La Tahzan, Anisa

La Tahzan, Anisa
bab 17


__ADS_3

Fikri menemani Anisa untuk pulang, selama perjalanan tak ada yang membuka suara sehingga kedua nya hanya membisu.


"Nisa jangan ngambek dong". Bukan nya menjawab, Anisa malah menatap kakak nya datar.


Fikri yang merasa Bersalah akhir nya berhenti, membuat Anisa juga ikutan berhenti.


"Gak baik ngambek sama kakak sendiri ntar kualat tau". Bujuk nya agar Anisa tidak terus mengacuhkan nya.


Anisa menghela nafas dan tersenyum, membuat Fikri merasa lega.


"Nah gitu kan cantik" puji Fikri dengan mencubit pipi Anisa, kedua nya kemudian tertawa.


"Kak gak kerja?". Tanya Anisa setelah kembali melanjut kan perjalanan.


"Kerja kok, cuman tadi bos kakak nya kedatangan tamu jadi pulang lebih awal". Balas nya dengan antusias.


"Ouh... Kak kapan nikah? Udah hampir 28 masa mau jomblo terus". Ledek Anisa, Fikri memukul pelan bahu adik nya.


"Ya ngambek, di tanya gitu aja baperan".


"Yeaahh siapa juga yang ngambek, jangan nanyain kapan kakak nikah. Gak ada yang mau sama kakak". Ketus Fikri.


"Ihh siapa yang bilang, kakak tuh ganteng, keren, tinggi, cuma satu aja kurang nya...gampang emosian". Puji Anisa dengan kembali meledek kakak nya itu.


Fikri tersenyum kecut, memang itu kenyataan nya meskipun ia sempurna dalam hal fisik tapi nyata nya dalam hal sifat masih ada kekurangan.


"Udah ngatain nya, untung adek sendiri".


"Hehe, maaf kak. Nisa cuma becanda, jangan di masukin ke hati ya". Ujar nya dengan tertawa keci membuat kakak nya juga ikut tertawa.


_________________________________________

__ADS_1


"Ini kak Raksa nasi nya, maaf ya cuma sama telor aja abis Zahra gak bisa masak". Tukas Zahra dengan jujur dan sedikit malu-malu.


Memang dalam hal memasak Zahra tidak terlalu bisa, yang bertanggung jawab membuat masakan di rumah hanya lah Anisa dan ibu nya, sedang kan Zahra terlalu sibuk belajar.


"Gak papa, nanti kak Raksa ajarin kamu masak". Tawar nya dengan serius, tapi Zahra menganggap itu sebagai candaan maka nya ia tertawa.


"Ya orang serius gini di sangka becanda". Ujar Raksa dengan cemberut.


"Beneran?? Wah hebat kak Raksa, jarang-jarang ya pria bisa masak". Zahra mengacungi jempol untuk memuji Raksa.


"Hahah udah biasa". Raksa kemudian memakan nasi dan meminum obat yang di berikan Zahra walau sebenar nya dia tidak sakit tapi karena tidak enak dengan Zahra, ia pun pasrah.


________________________________________


Anisa dan Fikri tengah menatap pemandangan yang langka terjadi, di lihat nya Zahra dan Raksa tengah berbincang dengan riang.


Tanpa di sadari mereka melihat Anisa dan Fikri sedang berdiri memandangi kedua nya. Zahra terkejut dan buru-buru berdiri.


"Assalamualaikum". Sapa Anisa mendekati kedua nya, Fikri memasang wajah tak suka dan tangan di lipat ke dada nya.


"Kalian ngapain di sini berdua an". Tanya Anisa dengan muka curiga.


"Astagfirullah kak, Zahra gak ngapa-ngapain kok. Kak Raksa lagi sakit maka nya Zahra kasih obat".


"Ouh maaf ya dek, kakak gak nyangka apa pun kok. Oh ya Raksa mari masuk". Tawar Anisa, Raksa hanya tersenyum.


Anisa dan Zahra masuk ke dalam rumah menyisakan Raksa dan Fikri yang saling diam.


"Jangan terlalu dekat dengan Zahra, apalagi sampe ngelakuin hal-hal buruk pada nya". Ujar Fikri memperingat kan, Raksa hanya mengangguk paham.


Jujur Raksa sangat takut dengan Fikri, wajah nya saja sudah menampilkan imej yang dingin dan kasar apalagi sifat nya.

__ADS_1


"Jangan takut, aku tak akan membunuh mu". Lanjut nya, Fikri Seolah mengerti apa yang Raksa pikir kan. Raksa langsung tersenyum simpul menanggapi perkataan Fikri.


"Assalamualaikum, waw... Double kill". Teriak seseorang, tak lain adalah serly yang kebetulan lewat sana dan tak sengaja melihat Fikri dan Raksa tengah bersama.


Raksa tersenyum ramah sedangkan Fikri menatap malas ke arah serly.


"Hey jangan buat orang jantungan dengan tiba-tiba muncul di mana pun. Menganggu saja". Teriak Fikri dengan kesal.


"Ya Allah... Yang satu oppa korea yang satu nya lagi pangeran india. Mantap lah, mimpi apa aku semalam". Serly menampar pipi nya berkali-kali memastikan ini bukan mimpi.


"hey pergilah ganggu orang saja". ketus Fikri membuat Serly sedikit kesal dengan Fikri.


Raksa menatap nya heran, dan Fikri malah melongos masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan serly yang kegirangan.


Raksa pun menyusul Fikri masuk, sukses membuat Serly cemberut dan kecewa. Ia menendang beberapa kali batu di depan nya.


_________________________________________


Jeno pulang les bersama beberapa teman baru nya, penyesuaian dengan lingkungan baru nya sangat baik. Ia mudah bergaul dan berteman baik dengan orang baru, itu membuat Anisa tak perlu khawatir lagi.


"Jeno kami pulang duluan ya". Ucap salah seorang teman nya yang berambut kriting.


"Hati-hati ahmad". Jeno melambai kan tangan nya tanda perpisahan.


Kini Jeno berjalan sendirian, di lihat nya teman-teman baru nya sudah pergi jauh karena rumah mereka memiliki jalur arah yang berbeda.


Seorang perempuan tinggi, cantik, sexy dengan rambut pirang. Melambai kan tangan ke arah nya, kemudian tersenyum.


"Hallo Jeno". Sapa wanita itu dengan ramah.


"Kak sahira?". Jeno menatap wanita itu dengan sedikit terkejut. Di pandangi nya dari ujung kaki hingga ujung kepala memastikan bahwa perempuan di depan nya memang Sahira.

__ADS_1


Wanita itu bernama sahira. Gadis cantik yang baik hati namun sedikit pendendam.


#Hallo pembaca setia La Tahzan Anisa, maaf untuk saat ini author up nya dikit banget karena sibuk belajar. Kalian tau kan Sekarang lagi pandemi jadi author harus belajar online tiap hari# maaf ya^^


__ADS_2