La Tahzan, Anisa

La Tahzan, Anisa
bab 5


__ADS_3

Reno tak henti-hentinya memandang anisa, itu membuat fikri tak tenang.


"Anisa, kakak ingin bicara dengan mu di taman". ucap fikri di sela pembicaraan, semua orang terkejut.


"kalau begitu kami permisi". sapa anisa sebelum menyusul kakak nya ke taman belakang. Rumah rio memang mewah, bahkan di depan atau di belakang nya banyak sekali taman terawat di sana.


"Ada apa kak". tanya anisa, mereka kini duduk bersama di bangku taman.


"Kau kenal dekat dengan Laki-laki tadi?".


"Laki-laki siapa? Kak Reno maksud nya?".


"iya".


"Aku tidak terlalu dekat, dia hanya menyapa ku saja".


Anisa memalingkan wajah nya, berharap kakak kandung nya itu tak menanyakan lebih detail tentang Reno, ia takut Kakak nya menjadi salah paham jika sebenarnya ada sesuatu yang membuat diri nya tak nyaman.


"Aku tidak menyukai nya, jadi berhati-hati lah".


"kenapa begitu?". tanya anisa heran.


"Kau mungkin tau alasan nya". kini sorot mata fikri menjadi lebih tajam dari sebelum nya.


Anisa salah tingkah, ia sangat kesulitan meyakinkan kakak nya. Fikri selalu tau apa yang di pikirkan anisa.


"Kak, jangan buat masalah dan su'udzon dulu. Bagaimana kabar via dan ranti?". tanya nya mengalihkan pembicaraan.


"mereka baik, apa kau belum menelpon mereka?".


"aku lupa, kak rio sedang sakit jadi aku gak sempet nelpon mereka".


"oh begitu, jangan lupa hati-hati".


"baiklah kak terima kasih sudah peduli sama anisa". fikri kesal, selalu saja terima kasih yang di ucapkan adik nya.


keluarga anisa pamit pulang, kini anisa kembali merawat rio yang terbaring lemah tak berdaya.


"aku sudah memandikan mu, kalau begitu aku sholat ashar dulu ya".


"baiklah, aku ingin tidur lagi".

__ADS_1


Anisa kemudian sholat ashar, di tengah sholat nya ia berharap agar rio kembali sembuh. Anisa benar-benar tak tega melihat suami nya terbaring lemah.


selesai sholat, anisa duduk di samping rio. ia mengelus rambut rio. karena merasakan seseorang mengelus rambut nya, rio terbangun.


"aku baik-baik saja, jangan khawatir. Jeno mana?". Anisa terkejut ketika rio bangun.


"Dia pergi mengaji dengan teman-teman nya, suhu tubuh mu makin panas. Kita ke Rumah sakit aja ya". ucap anisa cemas.


"Ini hanya demam biasa, lagi pula aku sudah punya obat. Jika kau yang merawat nya, insya Allah akan sembuh kok".


"yaudah kalau begitu istirahat lah". ucap anisa, ia pun menyelimutinya.


Keesokan hari nya......


Pagi cerah sekali, burung-burung berkicau an kesana-kemari. Kini Anisa tengah membasuh tubuh rio, tak peduli jika saat ini anisa masih saja belum merasakan kehadiran cinta. Rio sangat senang memiliki istri se sabar anisa, meski mungkin gadis yang di nikahi nya belum bisa mencintai nya.


Tokk....


Tiba-tiba suara pintu di ketuk.


"Buka pintu nya". titah rio dengan lemah, tubuh nya masih saja sakit.


"Baiklah". Anisa menghentikan tugas nya dan beranjak menuju pintu. Saat di buka berdirilah Reno yang tengah membawa makanan di nampan.


Reno tersenyum menatap Anisa, mata Reno beradu pandang dengan mata rio. Anisa bisa merasakan sesuatu saat kedua nya bertatapan. ya sesuatu yang tak bisa di tebak dengan kata-kata.


"aku membawa sarapan untuk Rio, setelah itu jangan lupa di minum obat nya".


"terima kasih kak".


