
Bus berhenti di persimpangan jalan menuju rumah Zahra.
"Alhamdulillah udah nyampe makasih ya kak Raksa udah nemenin Zahra pulang naik bus". Ujar nya tersenyum manis.
"Sama-sama, ngomong-ngomong boleh gak aku mampir ke rumah kamu. Sekalian jenguk Jeno?".
"Eh jangan, jam segini rumah sepi kak. Ibu sama kak Anisa jaga toko, Jeno les, ayah ke bengkel, dan kak Fikri kerja".
Raksa sedikit kecewa mendengar nya, Zahra yang melihat raut wajah laki-laki di depan nya merasa tidak enak. Apalagi Raksa hanya ingin menemui Jeno.
"Yaudah gini aja, gimana kalau kita ke toko ibu aja sekalian ketemu kak Nisa". Tawar nya, sesaat itu pula raut wajah nya berubah.
"Nah boleh tuh sekalian silaturahmi sama calon kakak ipar... Ehh salah maksud nya sama kakak ipar beneran. Hehe typo". Zahra merasa ada yang aneh dengan Fikri.
"Kak Raksa gak papa kan?". Tanya nya dengan nada khawatir, mungkin saja Raksa sedang tidak enak badan jadi kata-kata nya sedikit aneh.
Raksa jadi salah tingkah saat Zahra menatap nya dengan tatapan tak biasa. Antara canggung dan bahagia yang di rasakan nya saat ini. Tanpa di sadari, wajah Raksa menjadi merah.
"Astagfirullah, kak Raksa pasti sakit kan tuh wajah nya merah gitu. Zahra antar pulang ya, atau Zahra antar ke puskesmas terdekat". Mata polos Zahra terlihat sangat panik, dan merasa bersalah karena mengajak Raksa naik bus.
Raksa meraba wajah nya dengan heran, padahal ia baik-baik saja. Tak di rasakan panas atau gejala demam lain nya.
"Ah aku baik-baik saja kok".
"Enggak, pasti kak Raksa lagi sakit kan. Yaudah yuk ke rumah Zahra entar Zahra kasih obat". Ujar nya menarik ujung baju Raksa untuk mengikuti nya masuk ke dalam pekarangan rumah.
Raksa terlihat senang karena Zahra mencemas kan nya. Apalagi saat Zahra menarik ujung baju nya membuat suasana hati nya berdebar-debar tak karuan.
Raksa duduk di luar sembari memandang kepergian Zahra yang masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa mangkok berisi air hangat dan lap, serta obat demam lain nya.
"Kak Raksa, Zahra izin kompres kening kakak ya. Boleh kan".
Raksa sedikit tertawa saat mendengar, bagi nya itu sangat lucu. Baru pertama kali ini dia mendengar seseorang meminta izin untuk hal seperti ini.
"Kak Raksa kok malah ketawa sih". Zahra hanya menggaruk kening nya yang tak gatal.
"Ada yang aneh sama Zahra". Lanjut nya.
__ADS_1
"Enggak kok, yaudah boleh-boleh". Zahra pun mengompres kening Raksa dengan hati-hati.
Raksa memperhatikan wajah Zahra yang lucu, bersih, dan sedikit cubby. Mata Raksa beralih pada mata Zahra yang tajam dengan alis tebal dan bulu mata panjang nya itu.
Cantik... Gumam raksa dalam hati.
"Hallo kak Raksa". Zahra melambai kan tangan nya untuk menyadar kan Raksa yang terlihat melamun.
"Eh iya zahra".
"Kompres nya udah selesai, nih obat nya. Eh iya lupa Zahra ambil dulu nasi sama air putih nya dulu ya. Gak baik kalau makan obat dengan perut kosong".
Raksa mengangguk kan kepala nya, hingga terdengar suara panggilan dari ponsel nya.
Sahira
Raksa menekan tombol 'tolak' karena itu membuat suasana hati nya merasa terganggu.
