La Tahzan, Anisa

La Tahzan, Anisa
bab 8


__ADS_3

Anisa hanya bisa mengintip percakapan orang-orang di balik pintu kamar nya, ia benar-benar kagum dengan pujaan hati nya, yang Anisa suka dari hafidz adalah sifat ramah dan lembut nya. Sudah lama Annisa mencintai hafidz, bahkan saat pertama ia menginjakkan kaki di dunia perkuliahan. Saat itu ia mendapat beasiswa karena kepintaran nya, cita-cita nya menjadi seorang dokter harus pupus karena pernikahan nya.


Sebenar nya Anisa ingin melanjut kan kuliah, namun kewajiban nya sebagai ibu rumah tangga harus lah ia utama kan. Saat Rio meninggal pun, mertua nya hanya menganggap ia sebagai pembantu di rumah ini. Walau begitu Anisa tak keberatan.


Pukul 20:30 malam, hafidz pamit pulang. Anisa menjadi kecewa, Hafidz melihat Anisa di balik pintu langsung menghampiri nya.


"Anisa, Saya minta waktu sebentar. Ada hal yang harus saya bicara kan" ujar nya seraya tersenyum.


Anisa benar-benar gugup, kenapa harus ketahuan mengintip sih. Dengan malu-malu ia mengiyakan dan mengajak Hafidz ke Taman Depan halaman. Semua orang hanya menganggap itu sebagai komunikasi antara dosen dan murid, namun berbeda dengan Reno. Reno menganggap itu adalah usaha awal hafidz untuk mendekati anisa.


"Ada apa bapak mengajak saya bicara?". Anisa mengawali pembicaraan. Mereka duduk di bangku taman yang terpisah dengan meja yang sama.


"Kapan kamu menikah, Kok bapak gak tau ya. Hehe ketinggalan info". balas nya seraya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. Anisa hanya tersenyum menanggapi sikap dosen nya itu.


"Hmmm. sekitar 2 mingguan pak, padahal anisa udah ngundang bapak kok. Mungkin bapak lagi sibuk waktu itu".


"Eh iya, minggu-minggu kebelakang bapak emang sibuk ngurus nilai jadi gak tau kamu nikah. kamu keluar dari campus pun bapak berpikir kamu lagi cuti. Bapak sudah denger tentang suami kamu tadi dari Ibu nya raksa." Raut wajah Anisa jadi sedih, apa mungkin dosen nya itu percaya jika kematian suami nya adalah perbuatan nya sendiri.


"Bapak percaya kalau nisa yang ngeracunin mas Rio?". Hafidz tersenyum menanggapi pertanyaan Anisa.


"Bapak kenal kamu udah 2 tahun lebih, awal nya bapak terkejut tapi setelah di pikir-pikir mungkin itu adalah sebuah kesalahpahaman". Anisa mengangguk, dalam hati nya ia benar-benar-benar kagum dengan pemikiran hafidz yang dewasa itu.


"Terima kasih bapak sudah percaya pada saya".


"sama-sama, ini adalah ujian dari Allah swt. siapa yang berhasil melewati nya, insya Allah akan ada kebahagiaan dalam hidup nya. jangan lupa selalu bersyukur nisa, bapak pamit dulu kalau begitu. Wassalamu'alaikum". sapa nya seraya beranjak dari bangku taman. Anisa mengangguk, hati nya sangat tenang setelah mendengar pesan dari dosen nya.


Ia mengantar dosen nya ke depan gerbang, kedua nya sama-sama membisu. Hafidz kemudian mengeluarkan sesuatu di saku celana nya, keluar lah sebuah tasbih kecil dan memberikan nya pada Anisa.


"Ini untuk kamu, bapak tau kamu pasti banyak tertekan setelah apa yang terjadi. Tasbih ini akan menenangkan kalau kamu rajin menggunakan nya. Maaf bapak gak bisa melakukan apa-apa selain berdo'a". ucap nya dengan nada lemah.


Anisa bahkan salah tingkah saat hafidz menyodorkan tasbih itu ke tangan nya. Ia buru-buru mengendalikan diri nya.


"Tidak apa pak, terima kasih". balas nya.


Hafidz mengangguk dan kemudian masuk ke dalam mobil nya. Mobil itu perlahan menjauh dari pandangan Anisa. ada seseorang yang menatap pemandangan tadi terlihat kesal, ya siapa lagi kalau bukan Reno.


"hari ini kau selamat Anisa, lihat saja nanti apa yang akan aku perbuat". ujar nya.


______________________________________

__ADS_1


"Aku sudah tidak tahan menunggu, perasaan ku tidak enak. Apa yang sebenar nya terjadi dengan Anisa... awas saja jika ada yang berani menyakiti anisa, akan ku siksa dia!". Fikri meninju tembok di depan nya, ia benar-benar frustasi karena tak ada kabar sama sekali dari Anisa.


Surya dan ratna berpikir anisa sedang sibuk mengurus rumah tangga nya dan tak boleh ada yang menganggu. Padahal mereka tak tau yang sebenar nya terjadi di sana.


