La Tahzan, Anisa

La Tahzan, Anisa
bab 12


__ADS_3

Raksa tertunduk lemas, kekesalan menyelimuti nya. Antara percaya dan tidak. Julia melihat anak bungsu nya merasa sakit, ia tak menyangka jika Reno berani mengungkit masa lalu Raksa.


"Jadi selama ini kalian semua menyembunyikan identitas Raksa. Lalu siapa orang tua kandung Raksa. Jawab ayah, ibu..". Teriak nya.


Polisi akhir nya datang, dan mengaman kan Reno yang tak henti-hentinya menyumpahi Raksa. Kedatangan polisi adalah rencana Raksa, ia sudah mengatur waktu terbaik menjebak kakak nya.


"Hey anak haram kau puas, kau tau aku menjadi iblis seperti ini karena mu. Dasar adik tak tau di untung. Kau dan Rio sama saja. Hahaha!!!". Polisi segera membawa Reno pergi.


"Selamat Malam, Terima kasih atas kerja sama nya". Polisi menyalami Adam dan julia bergantian kemudian pamit.


"Raksa?". Julia menghampiri Raksa yang duduk di lantai, meratapi kejadian barusan.


"Jadi selama ini Raksa bukan anak kandung ayah dan ibu?". Sorot mata nya berkaca-kaca.


"Raksa, selama nya kamu tetap anak ibu dan ayah". Julia membelai rambut Raksa, memberi kecupan hangat di kening nya.


"Siapa orang tua kandung Raksa". Tanya nya sekali lagi.


"Sudah waktu nya Ibu akan memberi tahu mu semua nya". Julia menghela nafas.


"Ibu mu adalah sahabat baik ibu, dia adalah Maria. Dan ayah mu sudah meninggal saat kamu masih dalam kandungan akibat kecelakaan. Maria yang kala itu sangat frustasi atas kematian ayah mu, ia berusaha menggugurkan kamu tapi akhir nya ibu menyelamatkan kamu. Maria menitip kan kamu ke ibu, dan ibu tak tau keberadaan nya sekarang". Tangisan Julia pecah, ia merasa menyesal telah merahasia kan semua nya dari Raksa.


"Maaf kan ayah dan ibu". Adam membelai punggung Raksa.


"Tidak, kalian tak bersalah". Raksa memeluk orang tua nya, rasa nya sakit sekali mendengar jika ibu kandung nya hampir membunuh diri nya.


"Raksa, bisa kah kamu antar ibu dan ayah ke rumah Anisa. Ibu ingin meminta maaf pada nya".


"Besok kita akan ke sana". Ucap Raksa saat diri nya sudah mulai tenang.


"Nenek...kakek... Jeno sudah mendengar semua nya, Jeno mau mamah Anisa. Jeno mau minta maaf.. Hiks...hiks...". Jeno menghampiri nya dengan wajah sembab.


"Iya sayang, kita akan kesana besok". Jawab Julia menenang kan Jeno.


_________________________________________


Zahra yang sedang membaca Novel di teras rumah. Diri nya suka sekali dunia literasi sama dengan Anisa. Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah membuat zahra mengalih kan pandangan ke depan.


"Itu kan mobil.... Siapa ya, Tante julia sama paman adam". Pelan nya dengan syok saat Adam dan Julia turun dari mobil.


Secepat nya Zahra masuk kedalam rumah dan berteriak memanggil semua orang agar berkumpul.


"Ada apa Zahra?". Tanya Anisa bingung.


"Kak, ada mertua kakak di depan". Semua orang terkejut. Anisa mengumpul kan keberanian, sedang kan Fikri berdiri di depan melindungi adik nya.


"Aku akan menghadapi nya". Surya sangat menyesal dengan apa yang di alami anak nya. Hari ini ia akan melindungi dan membela anak nya, ini adalah konsekuensi dari keputusan nya dulu.


"Hallo Assalamualaikum". Sapa Julia dengan senyum yang tulus. Semua yang di dalam merasa heran dengan mimik muka Julia.

__ADS_1


"Waalaikumsalam". Jawab surya dan mempersilakan mereka duduk.


Semua orang duduk, Fikri tak habis pikir dengan wanita tua di hadapan nya yang seolah-olah tak terjadi apa-apa di antara keluarga mereka.


"Sebuah tragedi telah terjadi di rumah kami, Rio meninggal dunia, kesalahpahaman dan menantu kami yang pergi diam-diam". Kata julia mengawali pembicaraan.


"Kami di sini ingin meminta maaf dengan tulus kepada Anisa". Lanjut nya.


Semua orang bernafas lega termasuk Anisa, ia sangat bersyukur.


"Anisa sudah mencerita kan semua nya, kami paham jika situasi dan kondisi pada saat itu telah membuat kesalahpahaman yang besar". Kini Ratna angkat bicara mewakili semua nya.


"Saya sangat menyesal dan merasa sangat bersalah pada Anisa". Julia tertunduk lesu.


"Tidak ibu, tidak ada yang perlu di salah kan saat ini. Yang terpenting sekarang kesalahpahaman telah usai".Anisa memberi senyuman tulus, jujur saja Anisa sangat bahagia akhir nya tak ada lagi yang perlu ia takut kan.