_________________________________________
"Anisa kamu pulang dulu sana, siapin makanan buat ayah kamu. Biar toko ibu yang jaga". Titah Ratna pada Anisa yang sedang melipat baju untuk di pajang.
"Waalaikumsalam".
Hari ini cuaca sangat panas, lalu lalang orang-orang berdesakan sana-sini seolah menutup seluruh permukaan jalanan.
Anisa berjalan pelan sembari bersenandung ria. Cuaca saat ini tak membuat nya merasa suasana nya terganggu.
Perasaan nya tak enak, seperti ada orang yang mengikuti nya sedari tadi. Di lihat nya sekeliling tak ada siapa pun.
"Kok aku ngerasa ada yang ngikutin aku ya. Apa mungkin cuma perasaan aja kali". Ujar nya sambil terus berjalan.
Hingga terdengar suara seseorang sedang mengaduh, di lihat nya Fikri tengah memukul seseorang. Anisa kemudian berlari menghampiri Kakak nya.
"Kak stop!". Anisa berusaha memisah kan Fikri agar tidak terus-menerus meninju orang yang terlihat tak berdaya itu.
Fikri berhenti, ia mengatur nafas nya dengan kasar.
__ADS_1
Anisa mendekati orang yang tergeletak itu dan berusaha melihat wajah nya.
"Dia ngikutin kamu dari tadi". Ujar Fikri dengan emosi.
"Tapi gak gini cara nya kak. Emm...Hallo tuan maaf kan kaka saya ya". Anisa sangat bersalah. Ada beberapa memar di bagian wajah nya yang tertutup tangan.
Laki-laki itu mengangkat wajah nya perlahan, sontak Anisa dan Fikri terkejut.
"Pak Hafidz?! Astagfirullah maaf pak maaf". Anisa memohon maaf dan menutup mulut nya tak percaya .
Hafidz berusaha berdiri namun sulit akhir nya di bantu Fikri.
"Tidak apa-apa. Ini salah saya karena ngikutin kamu, niat bapak cuma mau nyamperin kamu kok gak ada maksud apa-apa". Anisa merasa bersalah, ia lantas melirik Fikri yang hanya diam dengan wajah tak bersalah.
"Tapi jelas-jelas tadi bapak yang ngikutin adek saya. Maka nya pak jangan bertindak kaya gitu, bikin orang curiga aja". Ketus Fikri tak mau di salah kan.
"Kakak...". Anisa memperingatkan kakak nya untuk bersikap baik pada orang lain apalagi ini adalah pria yang di cintai adik nya sendiri.
Fikri pasrah, akhir nya dia meminta maaf karena telah memukul orang yang tak bersalah.
"Maaf". Singkat nya sembari menjulur kan tangan nya. Hafidz membalas uluran tangan Fikri dengan lembut.
"Tak apa, ini juga salah saya".
"Bapak ngomong-ngomong ada yang bisa Nisa bantu?" tanya Anisa.
"Saya cuma mau mesen mukena sama kamu".
"Benar kah, baik pak. Nisa bakalan cariin mukena yang bagus buat bapak". Anisa terlihat senang, Fikri bisa melihat raut wajah adik nya itu hanya bisa tersenyum. Andai Hafidz tau jika adik nya saat ini adalah pengagum rahasia nya.
"Pak saya obatin dulu luka bapak, kebetulan Nisa bawa obat luka". Tawar nya.
"Tidak usah saya ada urusan lain, jadi permisi kalau begitu. Assalamualaikum". Sapa nya sebelum pergi.
"Waalaikumsalam". Anisa memandangi kepergian Hafidz dengan raut penyesalan.
"Sudahlah aku kan sudah minta maaf tadi". Fikri menyemangati adik nya. Anisa hanya diam tak berkomentar.
__ADS_1
"Lain kali jangan asal pukul kak". ujar nya memperingatkan.