
Starla duduk di tanah sambil menatap tenda nya yang belum berdiri, "Ah males capek, gak bisa bener terus dari tadi," ia mulai lelah membangun tenda.
"Ayo dong semangat, yang lain udah bener tuh masa gak mau istirahat," ujar Starla menyemangati.
"Tapi gue gak bisa, susah sih."
"Sini gue bantu," Angga datang dan membantu Livi membangun tenda yang benar.
Starla tersenyum menatap mereka berdua membuat tenda, matanya kini mulai celingukan mencari Langit yang sejak tadi hilang dari pandangannya, ternyata pria itu sedang membantu Fiona mendirikan Tenda.
"Padahal pacarnya juga lagi butuh bantuan, bisa-bisanya tuh anak malah bantuin cewek lain," ucapnya dengan sinis.
"Starla," panggil Erik dari tenda panitia.
Starla berdiri dan menghampiri Erik, "Iya ada apa?" tanyanya sambil tersenyum.
Langit mendengar nama Starla di panggil dan mulai memperhatikan Starla.
"Ini ada kukis dari ibuku, makan yah. Ibuku pengen kasih bekel buat kamu di sini," Erik memberikan kotak makanan pada Starla.
Starla mengambilnya lalu membuka kotak itu dan mencium aroma kukis yang enak dari dalamnya, "Wah tau aja yang aku suka apa."
"Ya jelas lah tau, gimana tendanya udah jadi?"
Starla menatap ke arah Livi, "Udah tuh di bantuin Angga."
"Ya udah aku ke sana lagi yah, makasih loh buat kukisnya," pamit Starla.
Starla duduk di depan tendanya yang sudah terpasang, ia membuka kotak makanan yang berisi kukis itu. Saat hendak memakannya tiba-tiba Langit datang dan merebut semua kukisnya beserta kotak makannya.
"Ah kok di ambil," rengek Starla menatap Langit.
"Lapar," Langit memakan kukis itu dengan cepat.
"Sisain satu aku juga pengen nyobain."
"Harus banget yah?"
"Yah harus lah aku kan suka kukis."
"Nanti aku beliin sama pabriknya sekalian," Langit benar-benar memakan kukis itu hingga tidak tersisa.
"Temen lu dah mulai bucin banget kek nya sama ceweknya," ledek Daniel menatap kebersamaan Starla dan Langit.
"Kutub Utara di hatinya udah cair kali sangking panasnya aura si Starla," tambah Nana cengengesan.
"Ada yang panas tuh," Daniel menunjuk Fiona dengan sorot matanya.
__ADS_1
"Harusnya ada pemadam kebakaran sih di sini, jaga-jaga ada kebakaran hati mendadak kan gawat kayak sekarang."
"Hahaha lu bener sih, mana udah bau gosong lagi."
"Nih," Langit mengembalikan kotak makannya yang sudah kosong.
"Apaan sih gak asik tau gak," kesal Starla cemberut sambil memajukan bibir depannya.
"Nih sebagai gantinya," Langit mengeluarkan coklat dari saku bajunya.
Starla menatap coklat itu dengan tatapan berbinar, ia segera mengambilnya dan memakan coklat itu dengan lahap, merayu Starla agar tidak marah sangatlah mudah. Ia hanya perlu di sogok dengan coklat pasti kembali baik dan biasa saja.
"Ayang coba panggil aku sayang sambil elus kepalaku," pinta Starla menyodorkan kepalanya ke arah Langit.
"Apaan sih kek anak kecil," Langit memalingkan wajahnya.
"Ih ayang gimana sih? Gak mau tau aku mau marah sama kamu pokoknya. Sekali aja ayang...... Ih," rengek Starla dengan mulut yang belepotan.
Langit menatap Starla, "Kalau makan coklat tuh yang bener," Langit mengelap semua coklat yang belepotan di bibir Starla.
"Ayang cepetan panggil aku sayang sambil elus kepala ku."
Langit berdecak sebal, ia menatap sekeliling dulu memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya. Selesai itu barulah yang mengelus kepala Starla, "Aku sayang kamu," ucapnya lembut.
