Langit Ku

Langit Ku
Part 12


__ADS_3

Starla sudah berada di sekolah, wanita itu datang bersama kekasihnya. Mereka berjalan menuju sekolah sambil bergandengan tangan, "Nanti pulang sekolah kamu anterin lagi yah."


"HM."


Saat sedang asik berjalan tiba-tiba langkah Starla terhenti, ia mendengar Fiona tengah memamerkan sebuah ponsel yang baru saja di belikan oleh ibu barunya.


"Gimana bagus kan?" Fiona sengaja menaikkan nada suaranya karena melihat ada Starla di dekatnya.


Langit menatap Starla yang sedang menundukkan kepalanya, "Yuk terusin," Starla menarik Langit.


Fiona tersenyum bahagia melihat Starla iri padanya, di kelas Livi langsung menatap Starla, ia tau kalau ibunya Starla menikah dengan ayahnya Fiona, "Sabar yah," Livi mengelus lengan Starla.


"Aku gak papah kok," Starla tersenyum sambil menghela nafasnya dengan berat.


"Nih buat lu," Angga memberikan sebungkus coklat.


"Makasih," Starla mengambil coklat itu dan menyimpannya di kolong meja.


Langit khawatir dan terus memperhatikan Starla, Fiona dan temannya masuk ke kelas dengan songongnya, Livi melirik mereka sekilas dengan tatapan sinis.


"Udah biarin aja," ujar Starla.


___________


Waktunya istirahat Starla memilih untuk diam di kelas, ia tidak mau ke kantin karena tidak ingin bertemu dengan Fiona. Starla menundukkan kepalanya ke atas meja, "Kalian pergi aja sana," ujar Starla dengan nada malas.


"Beneran nih?" tanya Livi.


"Iya sana."


Beberapa menit kemudian ada seseorang yang duduk di kursi sebelah Starla, Starla bangun, "Gue kan udah bilang pergi aja," ucap Starla.


"Yakin pergi?"


"Jangan, aku pikir yang barusan itu Livi sama Angga. Kalau kamu jangan pergi."


Starla memeluk Langit agar tidak pergi.


"Lepasin nanti ada guru yang masuk," Langit melepaskan pelukan Starla.


"Oh iya lupa."


"Nih makan kamu belum makan," Langit memberikan keresek makanan pada Starla yang di dalamnya ada roti dan air mineral.


"Kok gak di beliin seblak."


"Starla jangan makan yang pedes."

__ADS_1


"Iya-iya, makasih loh makanannya," gadis itu langsung memakannya dengan lahap.


Di kantin Fiona sedang bicara dengan Arhan, "Aku akan bawa dia ke hotel, setelah itu kau lakukan tugasmu dengan benar."


"Aku akan menghubungi temanku nanti, dia pasti akan siap melakukannya asalkan bayarannya sesuai."


"Ini," Fiona memberikan amplop coklat berisi uang pada Arhan. "Ini cukup kan? Nanti ku tambah setelah tugasmu selesai."


Arhan tersenyum sambil mengangkat amplop tersebut, "Senang bekerja sama dengan mu," Arhan pergi dari hadapan Fiona.


Fiona tersenyum sinis, temannya Fiona yang bernama Raras menggelengkan kepalanya tidak percaya apa yang akan di lakukan Fiona, "Segitunya yah?" tanyanya tidak habis pikir.


"Udah, lu diem aja deh."


"Terserah lu deh."


Livi dan Angga kembali ke kelas karena khawatir pada Starla, saat sampai di kelas, "Hah percuma ternyata gue khawatir," ucap Livi duduk di atas meja.


"Gue pergi," Langit berjalan pergi dari kelas.


"Ah kalian ngapain dateng sih?" canda Starla.


"Wah bener-bener nih anak," Livi menggeplak kepala Starla perlahan.


"Gak sopan," teriak Starla merapihkan rambutnya.


"Maaf," Livi kini duduk di kursi.


____________


Saat pulang sekolah Starla sudah naik ke motor Langit bersama Langit, "Mau langsung pulang?" tanya Langit.


"Iya pulang aja lagian mau kemana lagi sih."


"Ya kali aja."


