Langit Ku

Langit Ku
Part 13


__ADS_3

Di rumah Starla malah mengurung diri di kamar mandi, Langit sudah mondar-mandir di depan pintu kamar mandi menunggu Starla keluar.


"Starla udah mandinya, cepetan keluar," teriak Langit.


"Aku kotor Langit," Dari suaranya Starla masih menangis.


"Cukup, keluar sekarang atau aku dobrak pintunya," bentak Langit sangking khawatirnya.


Tidak lama setelah itu Starla keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur, wajahnya begitu pucat karena kedinginan. Matanya juga sudah sembab karena menangis terus, Langit menggendong Starla lalu menidurkan wanita itu di kasurnya.


Langit menyelimuti tubuh Starla lalu ia duduk di sebelahnya, air mata Starla terus mengalir, "Semesta jahat banget yah sama aku, apa semesta masih belum puas dengan apa yang aku dapatkan kemarin?"


"Sudah, lebih baik kau tidur sekarang."


"Gimana aku bisa tidur? Aku-aku," Lagi-lagi Starla tidak tau apa yang ingin ia ucapkan.


"Apapun yang terjadi aku akan ada di sampingmu."


Starla menatap Langit lalu memeluknya, Starla kembali menangis di pelukan pria itu, "Makasih."


Ada rasa sedikit menyesal di hati Langit saat ini, seadanya tadi Langit mengiyakan ajakan Starla untuk mengantar Starla ke ibunya mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


"Maafin aku yah," ucap Langit mengelus rambut Starla.


"Kok kamu yang minta maaf?"


"Kalau aja tadi aku anterin kamu, mungkin kejadiannya gak bakalan kayak gini."


"Kamu gak salah, aku aja yang kurang hati-hati."


"Jelasin apa yang sebenarnya terjadi? Aku akan cari orang itu sampai dapat."


Starla menjelaskan semua kejadian yang tadi ia alami, jadi tadi saat Starla sampai di sana ia langsung di bekap oleh orang dari belakang. Saat ia sadar ia sudah hendak ingin di lecehkannn oleh pria itu, Starla berusaha melawan namun ia kalah tenaga dengan pria tersebut untungnya Langit datang dan menolongnya.


"Memangnya kamu udah pastiin kalau orang yang ngajak kamu ketemu adalah Mama kamu?"


"Udah, Yang chat aku tuh Mama. Bahkan pakai nomor Mama yang dulu, makannya aku percaya."


"Udahlah, sekarang kamu tidur aja aku bakalan jagain kamu di sini."

__ADS_1


Starla memejamkan matanya dengan paha Langit sebagai bantal, Starla merasa dirinya sedikit tenang jika ada Langit di sisinya.


___________


Paginya Starla dan Langit hendak berangkat sekolah, Langit dan Starla ke rumahnya Langit terlebih dahulu untuk mengganti pakaian Langit juga mengambil tas Langit.


Setelah itu pergilah mereka ke sekolah, saat sampai di sekolah semua mata menatap ke arah Langit dan Starla sambil mencemooh Starla.


"Bisa-bisanya Langit masih mau sama wanita pelacurrrr begitu."


"Haha gue sih gak habis pikir yah kok mau banget gitu."


"Palingan juga kena pelet. Ya kali Langit mau sama yang bekas."


"Kalau gue jadi Langit sih gue udah buang tuh cewek jauh-jauh."


Kira-kira seperti itulah yang siswa lain obrolkan, Starla kembali sedih mengingat kejadian semalam. Starla bingung mengapa semua orang tau mengenai kejadian semalam sampai saat mereka sudah sampai di kelas Livi bicara pada Starla.


"Apapun yang terjadi semalam gue percaya sama lu, jangan pernah dengerin apa yang orang lain ucapkan," ujar Livi.


"Mereka tau darimana sih?"


Starla mengambil ponselnya namun tiba-tiba Langit mengambil ponsel Starla, "Gak usah di liat," Langit sudah melihat foto itu dan ia tidak mau Starla melihatnya karena tidak ingin Starla sedih.


