Langit Ku

Langit Ku
Part 9


__ADS_3

"Dingin," Starla mengelus tangannya sendiri, tubuhnya benar-benar sudah sangat kedinginan.


"Bertahanlah," Angga memeluk Starla untuk setidaknya menghangatkan Starla.


Mereka berteduh di bawah pohon besar, Starla memejamkan matanya karena takut petir. Jujur sekali sebenarnya Starla saat ini sangat kesal pada Langit karena telah meninggalkan dirinya.


"Nanti kita lanjut jalan kalau udah agak reda yah hujannya, lu tidur aja."


Starla menganggukkan kepalanya, Starla menggunakan dua jaket, jaket Angga juga ia pakai karena Starla benar-benar kedinginan kakinya mulai kram tidak bisa lagi ia gunakan jalan, sampai akhirnya Langit menemukan Starla dan langsung menarik Starla.


"Kamu kenapa?" tanya Langit memeluk Starla.


Starla membuka matanya, ia tersenyum saat ia melihat Langit ada di dekatnya, "Dingin," ucap Starla pelan.


Erik dan dua temannya juga datang, Langit menggendong Starla lalu membawanya ke perkemahan lagi, Starla di bawa ke ruangan PMR dan segera di obati. Starla ganti pakaian di bantu oleh petugas PMR wanita, selesai di obati dan ganti pakaian Langit di perbolehkan masuk.


Langit memegang tangan Starla yang sangat dingin, padahal di ruangan itu Fiona juga ada namun Langit hanya peduli pada Starla.


"Maaf," Langit merasa sangat bersalah.


Starla tersenyum, "Gak papah kok," awalnya Starla ingin sekali marah pada Langit, namun ia tidak mampu melakukan itu.


"Baju kamu basah, ganti baju dulu sana," sangking khawatirnya Langit bahkan belum ganti pakaian sekarang.


"Nanti aja," Langit benar-benar tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari Starla.


"Nanti masuk angin, ganti baju sana."


"Ya udah."


Langit pun pergi, barulah setelah itu Livi masuk ke tenda untuk melihat Starla. Fiona yang panas dan tidak mau melihat Starla memilih pergi dari tenda itu dan pindah ke tendanya.


"Angga gak papah kan?" tanya Starla yang juga menghawatirkan Angga.


"Enggak, dia baik-baik aja kok, sekarang lagi diem di tendanya," balas Livi.


"Kenapa sih bisa sampai kayak gini?" lanjut Livi.


Starla terkekeh pelan, "Tadi gue kan di tinggal Langit, eh gue malah jatuh juga kaki gue keseleo dikit dan gue sama Angga istirahat lagi buat benerin kaki gue biar gak terlalu sakit. Abis itu kita jalan lagi dan hujan, karena hujan kita jadi kesusahan cari panah nya sampai akhirnya kita ke sasar deh hutan."


"Apa di tinggalin? Ngapain Langit ninggalin lu? Tega banget sih tuh jadi orang."


"Kan tadi Fiona luka jadi dia harus buru-buru ke sini buat obati Fiona, sebenernya gue juga sih yang minta dia pergi. Jadi udahlah lupain yang penting sekarang gue baik-baik aja."


Langit datang kembali ke tenda sambil membawa teh hangat untuk Starla, Starla duduk, "Makasih."

__ADS_1


"HM."


"Eh, sekali lagi lu tinggalin Starla gue abisin lu," bentak Livi.


"Udah jangan di marahin," pinta Starla.


"Lu jadi cewek baik banget sih, marahin dikit kali pacar lu."


"Udah ah males ribut."


Hujan pun mulai reda dan para panitia segera membersihkan lapangan untuk nanti acara api unggun sebagai acara puncak perkemahan ini sebelum besok mereka pulang dan kembali bersekolah.


"Ya udah ah gue mau bantuin yang lain," Livi memutuskan keluar dari tenda.


Starla menarik Langit agar berada di sampingnya, Starla menyenderkan kepalanya ke pundak Langit, "Makasih yah udah mau cariin aku," ucapnya dengan lembut.


