La Tahzan, Anisa

La Tahzan, Anisa
bab 3


__ADS_3

"aku tak percaya dengan takdir ku, ibu". ratna berhenti membelai rambut anisa, hati nya tersayat mendengar ucapan yang barusan putri nya katakan.


"Anisa, jangan begitu. Kamu harus percaya, kenapa jadi lemah begini. cinta akan tumbuh seiring berjalan nya waktu kan? kamu yang mengatakan nya sendiri tadi".


"bukan cinta masalah nya bu". ucap nya dengan nada lemah.


"ibu tau, kau menikah tidak dengan orang yang kau cintai bukan? jodoh memang seperti itu". ia memeluk anisa dengan lembut.


kemesraan tergambar jelas di kamar Anisa. Tidak ada yang mengeluarkan air mata padahal hati kedua nya sama-sama menangis. Anisa tau ibu nya tidak menginginkan pernikahan ini, namun ratna hanya menghormati keinginan surya.


keesokan hari nya....


"aku tidak percaya kamu akan menikah anisa, bukan kah kau jatuh cinta pada dosen hafidz?". tanya ranti saat ketiga nya duduk di taman campus, menikmati segar nya bunga-bunga bermekaran di sana.


"mungkin dia bukan jodoh ku, lagi pula dosen hafidz terlalu sempurna untuk ku". Anisa memasang senyum semanis mungkin, walau sebenarnya ia sangat berharap bisa membangun rumah tangga dengan dosen nya itu.


"aku tidak percaya kau bisa melupakan dosen hafidz semudah itu, bukan kah setiap hari kau selalu saja membicarakan dirinya". kini ucapan ranti sukses menusuk hati nya.


anisa diam, ada raut kesedihan di wajah nya, ia buru-buru tersenyum saat ranti dan via melirik nya.


"sudah lah kita ke kelas, sebentar lagi jam belajar kita". via beranjak berdiri mengajak ranti dan anisa menuju kelas.


sepulang dari campus, anisa berpapasan dengan dosen hafidz yang tengah kesulitan.


"Assalamualaikum pak ada yang bisa nisa bantu, kelihatan nya bapak butuh bantuan". tawar nisa, hafidz tersenyum.


"waalaikumsalam. eh anisa, bisa tolong bantu bapak membawa buku-buku di perpustakaan. buku nya terlalu banyak". ucap nya


"baik pak". anisa senang bisa berinteraksi langsung dengan dosen muda, tampan dan ramah tersebut.


sesampainya di perpustakaan, hafidz memberi setengah buku kepada anisa untuk di bawa ke ruangan nya.


"terima kasih anisa, pulang dengan siapa?". tanya hafidz saat mereka duduk sejenak di koridor.

__ADS_1


"tadinya dengan ranti dan via tapi mereka pulang duluan karena ada keperluan lain".


"oh baiklah, bagaimana jika bapak antar. sebagai balas budi tadi, Tapi tenang aja kamu bisa duduk di belakang mobil saya".


"eh gak usah pak, gak enak. Lagi pula anisa ikhlas kok bantu bapak". tolak anisa dengan halus.


"Baiklah, kamu hati-hati ya. Bapak pulang duluan kalau begitu. Wassalamualaikum".


"Waalaikumsalam". balas anisa. ia benar-benar senang. anisa bukan lah gadis murahan yang luluh dengan nafsu. mencintai seseorang bukan berarti dirinya harus menuruti nafsu nya.


Skip....


Hari ini adalah hari pernikahan nya, desain pernikahan tersebut cukup mewah. Anisa tampak bahagia. Bahagia karena bisa membuat ayah nya senang. Ia mengundang seluruh teman campus dan sanak saudara lainnya.


Zahra tengah sibuk membantu ibu nya mendandani anisa, ia tak ingin di dandani oleh orang lain. sedangkan fikri merasa malas ia benar-benar tak menikmati suasana saat ini.


sementara suasana di ruang tengah cukup menegangkan karena di ruangan itu rio tengah mengucapkan ijab Qobul Dan mengucapkan janji suci. Rio menjabat tangan surya, dengan lantang mengucapkan ijab Qobul nya dengan baik dan benar. semua saksi mengatakan "sah". rio mencium kening anisa, semua saksi sangat bahagia. hanya fikri yang merasa tak senang dengan pemandangan yang di lihat nya.


