La Tahzan, Anisa

La Tahzan, Anisa
bab 6


__ADS_3

"jangan menangis". Bisik Reno saat anisa mulai beranjak dari jenazah rio.


Aneh, itulah yang di rasakan anisa. Semua orang menangis kecuali kakak ipar nya, dia selalu tampil so tegar sejak tadi. Anisa sangat mencurigai kakak ipar nya itu.


Tangisan jeno belum reda, air mata nya terus bercucuran. Anisa memeluk nya, ia benar-benar ingin menguatkan jeno.


"Ayah". Panggil jeno, ia beranjak dari pelukan anisa dan meratapi ayah nya tersebut.


"Ada apa ini". Teriak seseorang dari pintu kamar, ternyata adalah raksa.


"Kak rio kenapa? jawab!". orang tua nya menangis semakin keras saat di tanya raksa. tatapan nya beralih pada Reno.


"kau mencelakai kak rio kan?". tanya raksa dengan nada amarah, tangan nya mencengkram kerah baju reno. Reno hanya diam.


"Kau pikir aku berani mencelakai adik ku sendiri, tanya pada ayah dan ibu apa penyebab kematian rio".Ucap reno santai, kini pandangan raksa beralih pada orang tua nya.


"Rio meninggal karena keracunan makanan". ujar ibu nya dengan lemah dan melirik tajam ke arah anisa.


"Dan dia memberi makanan beracun itu pada kakak mu!". lanjut nya dengan menunjuk Anisa.


"Astagfirullah, ini salah paham ibu. Demi Allah Nisa gak ngeracunin makanan mas rio. Yang mengambil sarapan mas rio bukan nisa, tapi...". belum sempat melanjutkan, Reno buru-buru memotong ucapan Anisa.


"Ayah, ibu. sudahlah lebih baik kita makam kan dulu jenazah rio". ucap Reno yang sukses membuat anisa geram.


Beberapa orang memandikan, mengkhafani, menyolatkan, dan mengubur jenazah rio. Selama itu pula anisa sering melihat Reno menatap nya dengan tatapan yang tak biasa, anisa membalas nya dengan tatapan tak acuh.


setelah selesai proses pemakaman, semua orang pulang kembali ke rumah.


Skip.. 1 minggu kemudian...

__ADS_1


Setelah kematian Rio, anisa tak pernah di izinkan berhubungan dengan keluarga nya. Semua orang merahasia kan kematian Rio agar nama baik keluarga nya tidak tercemar. Bahkan sikap mertua nya sangat berbeda kepada nisa, mereka sering kali mengacuhkan nya.


Anisa sangat bosan di kamar terus menerus, ia berencana pergi ke taman. Saat melewati ruang tengah tak ada siapa pun di sana, mungkin ayah mertua nya pergi kerja, ibu mertua nya di kamar, raksa kuliah, jeno sekolah dengan di antar bi ijah karena jeno merasa Anisa yang membunuh ayah nya maka jeno sering menjaga jarak dengan anisa. Reno, bahkan Anisa tak peduli keberadaan kakak ipar nya itu.


"Ya Allah. Anisa cape, kuatin hati anisa ya Allah". ujar Anisa dengan nada lemah, Air mata nya sukses keluar membanjiri wajah putih nya.


"jangan sedih, ikhlaskan semua nya. kamu pasti bisa". Anisa terkejut, buru-buru ia mengusap air mata nya. Reno duduk di sebelah anisa.


Anisa beranjak dari kursi dan hendak meninggal kan nya. Tangan Reno langsung mencegat nya.


"Kau mau kemana?". anisa lantas menarik tangan nya dengan paksa. sungguh Reno tak punya rasa malu memegang tangan nya.


"Maaf kak, Tolong jangan sentuh tangan nisa. Kita belum muhrim, kalau begitu nisa pergi dulu".


"cih so suci". kata-kata Reno itu membuat anisa menoleh.


"Jangan buat diriku marah anisa!". bentak Reno. Anisa menelan ludah nya seraya mengucap nama Allah dalam hati nya.


