
Anisa ter kunci di dalam kamar, apa lagi yang harus ia lakukan. menangis? Tidak, ia berpikir jika diri nya menangis itu berarti ia menyerah dengan semua ujian dari Allah swt. Tasbih kecil di dalam laci, pemberian dari pujaan hati nya itu ia ambil. Anisa merasa tasbih ini adalah sumber kekuatan dari Allah swt. untuk nya.
Subhanallah...Alhamdulillah...Allahu Akbar... Laailahailalloh...
kalimat suci itu terus di ucap kan Anisa dengan sangat tulus, setelah itu baru lah ia menjadi tenang dan damai seolah tak ada kejadian buruk menimpa nya.
Ada perasaan kecewa dan marah dalam hati nya, Ya perasaan itu hilang dalam sekejap setelah diri nya berdzikir.
Ia ingin pergi dari tempat ini, di lihat nya handphone kesayangan nya. Ia bertekad menelepon ibu nya. Ya walaupun ia terpaksa melanggar perintah ibu mertuanya.
Setelah mode pesawat itu di hilangkan, ada banyak sekali panggilan tak terjawab di sana. Hati nya sakit saat tau keluarga nya sangat merindukan diri nya. Ia menekan satu nama dalam handphone nya.
panggilan terhubung.... Tuttttt.
"Anisa sayang, ya Allah. kamu kemana aja kok udah berminggu-minggu gak telepon ibu. Ibu kangen sama kamu, apa kabar kamu baik nak?". suara itu, Anisa merindukan suara hangat yang sering menenang kan nya jika ia bersedih.
"Alhamdulillah nisa baik-baik aja, oh ya bu nisa kangen ibu". balas nya dengan nada yang sangat lemah.
"Anisa? ada apa dengan mu sayang. kamu sakit? kenapa nada suara mu lemah begitu". tanya nya dengan nada cemas. Anisa menahan air mata nya dan pura-pura baik-baik saja.
"Anisa gak papa, mungkin lagi serak. hehe, gimana kabar ayah, kak Fikri dan zahra bu".
"mereka baik, bagaimana kabar suami dan keluarga baru mu nak?". Deg!, jantung Anisa berdetak sangat kuat karena takut, Anisa hanya diam. Ia bingung harus bagaimana.
"Ibu, maaf nisa udah an dulu ya. wassalamu'alaikum". Belum sempat ibu nya bertanya, Anisa buru-buru mematikan handphone nya.
Ibu... maafin anisa, bukan nya Anisa gak mau cerita tapi anisa gak mau kalau ibu kecewa dan cemas. Guman anisa dalam hati kecil nya.
skip....beberapa jam kemudian...
Anisa bertekad akan kabur dari rumah karena tak ingin di bawa ke RSJ. Rupa nya ada keberuntungan, Anisa melirik jendela kamar nya yang tak terkunci.
Di lirik nya ke luar sangat sepi, dengan mengucapkan Bismillah...Anisa naik ke atas jendela karena lumayan tinggi dengan sekuat tenaga. Bruk... kaki nya menyentuh tanah, ia bernafas lega.
Karena tak punya ongkos, anisa terpaksa menjual Handphone nya walau dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Ia menaiki taksi.
Saat tiba di rumah, ia melihat zahra sedang membaca novel di teras. Zahra terkejut saat melihat seseorang yang sangat di kenal nya.
"Kak nisa?!". Ia menghampiri Anisa.
"dek". singkat nya.
"kakak kenapa ke sini sendiri? mana yang lain nya". Zahra melihat di sekeliling, tak ada siapa pun.
"Kakak, emmm kita bicara di dalam aja ya".
__ADS_1
Mereka berdua masuk.
"Assalamualaikum". sapa Anisa.
"Waalaikumsalam, Anisa?!". semua yang ada di dalam terkejut dengan kedatangan Anisa.
Ibu nya sontak memeluk Anisa, fikri bahkan sangat senang, sementara Surya sangat kebingungan.
"Anisa sayang, kenapa? cerita sama ibu".
Anisa hanya diam, ia kemudian terisak. Keluarga nya sangat khawatir, ibu nya menenangkan diri nya.