"Iya."


Langit mengelus kepala Starla lalu mencium rambutnya sekilas, ia hampir gila jika sampai tadi Starla tidak di temukan. Mungkin selama hidupnya ia akan menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Starla.


Erik datang ke tenda itu untuk menengok Starla, "Gimana udah baikan sekarang?" tanya Erik sambil membawa mangkuk yang berisi bubur kacang hijau.


"Udah, makasih juga tadi sempet bantuin cari aku."


"Iya itu udah jadi kewajiban buat kita sebagai panitia, nih makan tadi aku bikin bubur kacang."


"jagain pacarnya jangan sampai ilang lagi," Erik menepuk lengan Langit lalu keluar dari tenda.


Starla menatap Langit, "Bolehkan aku makan?"


"Makan aja."


Starla tersenyum dan mulai mencicipi bubur itu, "Ah panas," Starla memakannya langsung padahal itu masih panas.


"Hati-hati makannya, sini aku suapin," Langit merebut mangkuk dan sendok dari Starla, ia mendinginkan bubur itu terlebih dahulu dengan cara meniupnya dengan pelan sebelum akhirnya ia berikan pada Starla.


Sementara itu di luar Livi dan Angga tengah menyiapkan makan sore untuk para murid, sedangkan murid lain ada yang tengah menghias panggung, menumpuk ranting untuk api unggun dan masih banyak hal lainnya yang sedang mereka kerjakan.


"Lu kalau sakit istirahat aja," ucap Livi takut Angga sakit karena tadi sempat kehujanan di hutan.


"Gak papah kok, gue kuat."


"Alah kuat-kuat, muka lu tuh pucat Angga."


"Ini cuman efek dari kedinginan aja, gue gak papah kok."

__ADS_1


"Yakin?"


"Beneran Livi, lagian biasanya juga lu seneng kan kalau gue menderita."


"Eh kalian malah ribut-ribut, beresin nya udah selesai belum?" tiba-tiba bu Dewi datang melerai keributan mereka.


"Ya maaf Bu, abisnya tuh si Angga nya."


"Kok jadi gue sih?"


"Kan emang elu."


"Udah ya ampun," ucap Bu Dewi sekali lagi menghentikan keributan mereka.


Fiona terduduk di tendanya sendirian, sampai ada Karina yang datang menghampiri Fiona, "Masih sakit?"


"Sakit di kaki gue gak ada apa-apa nya sama sakit yang hati gue rasain sekarang."


"Langit lagi?"


"Ya menurut lu siapa lagi selain dia?"


"Lupain Langit lah, lu juga berhak bahagia."


"Ya kalau gue bisa lupain Langit udah dari beberapa tahun lalu kali."


Melupakan seseorang memang bukanlah perihal yang mudah tentunya, sehebat dan seberusaha apapun jika pikiran dan hati kita masih menginginkannya dia tetap tidak dapat kita lupakan.


Karina tersenyum kecil, "Iya sih, cuman gue kasian aja sama lu. Langit keliatan banget kalau dia cinta sama Starla, lu hanya bakalan dapet luka kalau terus ngejar Langit."


"Gue gak peduli, gue bakalan lakuin apapun asal Langit bisa jadi milik gue."


"Ya udahlah terserah lu sih, yang penting gue ngingetin lu udah."


Kembali ke Langit, Starla ingin ke tendanya. Langit memapah Starla menuju tendanya Livi yang melihat itu ikut membantu Starla, Starla duduk di tendanya dan mengambil ponsel untuk mengabari ayahnya.


Selesai itu Langit pergi dulu untuk mengambil sesuatu di tenda miliknya, tidak lama kemudian Langit kembali ke Starla.


"Langit aku pusing banget," ucap Starla memegang keningnya.


"Sini aku pijitin," Langit memijat kening Starla dengan pelan dan hati-hati.


"Agak mending sekarang."


"Kita pulang aja yuk."

__ADS_1


"Enggak ah, besok aja aku kuat kok. Sekarang cuman agak pusing dikit aja."


__ADS_2