Kutukan Indora

Kutukan Indora
Kembalinya Raja part 1


__ADS_3

    Hari ini Istana tengah sibuk mempersiapkan acara penyambutan Raja, yang pulang dari medan tempur dengan membawa kemenangan bagi kerajaan Indora.


    Setelah beberapa kali penundaan, akhirnya Raja benar-benar kembali. Semua itu dibuktikan oleh jeritan kebahagian rakyat dan alunan hetakan sepatu kuda dan sepatu kulit yang dipakai para prajurit saat perang.


"Panjang umur untuk Yang Mulia Raja."


"Panjang umur!"


"Hidup yang mulia Raja Giondra,! Hidup!"


"Hidup."


      Semua rakyat terus bersorak sorai karena bangga memiliki Raja muda nan perkasa. Kerajaan Indora menjadi makmur dan sejahtera. Tapi tetap saja tak semua manusia itu baik, masih ada banyak yang serakah dan memetingkan diri sendiri seperti situa Bejo yang sempat ditaklukkan Lee.


    Tapi semua itu tak terjangkau oleh petugas karena maraknya tradisi suap menyuap. Sogok menyogok.


    "Yang Mulia Ratu! Ratu! Ratu!" Seorang pelayan berlari memasuki ruang baca Ratu. Disana sudah terlihat gadis berparas cantik dengan rambut pirangnya tengah asyik membaca buku.


"Yang mulia hah.. hah.. Ra..tu saya mau la..hah por." Ucap pelayan itu ngos-ngosan.


"Kau akan dapat jatah karena ini Lia!" Ingat Tere pada bawahannya yang sudah bertindak tidak sopan.


"Maaf yang mulia."


"Tak apa aku menyukainya. Tere seharusnya kau menyontoh dia! Kau tau kau terlalu kaku seperti manekin membuatku bosan saja." Celetuk Lee.


"Tapi Ratu..."


"Aku tak suka orang-orangku bersikap kaku seperti orang lain itu sangat membosankan. Kita ini sesama manusia tak ada pembeda antara kita. Status, jabatan atau pangkat itu hanya pemberian kau tahu." Ucap Lee bijak.

__ADS_1


    Tere tak habis pikir Ratunya sekarang sangat baik, bijak dan cerdas tetapi terkadang ia bisa cerewet dan cepat kesal.


"Jadi Lia apa yang ingin kau katakan padaku, kau sepertinya sangat bahagia.  Apa ini kabar baik?" Lee mengingatkan tujuan Lia.


"Ya Ratu, ini kabar bahagia. Yang mulia Raja telah kembali membawa kemenangan. Sekarang  Raja dan rombongan baru saja memasuki gerbang kota.  Ratu harus bersiap-siap menyambut Raja." Celoteh Lia bersemangat, tapi tidak untuk Lee.


      Itu artinya ia harus berpura-pura bersikap manis mungkin juga melayani Raja bangkotan itu. Ini gila, ia lari karena tak mau dinikahkan dan sekarang ia malah dihadapkan oleh kenyataan kalau ia sudah menikah. Yahh walau sebenarnya bukan dia.


"APA!!!"



     Lee gelisah ia sangat gelisah, tidak malah terbilang menakutkan. Bagaimana tidak ia akan bertemu Raja, suaminya. Yah walau sebenarnya bukan. Tapi tetap saja ia takut ia bingung ia harus bersikap apa saat berpapasan dengan Raja itu.


"Bagaimana ini aku bisa dihukum penggal, kalau ketahuan. Mana mungkin aku bertemu dengan Raja, kenal aja nggak. Gima kalau Raja itu udah bangkotan ubannya dimana-mana mukin jenggotnya juga tebal kayak kakek Joti. Apa sebaiknya aku kabur saja?"


"Tapi ini benar gila, aku kabur dari rumah sampai sini karena gak mau kawin muda. Tapi nyatanya disini aku malah udah ada suami. Gimana kalau terjadi sesuatu. .."


"Ihh..membayangkan saja aku tak sudi." Lee terus bolak balik berbicara sendiri pada dirinya. Tere melihat semua itu ia pun segera menghampiri Ratu.


"LEE!" Mendengar namanya dipanggil Lee pun menoleh.


"Tere kau...?"


"Aku percaya kau bukan Ratu Lee. Ratu Saina tak mungkin seberani kamu, sebijak kamu dan secerdas kamu. Namun ia tetaplah Ratu yang baik dan lembut." Aku Tere.


"Maaf." Ucap Lee merasa bersalah karena sudah berbohong.


"Tidak kau sudah menjelaskan tapi kami yang tak pernah percaya. Kalau boleh aku tau siapa sebenarnya kau Lee? Dari mana asalmu?" Tere bertanya.

__ADS_1


"Aku Leesyiana Indira aku berasal dari bagian barat Indonesia sebuah negara di masa depan." Jawab Lee mantap.


    Masa depan, Tere sangat terkejut mendengar kata itu. Apa ramalan itu benar. Apa Lee gadis yang dimaksud ramalan itu. Jadi kutukan..kutukan itu. Syukurlah kalau itu memang benar.


"Tere! Tere!" Beberapa kali Lee memanggil nama gadis itu, tapi gadis itu masih betah dengan lamunannya. Hingga Lee menyentuh pundak pelayan itu.


"Maaf Yang mulia Ra eh Lee eh aduh aku bingung panggil siapa."


"Terserah kamu"


"Yang Mulia Ratu ya kau harus menyamar menjadi yang muliia Ratu setidaknya sampai ia kembali." Terang Tere.


"Kau gila bagaimana aku ketahuan aku bisa dipenggal, lagi pula aku masih gadis belum menikah. Bagaimana situa itu menyentuhku karena menganggap aku istrinya. Aku tak mau" Tolak Lee.


"Si tua?"


"Rajamu."


"Sepertinya kau salah paham yang mulia. Raja masih muda ia baru berusia 24 tahun. Dan tenang saja Raja tak mungkin menyentuh mu Lee, karena ia tak menyukai Ratu dia membenci ratu."


"Kau bercanda bagaimana mung.."


"Tapi itulah kenyataannya hingga sikap raja yang terang-terangan membuat semua penghuni istana dan rakyat memandang ratu Saina sebelah mata."


"Apa karena itu dia pergi, menghilang dari Indora?" Tanya Lee merasa iba, ratu yang malang.


"Mungkin, karena Ratu sudah tak kuat lagi. Untuk itu bisakah kamu tinggal disini lebih lama dan menolong ku memperbaiki image yang mulia ratu. Sepertinya rakyat mulai menghormatimu." Pikir Tere mengenang kejadian di alun-alun.


"Baiklah hingga misiku selesai. "

__ADS_1


__ADS_2