
Paginya mereka sudah di bangunkan pagi sekali karena pagi ini ada olahraga pagi di depan panggung, Starla keluar dari tendanya dengan keadaan masih mengantuk bahkan rambutnya masih sangat berantakan saat ini.
"Hey beresin dulu rambut lu," titah Livi menyisir rambut Starla menggunakan jarinya.
"Males," Starla menguap, Starla kedinginan dan memakai jaket saat ini.
"Olahraga kok pakai jaket," sindir Fiona yang sudah terlihat segar.
Starla melirik Fiona sekilas, Langit datang dan berdiri di antara Fiona dan Starla untuk mencegah keributan di pagi yang indah ini.
"Langit aku dingin," rengek Starla memeluk lengan Langit.
"Jangan manja deh," Langit melepas pelukan tangan Starla dari tangannya.
"Ih gak asik."
"Starla buka jaket kamu, masa olahraga pakai jaket sih," titah pak Dodi dari depan panggung karena sebentar lagi olahraga akan segera di mulai.
"Pak dingin," balas Starla.
"Ya sudahlah terserah kamu, bapak males debat pagi-pagi."
Olahraga pagi pun di mulai, setelah beberapa menit olahraga selesai mereka langsung mengantri untuk sarapan. Starla di belakang Langit, Starla yang masih mengantuk sedari tadi menyenderkan kepalanya ke punggung Langit.
"Berat Starla," ujar Langit.
"Ih aku ngantuk diem aja kamu."
Selesai mengambil makanan Starla dan teman-temannya makan di depan tenda Starla, Langit juga makan di sana bersama Starla.
"Abis ini kita beneran lintas alam?" tanya Starla dengan mulut yang di penuhi makanan.
"Iya kata Erik sih tadi gitu," balas Livi.
Starla berdecak sebal, "Males, pasti nanti capek banget deh."
"Kan ada pacar lu, minta di gendong aja kalau lu capek," timpa Angga.
"Mana mau dia," Starla melirik Langit yang benar-benar tidak menggubrisnya dan sibuk makan saja.
"Ah jangan berharap banyak sama Langit, mana mungkin dia mau gendong aku."
__ADS_1
Acara lintas alam pun kini akan segera di mulai, siswa di minta berkumpul sesuai kelompoknya masing-masing, "Angga berat," rengek Starla meminta Angga membawakan tasnya yang berisi makanan.
"Ya udah sini gue bawain," Angga hendak mengambil tas milik Starla namun malah di ambil Langit.
"Gue aja yang bawa."
"Makasih Langit."
"Tas aku juga berat nih," Fiona membuka tasnya berharap Langit juga membawakan tasnya.
"Jangan manja, bawa sendiri," bentak Langit tanpa menatap Fiona.
"Ih."
"Oke anak-anak-" Pak Dodi menjelaskan apa saya yang harus di lakukan anak-anak di dalam hutan nanti, satu persatu para siswa mulai masuk ke hutan sesuai kelompoknya.
Starla selalu berpegangan dengan Langit karena ia takut kalau tiba-tiba di jalan ada ular, mereka berjalan menelusuri hutan mengikuti sebuah panah merah yang di siapkan panitia.
"Takut," rengek Starla memegang tangan Langit dengan erat.
"Apaan sih gitu aja takut," ledek Fiona.
"Biarin."
Mereka semua pun mengikuti kemauan Starla karena memang sudah capek juga, Starla makan cemilan yang ia bawa. Starla juga membagikan cemilannya pada orang lain, selesai bersantai beberapa menit mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Tiba-tiba Fiona terjatuh dan kakinya luka, Fiona juga tidak bisa berdiri saat ini. Langit mencoba mengobati luka Fiona, "Bisa jalan gak?"
Fiona menggelengkan kepalanya, Langit menatap Starla. Starla menganggukkan kepala seakan memberi izin pada Langit untuk menggendong Fiona, ini bukan lagi waktunya ia untuk cemburu, Fiona juga mengeluarkan darah cukup banyak dari kakinya.