(Maaf ya proses ijab Qobul nya gak aku tulis, takut nya salah. soal nya author gak berpengalaman soal pernikahan. hehe, author masih sekolah soal nya😉).


"Kau bahagia? lihat lah jeno bahkan tak henti-henti nya tertawa". ucap rio.


"ya". anisa tersenyum sembari memangku jeno. hati nya ingin menangis saat tak di temukan nya kakak tercinta di sekitar ruangan itu. fikri lebih menyendiri di taman belakang, ia kecewa dengan takdir adik kesayangan nya.


"kak, kenapa tidak ada di sana". anisa duduk di samping fikri.


"memang nya apa yang harus ku lakukan di tempat itu? menikmati suasana dengan hati yang senang? berpura-pura bahagia di atas kepedihan hati mu". anisa merasakan dada nya sakit.


"setidak nya ini adalah pernikahan ku kak. tolong jangan pergi kemana pun. anisa kesepian". jawab nya dengan nada memelas.


"kakak selalu ada untuk mu, kakak tak akan memaafkan siapa pun yang berani melukai mu".


"terima kasih". mereka berpelukan.

__ADS_1


suasana di pesta pernikahan tampak ramai dengan berbagai suka cita dari teman-teman nya. ranti dan via lebih memilih diam dan tak melakukan apa pun.


"ranti, via kenapa tidak bersemangat sekali? bukan kah ini pernikahan sahabat kalian". ucap serly dengan nada menyindir.


"mau apa kau, kami bahagia kok. pergi sana!". bantah ranti dengan geram.


"baiklah aku pergi, seperti nya kekuatan nya akan tumbuh kembali". ucap serly kepada teman-teman nya.


pernikahan telah usai, rio menjemput anisa untuk tinggal bersama. Dua koper milik anisa telah siap dan masuk ke dalam bagasi mobil. Namun dia menunggu anisa berpamitan dengan keluarga nya. Anisa tampak biasa saja ia tak mengeluarkan air mata sedikit pun. itu membuat surya yakin bahwa anisa tulus menikah dengan rio.


"ibu, aku akan sering menelepon mu. jangan lupa terus doain anisa ya". ia memeluk ibu nya.


"Do'a ibu selalu ada untuk mu nak. jadilah istri yang baik dan sholehah untuk suami mu".


anisa melepas pelukan nya dan tersenyum ke arah ibunya. ia mendekat ke arah ayahnya.


"ayah, maafkan anisa. Dan terima kasih telah mendukung anisa". ayahnya hanya tersenyum dan mengelus hijab nya.


"ayah selalu ada di belakang mu, semoga hidup mu bahagia dengan rio". anisa tersenyum.


"cih, omong kosong apa tadi. anisa akan bahagia dengan rio? huh aku benci kata-kata itu". batin fikri dalam hati.


"Dek, jangan nakal ya. tetap semangat belajar. jangan sungkan telepon kakak kalau kau ada tugas yang sulit lagi". ia memeluk adik nya, zahra yang baru berusia 16 tahun itu mengangguk kan kepala. zahra ingin menangis saat mengingat betapa baik kakak nya.


"dek kalau kak fikri melakukan hal-hal yang tidak baik lagi. telefon kakak ya, jangan lupa nasehatin dia". bisik nya di telinga zahra. zahra tertawa kecil.


"Dan kak fikri, makasih ya. udah mau jagain anisa, bela anisa, dan selalu jadi pendengar setia anisa".


"aku bosen mendengar nya. aku ini kakak mu, apapun yang ku lakukan semata-mata karena kasih sayang seorang kakak terhadap adik nya". Fikri memeluk anisa. surya dan ratna tampak sedih karena ada fikri lah anisa selalu ceria.


"aku pamit dulu, ayah, ibu, zahra dan kak fikri. Assalamualaikum". ucapnya.


"waalaikumsalam".

__ADS_1


anisa menyusul rio yang tengah duduk di mobil, mobil melaju dengan sangat pelan.


__ADS_2