
Fikri menghampiri Anisa di dapur.
"Setelah ini kau akan kembali ke rumah itu?". Tanya fikri. Anisa hanya menghela nafas.
"Aku masih berstatus menantu kak, jadi sudah seharus nya aku pulang. Lagi pula kak Reno sudah di tahan, dan ada Jeno yang harus ku urus". Anisa menunggu teh siap di saji kan.
"Tinggal saja di sini".
"Kenapa".
"Aku khawatir dengan mu, apa kau tau betapa tersiksa nya kakak mu ini karena mencemas kan mu Nisa". Fikri memegang bahu adik nya dan mengecup pucuk kepala nya.
Ratna datang menghampiri Anisa dan Fikri.
"Fikri, sudah lah jangan terlalu mencemas kan adik mu. Sudah seharus nya Nisa mandiri". Ratna mengambil beberapa teh untuk di berikan pada tamu.
"Ibu...".
"Jangan terlalu mengendalikan hidup adik mu. Biar kan dia tenang dulu, baru kita putus kan apa yang terbaik untuk nya".
"Benar kak, Nisa masih butuh waktu untuk memutus kan". Kini Nisa yang berbicara.
Mereka kembali ke ruang tamu, memberikan beberapa teh.
"Anisa, jika kamu memilih untuk tinggal di sini tak apa. Kami paham". Julia mengambil teh untuk suami nya.
"Iya Nisa, keputusan ada di tangan mu". Adam mendukung perkataan istri nya.
Anisa tersenyum menatap kakak nya. Ia juga berat harus meninggalkan keluarga nya.
"Baik lah Nisa akan tinggal dengan keluarga Nisa". Ujar nya.
"Mamah Anisa, terus Jeno gimana".
"Jeno bisa tinggal di sini sama mamah Anisa, biar Nisa yang urus kamu. Nenek percaya sama Nisa". Julia menatap lekat cucu nya.
"Terima kasih ibu mertua". Balas Anisa.
"Sebagai permintaan maaf, kami sepakat akan memberi kan toko baju itu atas nama keluarga ini. Kalian bisa mengelola sendiri tanpa harus setor lagi kepada kami".
__ADS_1
Semua orang terkejut termasuk Ratna.
"Ah gak usah, itu terlalu berlebihan". Tolak Ratna halus.
"Tak apa, kami ikhlas kok". Julia kembali memaksa.
"Alhamdulillah terima kasih banyak".
Julia dan Adam pamit untuk pulang.
"Eh ngomong-ngomong Raksa mana?". Julia menatap mobil nya kosong.
"Dia bukan nya sedang jalan-jalan dengan adik nya Nisa". Pikir Adam. Istri nya pun mengangguk.
Mobil berjalan perlahan meninggalkan pekarangan rumah Anisa.
Adzan dzhuhur berkumandang...
"Kak Raksa, kita pulang yuk udah waktu nya sholat". Zahra beranjak duluan dari tempat mereka makan bakso. Raksa membayar makanan sebelum mengikuti Zahra.
"Kita sholat aja yuk di masjid biar sekalian berjamaah. Kamu mau gak?". Tawar Raksa.
Sesampai nya di masjid, banyak mata memandang mereka. Via dan Ranti menghampiri Zahra.
"Zahra, pacar kamu toh". Ranti melirik Raksa dengan seksama.
"Ehh bukan, ini kak Raksa. Adik nya kak Rio". Zahra menjelas kan.
"Hai nama ku Raksa". Sapa Raksa.
"Aku Ranti dan ini Via. Kami teman nya Anisa". Ranti memperkenalkan diri, Raksa hanya mangut-mangut.
"Eh kaya kenal deh, aku pernah liat kamu tapi di mana ya lupa lagi". Via menggaruk kepala nya yang tak gatal.
"Di campus mungkin". Raksa menjawab kebingungan Via.
"Iya bener, di campus. Waw ternyata kita satu campus loh".
Zahra hanya menyimak obrolan mereka.
__ADS_1
"Mau sholat?". Tanya Via kepada Raksa.
"Iya nih, gimana kalau kita berjamaah". Tawar Raksa, di balas anggukan dari kedua nya. Zahra sedikit kecewa karena ia tak jadi berjamaah berdua dengan Raksa.
Mereka masuk ke dalam masjid dari jalur yang berbeda, keadaan masjid cukup sepi karena semua jemaah sudah bubaran sekitar beberapa menit yang lalu.
Mereka bertiga sholat berjamaah di pimpin Raksa, batas antara jamaah laki-laki dan perempuan nyata nya tak membuat mereka merasa terhalangi.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabbarakatuh". Lantunan salam mengakhiri sholat mereka.
"Aku pulang duluan ya, Assalamualaikum". Via dan Ranti pamit pulang.
"Eh iya, Zahra kami akan ke rumah mu nanti sore kasih tau Anisa ya". Ranti mengingat kan Zahra sebelum akhirnya pergi.
"Baik kak, waalaikumsalam". Zahra melambai kan tangan.
Fikri mencari Zahra, keberadaan adik nya tak di temukan. Anisa yang kebetulan lewat melihat kakak nya sedang kebingungan.
"cari siapa kak?". Tanya Anisa sembari menatap bingung ke depan, penasaran apa yang di amati kakak nya.
"Aku tak melihat Zahra dari tadi, kemana dia". Pandangan nya tak teralih kan, Mata nya sibuk mencari seseorang.
"Iya ya, padahal Nisa cuma minta Zahra nemenin Raksa sebentar aja, tapi kok ini lama ya". Fikri menatap adik nya dengan khawatir.
"Apa? Zahra pergi dengan Raksa. Gimana kalau terjadi apa-apa dengan nya".
"Gak usah khawatir kak, Raksa bukan orang jahat kok. Dia yang bantuin Anisa mencari kebenaran di balik masalah Nisa".
"Bagus, aku pikir dia sama dengan kakak nya".
Anisa hanya tersenyum simpul, ia kembali ke kamar nya. Sebaik nya ia tidur siang karena hari ini badan nya cukup lelah.
"Anisa, terima kasih atas semua nya. Maaf kan aku dan keluarga ku. Hari ini aku bisa bertemu istri ku kembali. Tolong jaga Jeno dan jadikan dia anak yang sholeh". Anisa berada di ruangan gelap dengan cahaya terang menghiasi nya. Sosok putih itu melambai kan tangan untuk pergi.
"jangan pergi, aku kesepian". Anisa berteriak ketika sosok itu pergi, Rio... Sosok itu adalah Rio, dia bersama seorang wanita yang tersenyum ke arah nya.
"Terima kasih Anisa". sosok perempuan itu melambai kan tangan ke arah Anisa sebelum pergi dengan Rio.
"Tidak!!!". Anisa terbangun, Rupanya itu adalah mimpi. Keringat dingin membasahi kening nya.
__ADS_1