La Tahzan, Anisa

La Tahzan, Anisa
bab 14


__ADS_3

Anisa resah, apa maksud dari mimpi barusan. Itu mungkin firasat baik, bisa jadi Rio sedang berpamitan kepada nya.


Anisa terbangun tepat pukul 3 sore, kaki nya melangkah gontay membuka pintu kamar. Di lihat nya suasana rumah sangat sepi, tak ada siapa pun.


"Kak?". Anisa terkejut. Zahra berdiri di samping kakak nya dengan heran.


"Isss.. kamu bikin kakak kaget aja, oh ya mana Raksa?".


"Dia udah pulang se jam yang lalu, aku yang mencarikan dia taksi".


"ouh gitu, padahal kakak mau bilang makasih sama dia. Eh bentar, kamu jalan-jalan sama Raksa kemana aja? Hayo...". Zahra merasa malu saat kakak nya menanyai sesuatu dengan sedikit mengintimidasi diri nya.


"cuma jalan-jalan doang kok kak, gak ngapa-ngapain lagi. Oh iya kak, Jeno lagi main sama kak Fikri di teras. Akrab banget lho kak".


"kok ngalihin pembicaraan sih, ciee.. kayak nya ada sesuatu nih". Anisa mencubit hidung Zahra dengan lembut.


"udah ah Zahra mau belajar". ucap nya sambil berlalu saking malu nya.


Anisa hendak pergi keluar memastikan keberadaan Jeno, malah berpapasan dengan nya.


"Jeno, kok udahan aja main nya. Mana om Fikri nya". Tanya Anisa, di lihat nya Jeno tersenyum manis menanggapi nya.


"Jeno udah 2 jam main sama om Fikri, katanya om Fikri ada hal penting maka nya dia pergi dulu".


"Ouh ya udah kamu belum makan kan, yuk mamah buatin makanan". Tawar nya, Jeno mengangguk.


_________________________________________


Fikri berjalan melewati panas nya kota, ia adalah sosok yang suka berpergian ketimbang diam di rumah tanpa melakukan apapun. Bagi nya lingkungan luar adalah rumah terbaik.


asyik menikmati hembusan angin dan panas nya kota, Fikri memilih duduk di tepi danau kesukaan nya. Hari ini biasa nya ia sedang duduk dengan adik kesayangan nya, tapi semua berubah. Ia sadar, Zahra bukan lagi anak kecil.


Tiba-tiba seseorang duduk di samping nya dan menyandar kan kepala nya ke bahu Fikri. Sontak saja Fikri terkejut.

__ADS_1


"Kau?? berani sekali menyentuh ku!". Teriak Fikri mengagetkan sosok yang bersandar di bahu nya.


"Kak Fikri, jangan galak-galak dong. Serli nyaman kayak gini". Sosok itu ternyata adalah Serli, gadis centil itu sedang tersenyum ke arah nya.


Fikri memindah kan kepala serli dengan kasar, ia beranjak berdiri.


"Ngapain kesini, ganggu orang aja". Ketus nya, Serli juga berdiri menyeimbangi tubuh nya agar sejajar dengan Fikri.


"Ganteng banget sih kalau lagi ngambek, makin suka kan. Nah Serli udah terlanjur suka sama Kak Fikri, jadi kak Fikri harus tanggung jawab". Rengek nya dengan manja.


"gue emang ganteng, dan lho buriq". Serli memajukan bibir nya dengan kesal, meski begitu Serli tak pernah menyerah untuk mendapat kan perhatian Fikri.


"Kalau misal nya Serli suka sama orang lain, kak Fikri bakal ngerasa cemburu gak?".


Fikri tertawa dingin, menatap tajam ke arah wanita yang sedang tersenyum manis itu.


"Haha, apa peduli ku. Kau mau dekat dengan orang gila pun masa bodo". Serli menghela nafas kecewa, Fikri hanya tertawa. Bagi nya ini adalah hal yang menggelikan, padahal mengecewakan bagi Serli.


"Pokok nya, apapun yang terjadi. Mau kak Fikri benci sama Serli atau pun ngatain Serli jelek. Serli bakal an tetep sayang sama kak Fikri, terus juga gak bakalan nyerah". Ujar nya dengan percaya diri.


"Bisa, ya harus bisa! pokok nya bakal bisa". Serli berteriak dan berlalu pergi.


Fikri menghembuskan nafas, suasana tadi membuat nya sesak. Berhadapan dengan wanita aneh tadi membuat nya tak bisa bernafas.


__________________________________________


Suasana di rumah Hafidz cukup lah damai, meski ia adalah anak tunggal dan memiliki harta banyak, kesepian adalah hal yang harus ia jalani.


"Hafidz cepat lah menikah, kamu sudah mapan. Harus sampai kapan kamu sendiri. Umi akan mencarikan wanita terbaik untuk mu".


Hafidz dan Ibu nya tengah duduk di ruang tengah sembari menikmati teh manis yang tersaji di meja.


"Tidak umi, Hafidz masih belum siap menikahi gadis lain. Tunggu lah umi, Hafidz akan membawa kan menantu terbaik pilihan Hafidz. Hanya saja waktu nya belum pasti". Segurat penyesalan terpancar jelas di wajah nya.

__ADS_1


ibu nya hanya menatap nya kasihan, sebenar nya apa lagi yang di tunggu putra nya. pekerjaan nya sudah mapan, ilmu nya juga sudah cukup, dan Akhklah nya sangat baik.


"Ada kah seseorang yang kau cintai?".


Hafidz menatap ibu nya dengan bimbang, hati nya sangat bingung.


"Ada umi". lirih nya.


"Siapa? Kenapa tak kamu lamar dia".


"Hafidz juga akan melamar dia, hanya saja keburu orang lain yang melamar nya".


"Benar kah? Lalu apa yang membuat mu masih menunggu nya jika ia sudah punya suami".


"Dia sendiri umi, suami nya sudah meninggal".


"Innalilahi.. Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang".


"Aku akan melamar nya nanti, menunggu waktu yang pas. Umi doa kan Hafidz ya semoga rencana nya baik".


Ibu nya tersenyum, dia kemudian membelai rambut Hafidz dengan lembut dan mengecup nya.


"Doa Umi selalu mengalir untuk mu, Apapun yang kamu putus kan pasti yang terbaik bukan. Umi berharap perempuan yang kau nikahi nanti memiliki ahklak yang baik seperti mu".


"Sudah pasti umi, Hafidz tidak sembarangan memilih ibu untuk anak-anak Hafidz kelak".


"Seperti apa wanita itu, ibu ingin melihat nya". Hafidz mengeluar kan ponsel dari saku nya dan mencari poto untuk di tunjukan kepada ibu nya.


"masya Allah.. Cantik sekali, pasti dia sangat baik. Lihat lah wajah nya, sangat berseri-seri dan bercahaya". Puji ibu nya sesaat Hafidz memberi foto seseorang.


"Ini Foto waktu kami mengadakan praktik di laboratorium".


"Jadi dia mahasiswa mu?".

__ADS_1


Hafidz mengangguk dan memandangi sosok gadis di dalam foto nya dengan senyuman hangat. Andai saja ia terlebih dahulu melamar nya, mungkin saat ini mereka sedang hidup bahagia bersama.


__ADS_2