Langit menggendong Fiona dan mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, hari terlihat mendung sekarang. Strala memegang tangan Angga dengan nafas yang sudah terengah-engah, "Kenapa?" tanya Angga.
"Istirahat bentar yuk, gue capek banget," pinta Starla yang sudah tidak kuat.
Langit berbalik melihat Starla, "Cepetan dong," pintanya.
"Kalian duluan aja, aku sama Angga istirahat dulu bentar," balas Starla yang benar-benar sudah tidak kuat.
"Ya udah," Langit benar-benar meninggalkan Starla dan Angga di sana.
Angga duduk di sebelah Starla, "Minum dulu nih."
__ADS_1
"Makasih."
Beberapa saat kemudian Langit sampai di perkemahan, ia menyerahkan Fiona pada petugas PMR untuk di periksa. Sementara dirinya pergi ke tendanya untuk istirahat, Livi kebingungan mencari Starla, "Tuh anak kemana sih sama Angga? Kok belum keliatan juga," bingungnya sambil terus mencari mereka.
Hujan mulai berjatuhan dari langit, Daniel menghampiri Livi yang terlihat bingung, "Ada apa?"
"Lu liat kelompok Starla gak? Mereka udah datang belum? Kok gue gak liat mereka yah."
"Langit udah ada di tendanya kok barusan, terus Fiona di ruangan PMR karena kakinya luka. Nah kalau Starla sama Angga gue juga gak tau mereka dimana, soalnya belum liat mereka juga."
"Sialan," Livi berlari ke arah tenda Langit.
Daniel dan Nana berlari mengikuti Livi, Hujan semakin deras. Livi masuk tanpa permisi ke tenda Langit di ikuti dua orang tadi, "Eh Starla mana? Jangan bilang lu tinggalin dia di hutan," tanya Livi dengan tatapan interogasinya.
Langit terdiam, "Emang dia belum ke sini?"
"Ah dasar brengsek," Livi keluar dari tenda itu dan berlari ke tenda panitia untuk melaporkan hilangnya Starla dan Angga.
Livi sampai di tenda panitia dengan nafas yang tidak beraturan, tubuhnya juga basah kuyup karena hujan, "Ada apa Livi?" tanya Erik yang langsung menghampiri Livi.
"Starla sama Angga belum datang," jelasnya.
"Apa?" kaget Erik.
"Iya, padahal Langit sama Fiona udah ada di tendanya."
"Baiklah, kamu tenang aja kita akan cari mereka berdua setelah memastikan bahwa yang lainnya sudah datang."
Di tempat lain Langit berlari keluar tenda, "Langit mau kemana?" teriak Daniel menatap kepergian Langit.
"Kita laporin aja ke panitia sama guru," ujar Nana.
Mereka berdua berlari ke tenda panitia dan guru, "Pak Langit masuk lagi ke hutan, kayaknya mau cari Starla deh," jelas Nana.
"Anak itu kenapa tidak izin dulu sih."
Kini semua anak-anak di kumpulkan di atas panggung untuk di absen, setelah di absen ternyata benar hanya Starla dan Angga yang belum datang, pak Dodi meminta Erik dan dua orang panitia untuk segera mencari mereka takutnya keburu malam dan pencarian semakin susah.
Erik dan dua orang lainnya masuk ke hutan sambil hujan-hujanan, Erik sangat khawatir pada Starla ia tau betul kalau Starla takut pada petir sedangkan sekarang sedang hujan petir. Langit masih belum menemukan Starla ia panik dan khawatir sekarang ia merasa bersalah karena sudah meninggalkan Starla tadi.
"Starla dimana sih kamu," Langit terus masuk ke hutan mencari Starla.
__ADS_1
Rasa dinginnya kalah dengan rasa khawatir ia pada Starla, Langit terus memanggil-manggil Starla.