Julia sengaja merahasiakan kematian Rio agar Anisa tidak pulang ke rumah ibu nya, jadi ia bisa membalas kejahatan Anisa. Karena jika Anisa di penjara pun ia tak akan bisa menyiksa Anisa.


______________________________________


Anisa memilih kembali ke kamar, dia mengusap dan mencium tasbih kecil itu dengan perasaan bahagia. Ia merebah kan diri nya di kasur setelah menutup dan menngunci pintu.


"Ya Allah. Nisa kok jadi makin baper gini. Astagfirullah... huhhfff nisa gak boleh baper". Ujar nya berbicara sendiri. Ia meletakan tasbih itu dan menerawang ke atas.


Dia rindu keluarga nya, Handphone nya pun selalu ia mode pesawat kan agar tidak ada panggilan yang masuk. Itu adalah perintah dari ibu mertua nya.


Tok...Tok... pintu di ketuk.


Anisa beranjak dari kasur, Ia kemudian jadi was-was karena takut siapa tau Reno. Ia melihat dari celah pintu, berdiri lah raksa. Anisa bernafas lega dan membuka pintu.


"Eh ada apa raksa". tanya Anisa di depan pintu.


"Kakak ipar, boleh raksa bicara? kita bicara nya di ruang tengah aja soal nya gak enak kan kalau di sini".


Anisa mengangguk dan berjalan di belakang raksa. Mereka duduk di ruang tengah.


"mungkin kita beda jurusan".


"iya mungkin, kakak ipar sangat dekat dengan pak hafidz".


"ah.. itu wajar saja kan pak hafidz itu orang nya ramah dan mudah akrab dengan siapa pun". balas Anisa dengan tersenyum.


"Tapi dalam pandangan ku kok kayak nya pak hafidz suka sama kakak ipar". Anisa tersedak walaupun ia tak makan sesuatu.


"uhuk. uhuk.". Raksa mengambil air putih.


"Terima kasih".


"ah baiklah".


"jangan bicara yang enggak-enggak".

__ADS_1


"maaf, tapi itu menurut raksa aja. Usia pak hafidz padahal sudah 27 tahun tapi dia belum menikah, seolah-olah ia sedang menunggu seseorang. Apalagi saat aku lihat tatapan pak hafidz lihat kakak ipar tuh beda.".


"mungkin belum waktu nya, sudah ah jangan di terus kan. Lebih baik kamu tidur besok kan harus kuliah". Anisa beranjak dari Kursi yang sukses membuat raksa curiga.


Anisa kembali ke kamar, ia masih memikir kan kata-kata raksa.


"Apa benar jika pak hafidz suka sama aku ya? Ah enggak mungkin deh". Anisa kemudian tidur karena malam sudah sangat larut. Tapi kata-kata raksa masih terngiang dalam otak nya. Karena susah tidur Anisa memilih sholat malam agar pikiran nya menjadi tenang.


Pagi hari...


pukul 03;00 Reno mulai melakukan aksi nya, Dia mindik-mindik ke kamar Anisa dengan bantuan kunci cadangan yang ia minta dari ibu nya. Di lihat nya Anisa yang masih tertidur pulas tampak sangat cantik tanpa sehelai hijab nya.


Reno mendekati Anisa dengan pelan-pelan. Tapi Allah swt. selalu melindungi nya, anisa terbangun saat mendengar suara langkah kaki. Ia berteriak ketika Reno hendak menindih nya.


Reno buru-buru menutup mulut anisa dengan tangan nya. Anisa memberontak, Ia ingin berteriak namun sangat sulit karena ia juga tidak bisa bernafas. Tak ada cara lain, Anisa menggigit tangan Reno. Sudah lepas, Anisa mencari hijab nya dan berlari keluar.


Anisa berlari dengan panik dan ketakutan. Ia mengetuk pintu kamar mertua nya. Julia membuka pintu kamar nya.


"ibu. Tolong nisa". sedikit ter engah-engah.


"Ada apa lagi, berani sekali menganggu tidur ku". ketus nya.


Tiba-tiba Reno muncul dan bersandiwara.


"Anisa ada apa? bukan kah tadi kau mengetuk pintu kamar ku". ujar Reno.


Anisa membulat kan mata nya. Julia semakin curiga dengan Anisa, ada apa dengan nya. Meracuni Rio, berpelukan dengan Reno, so akrab dengan hafidz dan mengetuk pintu kamar orang lain. dia jadi gila. pikir julia.


"kau sangat aneh nisa, aku akan membawa mu ke rumah sakit jiwa". ucap julia.


"Apa!". ucap nya terkejut.


"Kamu semakin tidak waras anisa, aku akan membawa mu ke rumah sakit jiwa nanti".


"Astagfirullah, tidak ibu.. jangan salah paham".


"Reno bawa dia ke kamar dan kunci pintu nya". titah julia pada Reno.


"baik ibu".

__ADS_1


Reno menarik tangan Anisa, dengan kesal Anisa berusaha memberontak.


"Jangan pegang tangan ku, aku kecewa dengan mu". teriak nya dan berlari ke dalam kamar. Reno sangat puas, meski ia gagal mendapatkan Anisa. Tapi ia puas bisa membuat nya tersiksa.


__ADS_2