
Lee terus memikirkan kata-kata raja giondra " kau hanya tumbal dari kutukan Indora."
"Apa yang dimaksud Raja tentang kutukan Indora sama dengan kakek Joti." Lee terus berpikir.
Lee benar benar tak bisa tidur. Pikirannya selalu menerawang pada kutukan, tumbal dan segel waktu. Lee terus berpikir dan berpikir menggerakkan badannya berguling kekiri ke kanan di atas tempat tidur.
Paginya dengan malas Lee bangun dari tempat tidur dengan wajah yang kacau. Pagi ini Tere membangunkannya lebih pagi karena ini adalah jadwal makan kerajaan. Semua keluarga kerajaan harus menghadirnya tanpa terkecuali.
"Apa ada kurang tidur Ratu?" Tanya Tere khawatir.
"Ya ini sangat memusingkan."
"Apa ini ada hubungannya dengan kedatangan Raja kemarin? " yang dibalas anggukan oleh Lee.
"Tere apa kau tahu mengenai hmmn...." tanya Lee ragu.
"Mengenai apa yang mulia?"
"Ku..kutukan Indora, kau tahu?"
"Bagaimana anda... apa yang mulia Raja yang mengatakannya?"
"Salah satunya." Jawab Lee.
"Maksud anda?"
"Sebenarnya sebelum Raja, seseorang juga memberi tahuku tentang kutukan, tapi saat ku tanya kakek tua itu menghilang."
"Kakek?"
__ADS_1
"Ia karena dia aku sampai kesini dan saat aku bertemu dia lagi dia menyuruhku untuk melakukan sebuah misi, ini benar-benar gila."
"Misi apa yang mulia?" Tanya Tere penuh Minat.
"Misi penakluk kutukan. Katanya aku harus mengakhiri kutukan itu agar aku bisa pulang ke masaku. Jadi apa mungkin kutukan yang dimaksud kakek itu sama dengan yang dikatakan Raja?" Tanya Lee.
"Sudah saya duga andalah orangnya Yang mulia."
"Apa maksudmu Tere."
"Dulu saat ayah Raja Giondra masih menjabat sebagai Raja. Sebuah kutukan diberikan oleh nenek tua kepada Raja Dorga ayah Raja sekarang."
"Apa isi kutukan itu?"
"Isi kutukan itu adalah Raja dorga hanya akan memiliki seorang putra kelak saat anak itu dewasa dan menjadi raja seluruh garis keturunan lelakinya akan terputus. Setiap ratu yang mengandung akan meninggal."
"Apa mungkin ratu saina?"
"Tapi bagaimana dengan rumor Raja yang membunuh bayinya."
"Yang dikutuk hanya Ratu bukan selir, tapi tetap saja para selir tak pernah melahirkan seorang pangeran. Dan menurut kutukan itu yang mulia raja hanya bisa memiliki seorang pewaris sebelum usia 25 tahun."
"Bukankah sekarang Raja berumur 24, itu berarti hanya beberapa bulan lagi?" Tanya Lee, yang dianggukan oleh Tere.
"Jadi waktuku hanya tinggal beberapa bulan sebelum raja berusia 25 tahun. Berapa lama lagi ulang tahun ke 25 Raja? Dan apakah kau tahu penangkal kutukan itu, Tere?"
"10 bulan lagi yang mulia. Dan masalah kutukan ada satu jalan keluar dan itu hanya anda yang bisa menyelesaikannya."
__ADS_1
Ruang makan keluarga kerajaan, dimana setiap kursi sudah didominasi oleh selir Raja berjumlah sepuluh, dua putri. Raja giondra di paling ujung sebelah kanan sebagai kepala keluarga dan Lee di sebrangnya.
Walau hanya terdengar detingan sendok dan pisau, Lee masih bisa mendengar para selir itu berbisik mengenai dirinya.
Lee kehilangan nafsu makan, duduk bersama sepuluh wanita penggoda dan seorang pria kaku, dingin dan menyebalkan benar membuatnya kehilangan selera. Beberapa helaan nafas lolos dari mulut Lee.
Seseorang pria berjenggot putih berjalan menghampiri sang Raja. Membisikan sesuatu yang terlihat penting.
Lee yang melihat itu hanya menatap heran. Namun matanya membulat tajam saat bertemu pandang dengan pria berjenggot putih dengan pakaian sutra bak seorang penjabat kerajaan.
Seketika Lee berdiri saat kakek itu hendak meninggalkan ruaangan itu.
Kakek joti, ia kakek joti kan.
"Apa yang dilakukan yang mulia ratu? Yang mulia! yang mulia!" Panngil Tere di tepi ruangan pelan.
"Apa yang dipikirkan ratu bodoh itu."
"Dia gila."
"Dia benar bodoh."
"Apa dia tak belajar tatakrama kerajaan."
"Bahkan kita (selir) lebih bermartabat dari pada dia."
Semua selir termaksuk para pelayan yang disana membicarakan bagaimana tidak sopannya sang Ratu. Sedangkan Raja telah menatap Lee penuh amarah.
Lee tak menghiraukan mereka ia malah berlari mengejar kakek Joti.
__ADS_1
"Kakek tunggu!" Teriak Lee.