Lee kau masih di Indora bukan massa mu kami bisa saja menghukum kamu karena kelancanganmu."


"Kau mengancam aku Tere."


 


Brak... pintu terbuka menampilkan seorang pria yang tengah berjalan memegangi dadanya yang terluka.


"Bunga waktu!" Ucap pria itu

__ADS_1


__ADS_2