Starla langsung meleyot, ia menyenderkan kepalanya ke pundak Langit sambil senyum-senyum gak jelas. Hatinya seakan melayang ke atas lapisan langit ke tujuh.
"Apaan sih? Yang lain pada sibuk ini berdua malah asik pacaran, beres-beres sana," bentak Fiona yang berdiri di hadapan mereka.
Langit berdiri, "Jangan pernah bentak cewek gue, atau lu akan tau akibatnya," ucapnya yang langsung pergi dari sana.
Starla langsung masuk ke dalam tendanya dan kembali senyum-senyum sendiri, tadi Langit sempat tersenyum sedikit padanya dan itu adalah hal langka. Yah melihat Langit tersenyum adalah hal langka bagi orang-orang, wajah langit selalu terlihat datar tanda ekspresi. Yah walaupun begitu Langit tetap terlihat tampan dan begitu mempesona.
"Lu gila yah?" tanya Livi yang ada di dalam tenda sedang beres-beres.
"Ah...... Diem gue lagi salting bruntal."
"Ih dasar bucin."
"Biarin daripada lu ngejomblo mulu hidupnya."
"Dih enakan jomblo tau, gak usah mikirin orang lain."
"Oh gitu yah, palingan juga bentar lagi punya pacar lu."
"Angga cocok tuh kayaknya buat lu," tambah Starla dengan tampang meledek.
"Apaan sih Starla? Segala bawa-bawa Angga lagi."
__ADS_1
Starla mendekat pada Livi, "Lu suka kan sebenernya sama Angga?" tanya Starla penasaran.
"Enggak, enak aja lu kalau ngomong."
"Wah dari tampang lu yang gak mau natap mata gue sih gue makin yakin kalau lu suka sama Angga."
"Mimpi gue suka sama cowok kayak dia, sekarang lebih baik lu bantuin gue beres-beres barang lu tuh banyak Starla."
"Oh iya maaf."
Setelah beberapa saat kemudian malam pun tiba, Starla duduk di sebelah Langit saat melihat pentas seni yang di tampilkan di atas panggung. Starla bersandar di pundak Langit, Starla menatap ke arah langit malam yang kini begitu indah di hiasi bintang dan bulan yang membulat dengan sempurna.
"Malam ini indah yah, dan jadi lebih indah karena ada kamu di sampingku," Starla mulai menggombal.
"Nikmatin aja pentas seninya jangan malah asik liatin langit."
"Kalau liatin kamu gimana?" Starla menatap Langit.
Langit mengarahkan kepala Starla agar menatap ke arah panggung, namun Starla kembali menatap ke arah Langit sambil tersenyum, "Tampilan di panggung itu tidak ada yang seindah dan semenarik kamu jadi pen liatin kamu aja."
Langit berusaha menghindari tatapan Starla, "Kalau ngomong gak usah ngada-ngada deh."
Sementara itu di tempat lain Livi mendadak pusing, Angga yang tau Livi tidak enak badan langsung membawanya ke tenda PMR untuk di periksa dan di obati.
"Lu lebih baik pulang aja," ujar Angga khawatir.
"Gue gak papah kok mungkin cuman agak kecapean, besok bangun juga bakalan baik-baik aja kok."
"Yakin nih?"
"Iya lu tenang aja."
"Mau gue panggil Starla ke sini buat jagain lu?"
"Gak, gak usah. Starla lagi menikmati pentas sama pacarnya."
"Ya udah gue tungguin lu di sini kalau gitu," Angga memilih menemani Livi di tenda PMR untuk menjaga Livi padahal di sana sudah ada petugas yang menjaganya.
"Eh enggak usah, lu kalau mau liatin pentas seni keluar aja. Gue beneran gak papah di sini."
"Gak, lagian enggak ada yang asik juga di luar."
"Ya udah deh kalau mau lu gitu."
Sementara itu Starla baru sadar kalau Livi dan Angga tidak ada di sana, "Eh Livi sama Angga kemana yah?" tanya Starla.
"Mana aku tau."
__ADS_1