
keesokan harinya...
Di campus, serly dan teman-teman nya sudah tak sabar menunggu anisa. Mereka baru saja mendengar kabar bahwa anisa akan segera menikah. kabar ini sudah sampai di seluruh penghuni campus.
"selamat siang anisa". sapa nya saat anisa dan teman-teman nya melewati serly di koridor.
"Untuk apa datang ke campus, bukan kah kau akan menikah". lanjut nya.
ranti dan via terkejut, mereka lantas melirik anisa yang hanya diam menundukkan kepala nya. teman-teman anisa tak tau tentang berita ini.
pernikahan seharusnya menjadi kabar yang membahagiakan, namun berbeda dengan anisa. Ia tampak murung, bukan karena pernikahan nya dengan rio, melainkan harapan nya menikah dengan orang yang di cintai nya harus pupus.
"kenapa tidak cerita sih kalau kamu mau nikah". tanya ranti memulai percakapan mereka di taman.
anisa tampak bersalah, seharusnya ia memberi tahu ranti dan via dulu.
"apa sulit mengatakan kepada kita, seharusnya ini kabar yang membahagiakan untuk kami". lanjut ranti, di balas anggukan oleh via.
"maaf, aku seharusnya tidak menyembunyikan ini dari kalian".
"lantas, kenapa murung?". tanya via.
"tidak, aku hanya merasa bersalah saja pada kalian".ucap nya berbohong.
"sudahlah, ini pernikahan mu kan? aku akan sangat bahagia". ranti tampak antusias.
"minggu depan adalah hari pernikahan ku, kalian datang kan". ucap nya dengan senyum yang dibuat-buat
"secepat itu? tentu saja". via dan ranti tampak bahagia.
Hari ini sepulang dari campus, anisa mendapati ibunya tengah duduk di ruang tamu. ia melihat sorot mata ibu nya yang sedikit mengkhawatirkan.
"Assalamualaikum". sapa anisa saat tiba di depan ibunya, ia mencium tangan.
"waalaikumsalam, sudah pulang. toko sedang tutup karena rio sedang sibuk mengurus pernikahan kalian".
"oh, anisa ke kamar dulu ya bu".
"baiklah, ibu keluar sebentar ada urusan. Ada makanan di meja, makan lah". ucapnya seraya mencium kening anisa.
anisa memasuki kamar nya, ia mengambil air wudhu dan sholat ashar. selesai sholat, tak henti-henti nya anisa memohon dan meminta. ia berharap Allah swt. memberi nya takdir yang baik, suami yang baik dan kehidupan yang berkah.
"kak anisa?!". teriak zahra dari ruang tamu, anisa buru-buru merapikan alat sholat nya.
"ada apa dek?".
"lihat ka fikri gak kak?". tanya nya cemas.
"enggak tuh kaka baru aja pulang, emang kenapa dek".
__ADS_1
"tadi ada atasan nya, katanya kak fikri gak masuk kerja".
"ya udah nanti kak anisa cari in, kamu makan dulu sana".
"oke".
mencari keberadaan fikri tidak lah sulit, anisa hafal sekali dengan kakak laki-laki nya. sehingga dengan sangat mudah ia menemukan nya.
"kak?". ucap anisa mendekati fikri yang tengah duduk tepi danau.
"hmm". melirik anisa sekilas.
"kakak marah ya nisa nikah duluan".
"hahaha!! kakak gak peduli nisa, yang kakak takutkan adalah hidup mu. aku tau rio adalah orang baik, tapi aneh nya aku gak tenang".
"kakak jangan su'udzon dulu, percaya sama Allah swt.".
"iya bawel". balas nya sembari mencubit hidung adik nya.
tiba-tiba telefon berdering di hp anisa. panggilan dari ayah nya.
"Assalamualaikum ayah, ada apa?".
"waalaikumsalam, cepat pulang. ada rio di sini katanya mau silaturahmi sama kamu".
anisa pulang dengan kakak nya, di perjalanan ia hanya diam. itu membuat kakak nya semakin khawatir.
