
Lee tengah sibuk mendandani dirinya yang dibantu oleh beberapa pelayan setianya, Lia dkk. Sementara Tere sang kepala dayang terus mendiskripsikan tentang Raja dan bagaimana biasanya Ratu Saina menanggapi.
Sebelumnya Tere telah menjelaskan pada bawahannya Lia dkk dan dua pengawal Andi dan Rio kalau Ratu mengalami amnesia karena kecelakaan saat ia menghilang, makanya ia tak pulang dan menyangkal dirinya bukan Ratu.
"Apa sebegitu menyedihkannya Ratu Sai.. maksudku diriku yang dulu." Ucap Lee tak percaya.
"jangan bersedih yang mulia itu hanya masa lampau." Ucap Lia.
"Dan sekarang saatnya mengubah masa lampau itu menjadi kenangan yang lebih baik." Sambung Gina salah satu personil Lia dkk, maksudku pelayan Ratu.
"Kalian cukup bijak, ya? Kenapa tidak kalian saja menjadi Ratu, hah?" Tanya Lee sedikit meninggi membuat Lia dkk merasa kalau mereka berbuat salah.
"Ampun Ratu saya tak bermaksud be..." ucap Lia dkk menyesal memohon ampun reflek bersujud didepat Lee dan menghentikan aktivitas menghias mereka.
Sedetik kemudia Lee menatap mereka dengan wajah merah menahan tawa dan akhirnya lepas. "Hahahaha... kalian ini lucu... hahaa.. lihat tampang ketakutan kalian benar-benar lucu seperti badut hahaha...." Lia dkk pun akhirnya hanya cemberut masam karena ulah Ratunya tapi mereka juga senang akhirnya sang Ratu bisa tertawa begitu lepas untuk pertama kalinya.
"Yang mulia Ratu anda yakin, tak ingin menyambut Raja?" Selidik Tere meyakinkan.
"Ya, aku tak akan menemuinya. Bukankah kalian bilang ia membenciku lalu untuk apa aku menemuinya. Jika ia merasa aku harus ikut, ia sendiri yang harus menemuiku." Ucap Lee mengangkat dagu tinggi penuh percaya diri, senyum sinis terlihat sedikit menghiasi wajah putih seperti porselen itu.
"Anda benar Ratu, kesana hanya akan mempermalukan diri." Ucap Lia mengenang masa lampau. Dimana Ratu Saina hanya berdiri seperti patung yang menunduk sedangkan Raja hanya pergi melewatinya tampa menyapa ataupun sekedar menatap. Ia lebih menikmati waktu bersama selirnya.
__ADS_1
"Jaga ucapan mu Lia!" Ingat Tere.
"Tenanglah Tere, Lia hanya berkomentar. Ia benar ke sana hanya membuat lelah dan sakit hati. Emang seberapa angkuh dan dinginnya Raja pecicilan itu." Ejek Lee yang membuat Tere hanya psrah, sedangkan Lia dkk tersenyum setuju dengan Lee.
"Ratu..Ratu...Yang Mulia Ratu... gawat Raja berjalan kemari." Rio sang pengawal Ratu menghampiri rombongan pelayan dengan majikannya itu.
"Bagaima ini Ratu, pasti Raja marah." Cemas Tere.
"Iya Ratu ketapa kita tak menyambutnya saja Tadi." Tambah Lia.
"Ratu kita bisa dihukum." Kini giliran Gina yang dibenarkan oleh yang lainnya.
"Tenanglah... kumohon Tenang!" Pinta Lee keras dan akhirnya mereka pun diam.
"Sekarang dengarkan aku, oke!"
"Yang mulia Raja Tiba!" Teriak salah satu pengawal Raja mengumumkan.
Seorang pria bertubuh tegap berabut hitam pekat dan alis tebal, dengan hidung mancung dan kulit putih yang sedikit gelap terpapar sinar matahari sungguh terlihat tampan dan gagah.
__ADS_1
Raja memasuki kediaman Ratu dengan wajah kesalnya, namun hanya keheningan yang ia temui. Kemana wanita bodoh itu.
"Selamat siang yang mulia Raja, apa ada yang bisa hamba bantu? " Tere bertanya. Dibelakangnya berdiri para pelayan Ratu yang berjejer dengan rapi membentuk dua barisan.
"Dimana Dia?" Tanya Raja dingin. Semua hening mereka tau Raja sedang kesal.
"Dimana perempuan itu?" Tanya Raja lebih ketus lagi.
"Ratu diruang baca, yang mulia." Jawab Tere akhirnya.
Diruang baca Lee sedang berdiri diatas balkon yang menghadap tepat di gerbang Istana.
"Maafkan hamba yang mulia, hamba terlalu takut untuk menemui anda, hamba terlalu bodoh untuk menjadi Ratu anda. Maafkan kelemahan hamba ini yang mulia. Hamba senang saat yang mulia memarahi hamba rasanya seperti ada harapan bahwa yang mulia memperhatikan hamba. Cacian itu, tatapan itu hamba benar sudah bersyukur setidaknya walau anda membenci hamba, anda masih memerhatikan hamba. Sekali lagi maafkan saya." Lee terus mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan suara yang sangat meyayat hati.
Berhasil ha...haha..
Raja terpaku diambang pintu mendengar rintihan perempuan itu. Dibelakang sana para pelayan Ratu mencoba menghilangkan perasaan senang mereka. Saat melihat reaksi Raja mereka itu yang diam menatap lekat sang Ratu.
"Yang Mulia anda disini... oh maafkan saya, selamat datang yang mulia Raja maaf saya tak menyambut anda." Ucap Lee menyeka air matanya, lalu membungkuk hormat dengan senyum manis dibibirnya.
Saat ini ia berekting seakan tengah terpegok memikirkan yang mulia raja.
__ADS_1