La Tahzan, Anisa

La Tahzan, Anisa
Bab 10


__ADS_3

perkelahian terus berlanjut, Julia sangat kewalahan melerai 2 putra nya. Hingga terdengar suara seseorang berteriak "Berhenti!" dari balik pintu. Rupa nya adam yang berdiri tak jauh dari sana, tangan nya meng isyarat kan mereka untuk berhenti.


"Ayah tak pernah mengajarkan kalian untuk jadi penjahat!".


Reno dan Raksa diam, mereka menggerutu kesal.


"Apa yang kalian lakukan, ayah sangat kecewa".


"Maaf kan aku ayah, ini tak seperti yang ayah lihat. Dia yang duluan memukul ku". Bela Reno.


"Kau...". Raksa geram, kenapa dia tak juga mengaku bersalah. Dasar munafik pikir Raksa.


"Sudah lah". Julia mengajak Raksa untuk pergi. Adam memilih pergi ke dapur untuk makan, meladeni anak nya merupakan hal yang sia-sia bagi nya.


Reno menyentuh luka di wajah nya, argghh sial dia merusak wajah ku, geram nya dengan tangan terkepal. Tapi ia beruntung bisa membuat adik nya yang di salah kan. Ia adalah kakak yang baik untuk Raksa dan Rio, namun perlakuan tak adil orang tua nya yang membuat dia menjadi seperti ini.


Julia mengantar Raksa untuk membersihkan luka. Ibu nya kerap kali memanjakan Raksa, itu lah hal yang paling di benci Reno.


"Ibu... kita harus minta maaf pada kakak ipar". Julia yang membersih kan luka di di wajah raksa terhenti. Ia menghela nafas.


"Raksa berhentilah bicara omong kosong, ibu benci pada nya. Seharus nya dia berterima kasih karena kita tak melibat kan polisi".


"Ibu kakak ipar tak bersalah, kenapa ibu tak percaya pada raksa".


"Diam lah, jangan bahas dia. Ibu sedang mencari cara untuk membalas nya".


"ibu...".


"Raksa diam lah!".


Julia meninggal kan Raksa yang masih ingin berbicara, tapi ibu nya ternyata tak peduli. Rupa nya tak ada cara lain untuk membuka kebenaran.


________________________________________


Tok...Tok..Tok....


"Assalamualaikum". Anisa yang sedang menyiap kan makanan di dapur terkejut, ia sangat mengenal suara orang itu.


"Via? Ranti? aku rindu kalian". Via dan Ranti memeluk Anisa. Ketiga nya sama-sama menangis haru.


"Nisa.." ucap ranti pelan dengan nada lemah.


"Aku sudah tau apa yang menimpa mu, aku minta maaf karena tak bisa membantu mu". lanjut nya.

__ADS_1


"Aku juga Nisa, kami tak pantas di sebut sahabat". Tangis Via pecah saat mengucap kan kata-kata barusan.


"Jangan bicara seperti itu, kamu tau kan aku paling benci kalau kalian jadi lemah begini. Aku aja kuat kok, udah senyum dong". Anisa memeluk Via yang tak mau berhenti menangis. Ranti tertawa melihat nya.


"Cengeng banget sih vi". ledek Ranti.


"Ih emang salah gitu kalau aku nangis". balas nya dengan nada cemberut.


"Udah.. udah... kita makan yuk, aku udah nyiapin makanan". Anisa membantu via berdiri, Ranti lebih dulu pergi ke ruang makan.


"Dasar tukang makan". ledek Via, Anisa hanya tertawa pelan.


Ketiga nya makan, Anisa tersenyum melihat mereka. Kebahagian nya adalah saat ia bersama orang-orang yang mencintai dan menyayangi nya.


"Nisa, jangan mikiran apa-apa. Sekarang fokus lanjutin hidup kamu. Aku yakin suatu saat kebenaran akan terungkap". Ranti memergoki Anisa yang tengah melamun. Anisa tersenyum simpul.


"Eh habisin dulu makanan nya, entar kita bicara nya". Ranti mengangguk.


________________________________________


Sebuah pukulan melayang, Bruk...Wajah dan tubuh nya babak belur. Reno merintih kesakitan, diri nya ambruk dengan tangan memegangi dada nya yang sakit.