"Assalamualaikum". sapa anisa setiba nya di pintu.
"Waalaikumsalam".
Ada ayah nya, ibu nya, zahra dan bahkan rio beserta anak nya.
"duduk". titah ayahnya saat nisa sudah masuk. ia kemudian duduk di samping zahra.
"oh ya nisa kami berdua pergi dulu ke dapur, kamu di sini sama rio di temani zahra ya. katanya ada yang mau di omongin sama kamu". ucap ayah nya sembari mengajak istri nya ke dapur. Fikri pergi ke kamar begitu saja.
"nisa?".
"iya mas".
"kalau kamu mau menolak pernikahan ini gak papa kok. jangan maksain hati kamu, aku ngelamar kamu atas dasar cinta. dan aku gak mau bikin kamu tersiksa".
"emmm.. nisa mau kok nikah sama mas, bukan kah tidak baik menolak lamaran. kalau masalah cinta, insya Allah akan tumbuh seiring berjalan nya waktu".
"benarkah? terima kasih nisa". ucapnya senang, nisa hanya tersenyum sembari tertunduk.
"ayah jadi ini ibu baru jeno?". tanya anak kecil yang bernama jeno itu.
__ADS_1
"iya, salam dulu sama tante nisa". ucap rio, di balas anggukan dari jeno.
"berapa umur mu?". tanya nisa dengan lembut saat jeno selesai mencium tangan nya.
"ayah bilang umur jeno 5 tahun".
"ah lucu, jeno suka ngaji gak?".
"suka. jeno di ajarin sama papah".
"anak pinter, selain ngaji jeno juga harus baik dan juga patuh sama ayah ya. sholat dan jangan lupa doain ibu kandung jeno juga". ucapnya ramah, anisa memangku jeno dengan sangat akrab layaknya ibu dan anak. itu membuat rio semakin mantap menikahi nya.
"Dia cocok dengan kakak". ucap zahra. anisa hanya tersenyum.
Datang lah surya dan ratna menghampiri mereka, melihat jeno akrab dengan anisa. membuat orang tuanya merasa sangat bahagia.
"kami pamit pulang dulu om tante".
"kenapa sebentar sekali?". tanya surya.
"ada urusan lain yang harus di kerjakan".
"ayo pulang jeno".
"ah ayah, sebentar lagi ayah. tante nisa sangat baik". jeno sangat betah berada di pangkuan anisa.
"gak boleh membantah ayah, jeno harus jadi anak yang patuh. ingat pesan tante ya. kamu harus pulang". ucap anisa membujuk.
"ah baiklah". jeno turun dari pangkuan anisa . anisa bernafas lega.
"jika tidak mencintai rio, jangan di paksakan nisa". Fikri dan anisa berada di luar rumah menikmati segar nya udara sore.
"aku bisa belajar mencintai nya kak". fikri sangat kesal dengan jawaban adiknya.
"belajar itu di sekolah bukan di rumah orang asing". ketus nya
"belajar bisa di mana saja, termasuk di rumah orang asing sekalipun".
"belajar apa? belajar mencintai orang asing yang tak kau tau asal-usul nya".
Air mata anisa tak bisa di bendung lagi, kemudian ia menghapus nya.
"kak rio sangat baik, jeno juga menyukai ku. tak ada alasan lagi untuk menolak mereka. anisa percaya sama Allah kak. ia tak akan keliru memberi nisa takdir, bukan kah jodoh juga datang dari orang yang tak kita kenal?".
"Aku bosan mendengar semua nya nisa, kau terlalu baik".
"kak nisa kenapa". kata zahra, ia syok melihat kakak nya menangis.
"bukan apa-apa, ayo masuk. kakak bantuin kamu ngerjain tugas ya". jawab nisa, kemudian membawa zahra masuk ke dalam. fikri menghembuskan nafas berat nya.
__ADS_1