La Tahzan, Anisa

La Tahzan, Anisa
bab 15


__ADS_3

Anisa hari ini tampak sibuk membantu ibu nya berjualan, suasana toko saat itu cukup ramai hingga membuat nya kelihatan lelah.


Pelanggan yang datang mulai berkurang, akhirnya ia bisa bernafas lega.


Untuk mengisi waktu luang Anisa memain kan ponsel nya sebentar sekedar mengecek pesan masuk dari Ranti dan Via.


"Nisa, ibu ke minimarket sebentar ya ada yang harus ibu beli. Kamu gak papa kan jaga toko sendiri". Ujar ibu nya selesai melipat baju yang siap di pajang.


"Baik bu hati-hati". Ibu nya hanya mengangguk.


Usai kepergian ibu nya, menyisakan kesepian dalam toko karena pelanggan mulai berkurang. Anisa memilih memeriksa jumlah masukan dalam lemari, di saat tengah sibuk menghitung jumlah uang terdengar suara langkah kaki seseorang yang masuk ke dalam toko.


"Assalamualaikum". Sapa seseorang mengalihkan pekerjaan Anisa.


"Waalaikumsalam... Ehh pak hafidz, apa kabar pak". Balas Anisa dengan senyum manis terpancar dalam bibir tipis nya.


"Alhamdulillah baik, lagi sibuk Nis?". Tanya nya.


"Enggak pak, Alhamdulilah hari ini toko ramai tapi kembali sepi. Emang ada apa pak".


"Saya mau beli baju di sini, baju gamis buat umi saya Nis".


"Wah kebetulan itu pak, mari Nisa antar cari baju yang bagus". Tawar nya.


Anisa berjalan mencari beberapa gamis yang indah dengan kualitas yang bagus.


"Ini pak, Nisa nge rekomendasikan baju gamis ini. Bahan nya halus, dan insya Allah nyaman buat di pakai". Hafidz tersenyum simpul menanggapi kata-kata yang di ucapkan Anisa barusan.


"Kamu suka, emmm ehh maksud nya apa umi saya bakal suka?". Tanya nya dengan nada gugup setelah mengucapkan kalimat yang membuat Anisa heran.


"Emmm, insya Allah bakal suka pak. Ini gamis terbaik yang kami punya". Ujar nya dengan yakin. Membuat hafidz kagum dengan kemampuan Anisa yang bisa menarik perhatian pelanggan.


"Yaudah saya beli yang ini".

__ADS_1


"Baik pak, tunggu dulu ya Nisa mau bungkus gamis nya dulu". Tangan nya sibuk melipat gamis dengan hati-hati.


Jemari manis milik nya membuat Hafidz merasa kagum, pasti sangat lembut dan halus. Hafidz duduk menunggu gamis nya siap di kemas.


"Ini pak, sudah selesai". Anisa menyodorkan paper bag besar ke arah dosen nya.


"Terima kasih, jadi berapa?".


"Harga asli nya Rp.320.000 tapi karena hari ini ada diskon jadi harga nya cuma Rp280.000".


"Wah murah meriah ya belanja di sini".


"Hehe, iya pak. Semoga bapak suka dan sering-sering belanja di sini ya pak". Ujar Anisa dengan ramah. Hafidz tersenyum simpul menanggapi perkataan Anisa.


"Kalau begitu bapak pamit dulu ya, Assalamualaikum". Sapa nya.


"Waalaikumsalam". Hati Anisa sedikit kecewa dengan kepergian pujaan hati nya.


Ia senang dengan kehadiran Hafidz, sejujur nya Anisa merasa nyaman ketika sosok tampan dan Ramah itu hadir di harapan nya.


Zahra berlari tergesa-gesa melewati lalu lalang orang-orang berdesakan di sekitar nya. Hari ini cuaca panas membuat nya sangat kelelahan.


"Ya Allah panas banget ya kalau udah mau pulang sekolah". Keluh nya sembari berlindung di bawah pohon.


"Hai". Terdengar seseorang memanggil dirinya, Zahra mengalih kan pandangan nya ke samping.


"Kak Raksa??". Zahra sedikit terkejut dengan keberadaan Raksa.


"Mau pulang bareng? Kebetulan kelas aku udah beres". Ajak nya.


Zahra hanya diam menatap laki-laki di hadapan nya dengan kebingungan.


"Gak usah aku pulang sendiri aja". Tolak nya dengan halus.

__ADS_1


"Gak enak ya, yaudah kita naik bus umum aja kalau gitu". Tak tega menolak kedua kali nya, Zahra mengiyakan ajakan Raksa.


Mereka berjalan menuju halte untuk menunggu bus, kedua nya hanya diam membisu. Sibuk dengan pikiran nya masing-masing.


Hingga suara bus membuyarkan lamunan mereka. Kedua nya masuk bersama ke dalam bus, penumpang di sana bahkan tak henti-hentinya memandang Raksa dengan heran. Bahkan tak sedikit juga yang bisik-bisik.


Zahra tak peduli karena kehadiran Raksa mengalih kan mereka.Di lihat nya Bangku tak ada yang kosong membuat kedua nya terpaksa berdiri. Beberapa penumpang wanita berebut menawarkan Raksa untuk duduk di sebelah nya.


"Ganteng sini duduk, masih lega kok mas". tawar wanita dengan rambut pirang menawarkan Raksa untuk duduk.


"Maaf Mbak saya gak bisa, mending saya berdiri aja". Tolak nya dengan halus.


Zahra hanya cemberut dan kesal dengan si mbak itu yang terus menerus menganggu Raksa.


"Mbak mohon maaf sebelum nya jangan ganggu pacar saya ya". Raksa membulat kan mata nya menatap Zahra tak percaya.


si mbak yang menganggu Raksa memohon maaf dan berhenti menganggu Raksa.


"Maaf kak Raksa cuma itu yang bisa Zahra lakuin biar mereka gak ganggu kak Raksa lagi". bisik nya di telinga Raksa.


Raksa merasa senang, ia melirik Zahra dengan tatapan kagum.


"Terima kasih Zahra, kalau asli juga gak papa kok.. hehe". Zahra tersipu malu menatap Raksa ia mencubit tangan Raksa pelan.


"Auww.. sakit zah jangan gitu nanti kualat sama yang tua". goda Raksa, semua orang menatap mereka dengan iri.


"Biarin, abis kak Raksa nyebelin. kalau bicara tuh di jaga gak baik tau ngomong kaya gitu".


"iya maaf, tadi cuma becanda. Tadi kamu pegang aku lho ya dosa lah". Zahra kaget.


"Beneran? ya Allah Astaghfirullah. Zahra khilaf". lirih nya merasa menyesal dengan yang ia lakukan barusan.


Raksa hanya tertawa lucu, ia tak bisa mengalih kan pandangan nya dari Zahra. Gadis polos dan lucu itu sukses membuat jantung nya tak karuan.

__ADS_1


Zahra merasa diri nya di perhatikan, menoleh bingung ke arah Raksa.


__ADS_2