"Alhamdulillah terima kasih Anisa, kamu memang menantu yang baik". Adam mengelus hijab Anisa dengan lembut.


Tidak ada seorang pun yang tau jika Rio sudah menyadari kematian nya sangat di ingin kan Reno sejak lama. Hingga akhir nya Rio pasrah kematian nya akan terjadi saat mata Reno beradu pandang dengan Rio. Rio juga tak ingin Anisa melihat kematian nya, maka dari itu dia meminta Anisa membeli obat ke apotek.


"Mamah Anisa". Jeno yang di pangkuan Adam beralih menghampiri Anisa.


"Maaf kan Jeno". Ucap nya.


"Mamah sudan memaafkan Jeno kok". Anisa mencium Jeno dengan lembut. Jeno memeluk Anisa sebagai tanda maaf.


"Oh ya, Raksa mana?". Tanya Anisa saat tak di lihat nya keberadaan Raksa.


Anisa mengangguk, ia tak ingin bertanya lebih karena ini bukan urusan nya.


"Zahra, kamu ajak Raksa bicara sana". Titah kakak nya.


"Kok jadi zahra sih".


"Kamu kan anak muda, pasti tau lah gimana cara bujuk sesama anak muda". Zahra mengangguk paham dan berpamitan kepada semua orang.


Fikri hanya menyimak semua nya, ia tak ingin berbicara. Melihat adik nya tersenyum pun ia sudah cukup.


Semua orang mengobrol bersama, sedangkan Anisa mengambil kan minuman di dapur.


Raksa merenungi semua nya, ia benar-benar hancur dengan pernyataan Reno semalam tentang diri nya yang merupakan adik tak tau di untung.


Tok....tok....tok... Suara ketukan di jendela mobil membuyar kan lamunan Raksa.


"Hallo kak Raksa, bisa kah kita bicara". Tanya Zahra.


Tidak ada jawaban, Raksa hanya membuka kaca dan menatap Zahra dengan datar.


"Mau jalan-jalan? Atau mengobrol bersama?". Zahra berusaha agar bisa terbujuk.

__ADS_1


Raksa membuka pintu mobil.


Zahra memandangi setiap lekuk tubuh Raksa yang ideal dan tinggi. Ia buru-buru menepis pikiran kotor nya.


"Baik lah aku akan jalan-jalan dengan mu".


"Oke, kalau begitu zahra minta izin sama ayah dulu ya". Hendak pergi, Raksa mencegat nya.


"Tak usah, aku akan mengirimkan pesan ke kakak mu". Zahra mengangguk.


"Ayo, kita mau pergi kemana dulu". Zahra tak henti-henti nya berbicara, menceritakan bagaimana indah nya suasana kampung halaman nya.


Melihat tingkah Zahra yang menggemas kan Raksa hanya bisa tersenyum simpul.


"Berapa usia mu, kau terlihat sangat muda dari ku". Tanya Raksa, berhasil mengalih kan pandangan Zahra.


"Tentu, aku kan masih SMA. Umur ku 16 tahun dan bulan depan akan 17 tahun. Kak Raksa sendiri berapa umur nya?". Raksa begitu tak percaya dengan kata-kata Zahra. Usia nya begitu belia.


"Aku seumuran dengan kakak kam


u, Anisa". Zahra hanya mengangguk kan kepala nya.


Seseorang menghampiri Zahra dan Raksa yang sedang tertawa melihat pemandangan indah di depan nya.


"Oppa soobin... Akhirnya ketemu lagi". Raksa dan zahra menoleh ke arah seseorang yang memanggil Raksa.


"Eh, kamu kan cewek yang kemarin nganterin aku". Tanya Raksa memastikan.


"Iya, kita ketemu lagi. Jangan-jangan jodoh lagi". Raksa hanya tersenyum simpul. Mata serli melirik Zahra tajam.


"Kamu ngapain sama adik nya Nisa".


"Ouh kami lagi jalan-jalan sebentar kok kak Serli". Zahra membalas pertanyaan serli.


"Aku gak nanya sama kamu". Ketus nya. Zahra memalingkan wajah nya menatap pemandangan di depan.


"Oke kalau gitu kami permisi dulu ya". Raksa menarik tangan Zahra untuk menjauh dari serli.


"Oppa jangan tinggalin aku". Serli berusaha mengejar, tapi tak berhasil karena mereka berlari terlalu cepat.


Zahra dan Raksa berhenti. Nafas kedua nya menjadi ngos-ngos an akibat lari terlalu jauh. Raksa melepas kan pegangan nya.


"Maaf aku khilaf". Raksa menggaruk tengkuk nya.


"Oh iya gak papa. Hehe". Zahra menjadi salah tingkah.


"Kita makan bakso yuk, kebetulan dekar dari sini". Tawar zahra agar tak ada lagi kecanggungan di antara mereka.


"Boleh, kebetulan aku lagi lapar". Mereka pergi menuju warung bakso.

__ADS_1


#jangan lupa like dan vote ya yang mau aja#


__ADS_2