Beberapa saat kemudian Starla sudah bersantai di rumahnya sendirian, Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ia mendapatkan pesan dari ibunya yang mengajaknya bertemu. Starla awalnya sangat malas bertemu dengan ibunya, namun ia tetap akan pergi ke sana berharap ibunya akan menjelaskan semuanya.


"Yah," itulah balasan dari Starla.


Starla pergi berjalan ke arah lemari ia akan memilih baju untuk nanti malam, selesai memilih baju Starla kemudian mencoba menghubungi Langit meminta pria itu untuk mengantarkan ke tempat yang ibunya minta, sayangnya Langit tidak membalas pesannya bahkan saat Starla telpon Langit tidak mengangkat telponnya.


Starla juga dapat kabar dari ayahnya kalau ayahnya tidak akan pulang, ayahnya ada tugas ke luar kota dan mungkin akan pulang minggu depan. Malam pun tiba Starla menunggu taksi di depan rumahnya, sedari tadi siang Langit tidak juga membalas pesan juga menelponnya sampai akhirnya Starla memutuskan untuk naik taksi saja.


Sementara itu Langit baru saja keluar dari kamarnya, ia ketiduran dari tadi siang.


"Sayang makan malam dulu," teriak ibunya Langit dari lantai bawah.

__ADS_1


"Iya bentar," Langit kembali masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya, setelah itu ia turun ke meja makan lalu makan malam bersama.


"Langit kalau lagi makan jangan main HP," ucap ibunya yang melihat Langit malah fokus pada ponselnya.


Langit sedang membaca pesan dari Starla, ia minta maaf pada wanita itu karena tadi ia tidak sempat membalas pesannya dan juga tidak mengangkat telponnya.


"Iya maaf," Langit menyimpan ponselnya dan kembali fokus makan.


Selesai makan Langit bersantai di ruang tengah sambil menunggu balasan pesan dari Starla yang tidak kunjung di balas, Langit kini mulai khawatir pada gadis itu. Entah mengapa hatinya merasa ada yang tidak beres sekarang, "Pa," panggilnya saat melihat ayahnya berjalan ke arahnya.


"Apa?"


"Tau alamat ini?" Langit memperlihatkan sebuah pesan dari Starla yang memberinya alamat dimana Starla akan menemui ibunya.


"Ngapain Starla kirim alamat itu ke kamu?"


"Ada lah pokoknya. Papa tau gak dimana ini? Maksudnya tuh tempat apa gitu."


"Itu rumah kosong."


"Rumah kosong?"


"Iya rumah kosong."


Langit bangun dan pergi mengambil kunci motornya.


"Langit mau kemana?" teriak ibunya Langit yang melihat anaknya berlari ke arah luar.


"Udahlah biarin aja," bela ayahnya yang merasa ada hal yang tidak beres.


Langit segera menuju alamat yang di kirim Starla di bantu oleh google maps, sampailah ia di sebuah rumah kosong yang di depan rumah itu terdapat mobil sedan berwarna hitam. Tanpa pikir panjang Langit mendobrak rumah itu tidak peduli bahkan jika di dalamnya tidak ada Starla, rumah itu terlihat tidak terurus.


Langit mencari wanitanya ke setiap sudut ruangan sambil memanggil nama Starla, hingga ia sampai di kamar paling belakang dan Langit melihat Starla menangis ketakutan karena ada pria yang hendak melecehkannyaaa.


"Sialan," Langit menarik baju pria itu lalu memukulnya, pria itu kabur karena ketakutan.


Awalnya Langit ingin menangkap pria itu. Namun, ia kasian pada Starla yang kini tengah nangis dan ketakutan, Langit menghampiri Starla lalu mengancingkan semua kancing baju Starla yang tadi terbuka.


Starla menangis di pelukan Langit, "Langit aku kotor," teriak Starla.


Sebenarnya pria tadi belum sempat melakukan apapun pada Starla, pria tadi hanya baru membuka baju luar Starla. Tapi tetap saja itu membuat Starla trauma dan ketakutan.


"Gak usah ngomong kayak gitu."


"Tapi-" Starla tak mampu bicara.


"Kita pulang yuk."

__ADS_1


__ADS_2