
Ayahnya Langit membawa Starla menjauh dari sana untuk bicara empat mata, Starla masih menangis sesenggukan, "Starla, Om minta maaf untuk saat ini jangan dulu temui Langit yah," pintanya.
"Tapi kenapa om? Starla khawatir sama Langit. Langit sakit apa sih sebenarnya?"
Ayahnya Starla mengelus pundak Starla untuk menenangkan gadis itu, "Sayang, Langit cuman sakit biasa kok. Kamu tenang aja yah, Om akan pastikan bahwa nanti setelah Langit sembuh Langit akan menemui mu lagi."
Starla menggelengkan kepalanya, "Aku mau ketemu sekarang, aku mau nungguin Langit aku gak mau ninggalin Langit."
"Starla tolong yah mengerti, ada saatnya nanti kamu bisa menemui Langit. Om minta tolong jangan memperkeruh suasana, ibunya Langit sepertinya marah padamu jadi tolong untuk saat ini jangan dulu."
Setelah bicara seperti itu ayahnya Langit pergi berharap Starla mau mengerti apa yang ia maksud, Angga menghampiri Starla, "Pulang yuk," Angga sedikit sakit hati karena Starla di perlakukan tidak baik tadi.
Starla menggelengkan kepalanya lalu duduk di kursi tunggu agak jauh dari ruangan Langit, "Aku mau nungguin Langit dari sini aja," ucapnya.
Angga ikutan duduk di samping Starla, "Ya udah, tapi nanti kalau udah tau kondisi Langit pulang yah."
Starla terdiam tidak tau mau bagaimana, setelah menunggu cukup lama dokter yang menangani Langit pun keluar ia menjelaskan bagaimana kondisi Langit saat ini, Starla kaget dan kembali menangis mendengar penyakit apa yang sedang Langit alami, Angga memeluk Starla yang menangis.
Namun karena saat ini kondisi Langit sudah mulai stabil pria itu di pindahkan ke ruang rawat, Starla mengikuti Langit dari kejauhan bersama Angga. Waktu berjalan begitu cepat, hari sudah mulai malam dan Starla masih memantau kamar Langit dari kejauhan bersama Angga.
Di dalam ruangan ternyata Langit sudah sadar ia menanyakan Starla.
"Gak ada, Starla gak ada di sini. Kayaknya tuh anak gak peduli deh sama kamu," balas ibunya Langit dengan sinis.
"Ma, gak mungkin Starla kayak gitu," bantah Langit.
"Yang bawa kamu ke sini tuh aku, yang nungguin kamu dari tadi tuh kita tapi kenapa sih Starla mulu yang di tanya, kondisi kamu tuh drop karena anak itu," timpa Fiona kesal tidak di anggap oleh Langit.
"Sudah, jangan ribut," bentak ayahnya Langit yang membuat semuanya tutup mulut.
__ADS_1
"Sekarang kamu istirahat aja, tidur biar kondisi kamu cepet membaik," lanjutnya sambil mengelus rambut Langit.
____________
Selama beberapa hari ini Starla sering kali mengunjungi rumah sakit yang walaupun tidak pernah di izinkan masuk oleh ibunya Langit, Starla tetap berusaha untuk menemui Langit. Ia selalu memandang pintu kamar rawat Langit dari kejauhan sembari menghela nafas berat dan terkadang menangis tanpa sadar.
Hari ini pun Starla sedang berdiri menatap pintu kamar Langit dari kejauhan, "Langit sehat-sehat yah, aku ingin sekali melihat mu sekali saja. Aku ingin tau bagaimana kondisimu saat ini," gumamnya dalam hati sambil meneteskan air matanya.
Sementara di dalam ruangan Langit sedang di paksa makan oleh ibunya, Langit malah marah-marah dan menolak makanan tersebut. Langit sebenarnya ingin pulang dari kemarin, namun karena kondisinya tidak memungkinan kan pulang jadi Langit di larang pulang.