"jangan mengacuhkan ku lagi seperti kemarin, aku bisa melakukan apapun yang bisa membahayakan mu". Ancam Reno dengan tatapan licik nya.


"Kenapa menyembunyikan kebenaran, apa karena takut semua orang tau bahwa kakak lah yang meracuni makanan mas Rio. Lalu menuduh nisa yang meracuni nya, nisa bisa sabar kak. Tapi kenapa kakak melakukan itu?". tanya anisa dengan nada datar, walau sebenar nya ia takut.


"Kau tau kenapa? karena Dia merebut kebahagiaan ku dan... mendapatkan wanita cantik seperti mu". Anisa terkejut, ia benar-benar takut.


"Dan kau tau? Aku lah yang membunuh istri Pertama rio. Tadi nya aku ingin membunuh mu tapi karena kau sangat cantik jadi aku hanya menargetkan Rio, bukan kau jadi bersyukur lah". Anisa menutup mulut nya karena terkejut, Reno menatap nya serius.


Reno melihat ibu nya tengah menutup jendela kamar, pasti ibu nya akan menoleh ke arah mereka. Reno memanfaatkan keadaan dengan memeluk Anisa tiba-tiba. Sekuat tenaga Anisa melepas pelukan nya, namun tenaga nya amat lah kuat.


Setelah melihat ibu nya menutup jendela, Reno melepaskan pelukan nya dengan perlahan.

__ADS_1


"Ya Allah kak Reno, apa yang kakak lakukan tadi".ucap anisa dengan nada marah, ia berusaha ber istigfar namun hati nya terlanjur kesal.


"memeluk mu". ujar nya santai.


"mas Rio bahkan tak pernah menyentuh nisa, dan kakak berani melakukan nya padahal kakak tak ada hak". Anisa mulai marah.


"benarkah, jadi kau masih suci ternyata". ujar reno dengan senang nya.


"Hentikan kak". Anisa berlari ke dalam rumah. Reno memandang nya dengan tatapan licik nya.


"aku benar-benar ingin memiliki dia seutuh nya, lihat saja nanti". batin Reno.


"Anisa, kemari lah". Titah ibu mertua nya saat anisa melewati ruang tengah.


"Kamu adalah menantu kami, Rio menitipkan kamu kepada kami. Jadi tolong jangan lakukan hal-hal yang bisa merusak nama baik mu dan juga Rio".


"maaf ibu, tadi nisa gak sengaja di peluk kak Reno".


"pergilah aku muak melihat wajah mu".


Anisa menitikkan air mata nya meratapi takdir nya yang begitu buruk.


Anisa merindukan keluarga nya, yang bisa ia lakukan adalah mendoakan semua nya agar kembali normal. Ia ingin ke salah pahaman ini berakhir cepat agar ia bisa menata kehidupan dengan baik lagi.


Anisa memandangi foto pernikahan nya, ia merasakan hati nya perih sekali jika mengingat kejadian itu kembali. Kini Anisa mengerti, kalau kakak ipar nya itu membenci Rio. Harus nya anisa tau itu.


Anisa sangat lemah sekarang, ia benar-benar ingin merasakan kebahagiaan di rumah tangga nya. Ia di kini di benci mertua dan anak tiri nya sendiri. Anisa terus menitikkan air mata nya, ia lelah...


Ya Allah. Tolong jaga mas rio, walaupun nisa tak mencintai nya tapi nisa merasakan ketulusan di mata mas rio. Anisa tak minta apapun lagi, nisa cuma mau hidup normal seperti dulu. Bermain dengan via dan ranti, membantu zahra mengerjakan tugas nya, menggoda kak fikri dan menemani ibu menjaga toko. Tolong nisa Ya Allah. Nisa percaya pada-Mu. Nisa Tau akan ada kebahagiaan setelah penderitaan. Allah bersama orang-orang yang sabar bukan? Kalau begitu Izinkan nisa merasakan kehadiran mu Tuhan. Batin nisa dengan lemah. ia terduduk di sudut kamar.

__ADS_1


__ADS_2