"Kau berani sekali menyiksa ku!". Teriak nya, seseorang yang menyiksa nya hanya menatap nya marah.


"Aku membebas kan mu karena adik ku, tapi bukan berarti kau bisa melakukan hal gila kepada nya". Pukulan kedua sukses menghantam pelipis nya, Reno tak diam. Ia menendang kaki Fikri hingga terjatuh. Kemudian meninju nya, seseorang yang melihat kejadian itu langsung melerai kedua nya.


Hafidz yang kebetulan melewati tempat itu, menghampiri kedua nya.


"Anda? bukan kah anda kakak nya Raksa?". Tanya hafidz saat pertengkaran itu berhenti.


Reno hanya menatap nya datar, rupa nya dia adalah orang yang menjadi saingan nya.


Reno kemudian berlari menuju mobil nya, Fikri ingin mengejar nya tapi hafidz menghalangi nya.


"Kenapa kau biar kan dia lari!". Teriak nya pada hafidz.


"Maaf sebaik nya anda pulang, tidak baik memukul satu sama lain. Ia juga saudara anda. Rasulallah saw. melarang umat nya...".


"Diam lah, aku tak ingin mendengar ceramah mu". ketus nya, Hafidz hanya tersenyum ramah.


"Kau kenal iblis tadi?". tanya Reno, bukan nya menjawab Hafidz msalah tersenyum.


"Jangan menyebut seseorang dengan gelar yang buruk, itu sangat di larang dalam islam". Fikri kesal, ia menghembuskan nafas nya.

__ADS_1


"ya maksud ku, kau kenal laki-laki tadi?". Tanya nya sekali lagi.


"Dia kakak nya mahasiswa saya, Raksa".


"Ya dia juga kakak ipar adik ku".


Hafidz terkejut, ia tidak menduga jika laki-laki kasar ini adalah kakak nya Anisa.


"Wah.. Perkenalkan saya Hafidz, mantan dosen Anisa".


"Hafidz? nama kamu hafidz". Tanya fikri sekali lagi, di balas anggukan dari hafidz.


"Oh jadi ini laki-laki yang di sukai Anisa. Pantes Nisa suka, orang ramah juga ternyata. Mereka emang cocok. Andai mereka berdua jodoh". Guman fikri dalam hati.


"Kalau begitu aku pulang dulu, Assalamualaikum". Fikri pamit pulang.


"Wa'alaikumsalam". balas nya. Fikri pergi menjauh dari sana.


"Mereka ber keluarga tapi saling membenci, apa karena soal kematian suami nya Nisa. Semoga gak terjadi apa-apa di antara hubungan keluarga nya". Doa hafidz dalam hati.


________________________________________


"Nisa, bagaimana bisa mas Rio meninggal?". Tanya Ranti saat kedua nya selesai makan.


"Aku tak bisa menceritakan nya, maaf bukan karena tak ingin berbagi. Hanya saja biar lah ini menjadi rahasia". Ranti mengelus punggung Anisa, ia berusaha memenangkan nya.


"Assalamualaikum". Tiba-tiba seseorang datang mengejutkan mereka. Rupa nya Zahra yang sudah pulang.


"Eh ada kak Ranti sama kak Via". Zahra mencium tangan ketiga orang yang melirik nya karena terkejut.


"Maaf ya zahra mengejutkan, abis zahra lupa ketuk pintu". ujar nya.


"jangan di ulang lagi ya. Gimana kalau kak Nisa, kak Ranti dan kak Via jantungan. Kamu mau tanggung jawab". ucap ranti dengan pura-pura marah.


"Maaf kak, maafin Zahra ya". Ia tertunduk sembari memainkan jari nya. Anisa tertawa.


"Hahaha. Sudah lah, kak Ranti cuma bercanda. Kamu makan dulu sana". ujar Anisa dengan lembut.


Ranti dan Via hanya menahan tawa.


"Maaf ya Zahra, bercanda... heheh.. abis kamu lucu gitu". Zahra jadi malu.


"Ah kak Ranti...bisa aja". Zahra bergegas pergi.

__ADS_1


#Makasih udah mampir, jangan lupa like ya kalau suka😁 Maaf kalau cerita nya nge bosenin...karena author masih pemula.


__ADS_2