Anisa mengambil makanan dari tangan Reno, meski ia masih bingung karena tidak biasa nya kakak ipar nya itu membawa sarapan. Reno kemudian pergi, anisa menutup pintu kembali dengan kaki nya.


Anisa menyuapi Rio dengan pelan-pelan dan penuh perhatian. Raut wajah rio tampak ingin sekali mengatakan sesuatu yang serius namun anisa pura-pura tak melihat.


"Kapan kau akan mencintai ku?". pertanyaan itu membuat anisa terkejut.


"Jika Allah berkehendak, maka cinta akan tumbuh dengan sendiri nya". balas anisa.


"apa kau mengkhawatirkan ku?". tanya nya lagi


"Tentu saja, aku dan semua orang mengkhawatirkan mu".

__ADS_1


"aku mencintaimu anisa, dan akan selalu mencintai mu". tangan rio menyentuh tangan anisa. Tak ada getaran apa-apa yang di rasakan oleh anisa.


"maaf aku belum bisa mencintai mu, tapi insya Allah aku akan berusaha mencintai mu".


"Aku mengerti". Rio mencium kening anisa dengan lembut. mata nya berkaca-kaca. Anisa bingung, apa akan terjadi sesuatu dengan nya, sehingga rio begitu dramatis.


sarapan rio sudah habis, kini anisa beranjak mengambil obat di dalam laci. Kosong, obat itu habis. Anisa panik.


"Ya ampun obat nya habis".


"Benarkah?".


"kalau begitu aku akan menyuruh bi ijah membeli nya". Anisa hendak pergi, namun di cegat rio


"Anisa, kau saja yang membeli obat nya". titah rio dengan nada lemah. Anisa heran ia benar-benar bingung dengan sikap rio. kini dirinya jadi semakin lemah padahal tadi ia tak apa-apa.


"Kau baik-baik saja kan? Wajah mu pucat sekali". Tanya anisa cemas. Rio hanya tersenyum.


"Aku baik-baik saja, ini resep nya".


"baiklah, aku pergi dulu".


Anisa bergegas pergi menuju apotek, di lihat nya suasana rumah sangat sepi. Mungkin mereka sedang sibuk. Ia di antar supir rio menuju apotek.


Anisa tak tau dimana toko apotek terdekat, karena ini bukan kampung nya. Karena supir nya tau, anisa bisa bernafas lega. Antrian di apotek itu sangat panjang, hingga setengah jam. Sudah selesai dengan urusan nya itu, anisa pulang.


sesampai nya di rumah, ia melihat Lalu lalang orang-orang di rumah. Padahal terakhir kali ia melihat rumah itu sangat sepi tadi pagi. Anisa penasaran ia mendekati orang-orang yang tengah menangis.


"Ayah!! jangan tinggalin Jeno!! ayah jangan pergi!!!". Deg, jantung anisa berdetak kencang setelah mendengar teriak kan jeno.


"Anisa kemana saja kamu, tega nya kau meninggal kan rio sendiri di kamar!". teriak julia dengan tangis yang semakin kencang.


Anisa diam tak bergeming, ia merasakan sekujur tubuh nya di sengat listrik.


"ada apa?". tanya anisa dengan nada lemah.


"Rio meninggal". ucap adam sembari memeluk istri nya yang terus menerus menangis.


"Innalilahi wainnailaihi Raji'un, Ya Allah". air mata lolos membanjiri pipi anisa, tangan nya bergetar hebat. Obat di tangan nya jatuh.


Anisa mendekati rio yang sudah tak bernyawa, ia mengutuk dirinya sendiri. Seharusnya ia tak pergi pada saat itu, namun Allah swt. lebih dulu mengambil rio.

__ADS_1


"jadi ini maksud dari semua kata-kata kamu barusan, kamu mau ninggalin aku". ucap anisa sembari menangis di pelukan rio.


Semua orang menangis, kecuali Reno. sebuah senyuman simpul tergambar jelas di bibir nya. Ia menatap Rio dengan tatapan penuh kemenangan. Sebuah misteri baru saja di mulai...


__ADS_2