"Rio meninggal karena keracunan makanan". ucap Anisa lemah.
Semua orang terkejut, Anisa mengusap air mata nya.
"Bukan nya kamu sendiri yang menyiapkan itu sayang". tanya ibu nya.
"iya, tapi waktu itu bukan nisa yang nyiapin makanan. Tapi kakak ipar anisa, kemudian Nisa di tuduh. Kematian mad Rio di rahasia kan agar tidak mencoreng nama baik keluarga. maafin anisa". Anisa menangis, bibir nya bergetar hebat.
"kenapa tidak cerita? huhhh.. kau pikir kakak mu itu orang asing, kau tersiksa dan tak menelepon ku. Kau tau aku tak suka siapa pun berani menyakiti mu!". Teriak Fikri dengan tangis yang bercampur dengan amarah. Ia memeluk Anisa dengan erat, seolah tak ingin ada yang lagi yang berani menyakiti adik kesayangan nya itu. Anisa merasa bersalah. Zahra bergabung memeluk kakak nya itu.
Ratna menangis melihat keadaan putri tercinta nya, ia memukul pelan dada surya yang hanya diam sedari tadi.
"Maaf kan aku, ini sebuah kesalahan terbesar ku. Ya Allah.... Astaghfirullah... Maafkan ayah nisa". ucap ayah nya merasa bersalah, ia memegangi tangan istri nya yang terus menangis.
"Tidak ayah, jangan seperti itu".
semua nya berpelukan, Fikri bahkan merasa geram dengan Reno. Ia sudah curiga saat pertama bertemu dengan nya.
Setelah di rasa tenang, Anisa menghampiri Fikri yang tengah duduk di teras rumah.
"Kak". tanya nya
"iya, aku kecewa pada mu".
"maaf kan nisa kak".
"Apa iblis itu melakukan sesuatu pada mu?"
"Dia..".
"Apa? cepat katakan!".
"Dia mencoba meleceh kan ku".
__ADS_1
Fikri meninju tembok di samping nya, ia benar-benar geram dengan laki-laki itu.
"Aku akan memberi nya pelajaran!".
"Tidak kak, jangan begitu. Tolong jangan lakukan apa pun, Nisa gak papa kok. Alhamdulillah nisa di lindungin sama Allah jadi nisa gak papa".
Fikri diam, ia melirik adik kesayangan nya dengan tatapan kasihan. jadi selama ini adik nya tersiksa, pantas tak ada kabar apapun dari nya.
_________________________________________
"Dimana Anisa!". Teriak julia mengangetkan semua orang.
"Ada apa ibu?". tanya Reno menghampiri ibu nya.
"Anisa kabur, kenapa kau tak becus menjaga nya sih".
"Arrrggghhh.... sial!". sesal Reno.
"Ada apa ibu? kau melakukan hal gila lagi pada kakak ipar". Tanya raksa.
"Dia gila, jadi ibu mengurung nya".
"Astaghfirullah ibu, kakak ipar tidak gila. Kenapa ibu jadi seperti ini".
"Dia itu pembunuh, kenapa kau membela nya raksa".
"Dia menyukai Anisa ibu". ujar Reno, Raksa kesal dan meninju wajah kakak sulung nya.
"Jaga bicara mu, bukan kah kau yang selama ini mengganggu nya hah!". Teriak Raksa.
"jangan mengelak kau". Reno meninju balik wajah raksa.
"Diam lah!!!". ibu nya memisah kan mereka.
"Ibu aku kecewa dengan ibu, Raksa yakin kalau kakak ipar itu tidak bersalah. Aku ingin membela nya tapi tak ada bukti yang sangat kuat. Tidak kah ibu sadar bahwa Anisa tidak se jahat itu. Bahkan kak Rio sering memuji nya bukan".
ibu nya diam, Raksa melanjutkan bicara nya.
"Kak Reno iri dengan kak Rio, jadi dia meracuni sarapan nya kak Rio".
Ibu nya terkejut, sedangkan Reno hanya diam. Ia meninju wajah raksa, hingga adik nya terjatuh.
#makasih udah mampir.
follow IG aku yuk :@pcysarah04
__ADS_1