"Langit kalau kamu tidak makan bagaimana kamu akan pulang? Kondisi kamu makin buruk sekarang karena kamu gak mau makan terus," bentak ibunya Langit sambil menatap kesal Langit.
"Aku bilang tidak yah tidak," balas Langit tak mau kalah.
"Sayang kenapa sih?" tanya ayahnya mendekati Langit.
"Kamu tuh apa-apaan sih Langit? Starla lagi Starla lagi. Udah jelas-jelas dia gak peduli sama kamu masih aja kamu mikirin dia," bentak ibunya.
Tiba-tiba tarikan nafas Langit sangat berat, Langit memegang dadanya sambil terus mencoba bernafas.
"Langit ada apa?" ibunya khawatir dan segera membunyikan bel rumah sakit agar ada perawat yang datang.
Kedua orang tua Langit keluar membiarkan Langit di periksa, Starla saat ini sedang makan di kantin rumah sakit. Starla membawa tas belanja yang isinya buah-buahan dan sebuket bunga kesukaan Langit, ia ingin sekali memberikan itu pada Langit namun ia bingung bagaimana memberikannya.
Selesai makan Starla kembali ke tempat tadi, ia memberanikan diri untuk menemui kedua orang tua Langit, "Siang Om, Tante," sapa Starla dengan senyuman ramahnya.
Ibunya Langit langsung berdiri di hadapan Starla dengan wajah marah, ia melipat kedua tangannya di depan, "Mau apa lagi? Mau maksa buat ketemu Langit lagi? Enggak akan saya izinkan."
"Tidak tante, aku mau titip ini untuk Langit," Starla menyimpan apa yang ia bawa di kursi.
__ADS_1
"Kalau tante berkenan tolong kasih itu ke Langit yah, saya pamit dulu," Starla pergi dari sana dengan perasaan sedih.
Beberapa saat kemudian, Starla sudah sampai di rumahnya. Ia sedang bersama ayahnya di ruang tengah, mereka sedang nonton televisi. Starla memeluk Ayahnya, "Aku pengen banget ketemu Langit," Starla menangis di pelukan ayahnya.
"Papa tau, tapi kita harus hargai juga keputusan orang tuanya."
"Starla juga tau, emangnya Starla gak boleh banget yah liat Langit walaupun dari jauh? Starla cuman pengen tau aja gimana kondisi Langit."
Ayahnya Starla mengelus rambut anaknya dengan halus, "Sayang, Papa yakin kamu akan bisa menemui Langit kalau kamu terus membujuk ibunya Langit, jangan patah semangat dan buktiin kalau kamu sayang banget sama Langit."
"Aku tau, tapi gimana kalau mereka tetep gak mau ngizinin aku buat liat Langit?"
Kembali ke rumah sakit, Fiona sedang bersama Langit sementara kedua orang tua Langit tengah di ruang dokter ada kabar kurang baik mengenai Langit.
"Kamu tuh kenapa sih gak mau makan, gak mau minum obat. Kamu tuh gak mikir apa itu semua bikin kamu makin drop," jelas Fiona yang sudah tidak tahan dengan kelakuan Langit.
"Jangan kayak dulu lagi, ingat kamu hampir mati loh dulu gara-gara sikap egois ini," tambahnya.
"Yang egois gue atau lu dan nyokap gue, kalian pengen gue sembuh kan? Tapi kalian malah kayak gitu sama Starla," bentak Langit, sebenarnya Langit tau kalau Starla sering mengunjunginya namun selalu di tolak ibunya dan juga Fiona.
Fiona terdiam, mulutnya terasa terkunci.
"Kenapa sekarang lu diem? Biarin aja gue mati."
"Apaan sih Langit? Jangan bicara kayak gitu."
Langit memalingkan tatapannya dari Fiona, menurutnya bicara pada wanita itu hanya akan buang-buang tenaga saja. Lebih baik ia tidur, ia saat ini sangat ingin bertemu dengan Starla namun tidak tau bagaimana caranya.
Kedua orang tua Langit masuk ke ruangan Langit, Fiona menghampiri mereka berdua.
__ADS_1