"Kenapa?" Starla mulai menangis lagi.


"Woy berapa harganya? Nanti malam boleh lah sama gue," teriak Daren yang baru masuk ke kelas sambil tertawa bercanda.


Langit menghampiri Daren lalu menarik kerah Daren dengan tatapan yang tajam, "Ngomong apa lu barusan?" bentak Langit yang membuat seisi ruangan terdiam, baru kali ini mereka melihat Langit begitu marah.


Daren tertawa meremehkan, "Kenapa? Lo masih mau pertahankan cewek lu yang udah tidur sama cowok lain?" Daren malah membuat Langit semakin naik pita.


Amarah Langit sudah memuncak saat ini, ia melayangkan satu tonjok kan ke wajah Daren sampai membuat Daren tergeletak ke lantai. Langit menarik Daren agar bangun lagi, "Kalau lu gak tau apapun tentang kejadian semalam lu mending tutup mulut, jangan pikir gue gak berani bunuh orang."


Daren mulai ketakutan ia menjauh dari hadapan Langit, tiba-tiba Daniel dan Nana datang untuk menenangkan Langit mereka berdua tau betul bagaimana Langit ketika sudah marah.


"Udah tenang," Daniel tidak mau sikap Langit kembali keluar.


Langit menatap semua murid yang memandangi Starla, "Kalau ada orang yang berani ngomong jorok tentang Starla, gue gak akan ragu buat kasih kalian pelajaran. Gue gak peduli mau itu cewek atau cowok," bentak Langit yang membuat semua orang bubar dari sana.

__ADS_1


Starla menghampiri Langit, "Gak usah di bela, mereka pantes kok lakuin itu ke aku," gadis itu langsung pergi dari sana.


Di tempat lain Fiona tengah memarahi Arhan, "Gue bilang cuman foto berdua doang, kenapa temen lo sampai mau lecehinnn Starla," bentak Fiona.


"Gue gak tau Fiona, gue juga udah marahin dia."


"Apa dengan lu marahin dia akan ngerubah kejadian semalam?"


"Yah enggak."


"Kalau sampai Langit nemuin temen lu, gue gak akan ikut campur yah Arhan."


"Yah gak bisa gitulah."


"Bodo amat, gue gak minta lakuin hal itu."


Livi menghampiri Langit lalu mengelus tangannya, "Biar gue yang kejar Starla, lu tenangin diri lu dulu. Jangan hilang kendali kayak barusan lagi, gak semua hal harus di selesaikan dengan kekerasan."


"Gue titip Starla."


Livi mengangguk dan mengejar Starla, sementara Langit di bawa ke kantin oleh Angga, Nana dan Daniel untuk setidaknya mendinginkan kepala dan mencari orang yang telah melakukan hal itu pada Starla.


Livi dan Starla duduk di kursi yang ada di taman belakang sekolah, Starla nangis di pelukan Livi. Tadi Starla juga sudah cerita kejadian yang terjadi pada malam itu dan bagaimana foto itu di dapatkan.


"Semesta gak adil banget sih sama gue."


"Gue tau ini pasti berat banget buat lu, gue cuman bisa bilang sabar aja sama lu."


"Makasih yah udah mau percaya sama gue, lu emang temen terbaik gue."


"Starla mau semua orang bilang apapun tentang lu gue gak peduli, lu tetep temen gue dan gue akan tetep percaya sama apa yang lu omongin. Asal jangan pernah lu hancurin kepercayaan gue sekali aja."


Starla mengeratkan pelukannya.


"Oh iya, kalau sampai berita ini ke sebar guru kemungkinan bakalan tau. Lu harus siap di panggil yah, lu jelasin aja sama guru apa yang sebenarnya terjadi," jelas Livi mengingatkan.


Starla melepaskan pelukannya lalu menatap Livi, "Gimana kalau mereka gak percaya dan malah ngeluarin gue dari sekolah?"


"Tenang aja, lu punya Langit yang bisa jadi saksi semua kejadian malam tadi."

__ADS_1


__ADS_2