
Malamnya Langit mencari pria yang mau melecehkan Starla bersama dengan Angga, Nana dan Daniel mereka mencari ke setiap sudut kota dan menanyakan tentang pria itu pada beberapa orang yang ia temui.
"Kita berpencar aja biar lebih cepet," usul Angga.
Mereka mencari orang itu menggunakan motor.
"Oke gue sama Langit ke sana terus kalian ke sana," Daniel menunjuk jalan sebelah kanan untuk dirinya dan Langit. Lalu jalan sebelah kiri untuk Angga dan Nana.
"Oke," semuanya setuju.
Di tempat lain Starla sedang bersantai makan cemilan di ruang tengah rumahnya sendirian, ia mencoba mengabari Langit namun tidak ada jawaban. Hatinya tiba-tiba teringat Langit dan merasa ada hal yang mengganjal di hatinya.
"Kok perasaan aku gak enak yah?" gumamnya sedikit melamun.
"Coba tanyain Daniel sama Nana deh, siapa tau Langit lagi sama mereka."
Starla mencoba mengirim mereka pesan, namun ternyata sama saja.
"Ih kemana sih kok gak di bales-bales, di telpon juga gak pada di angkat."
Starla mulai panik, ia bangkit dari duduknya dan terus berusaha menghubungi mereka bertiga berharap mereka mengangkatnya.
"Kemana sih?" Starla berlari mengambil jaket dan keluar dari rumahnya untuk pergi ke rumah Langit, namun saat sedang menunggu taksi tiba-tiba Livi datang ke rumahnya Starla.
"Starla gawat," Livi memegang tangan Starla dengan nafasnya yang tidak beraturan.
"Gawat apa?"
Livi terlihat masih mengatur nafasnya, "Langit, Angga, Daniel sama Nana lagi cari orang yang ada di foto bareng lu itu. Dan mereka sekarang ke jebak di markas gengnya," jelasnya.
"Apa? Lu tau darimana?"
"Tadi Angga sempet telponan sama gue, tapi tiba-tiba sambungan telponnya mati. Gue jadi bingung harus gimana sekarang."
"Angga kirim alamat dia di mana gak?"
"Enggak."
"Ah elah," Starla kembali ke rumahnya untuk ambil kunci mobil, sebenarnya Starla punya mobil dan bisa bawa mobil. Namun karena dulu pernah kecelakaan ayahnya melarang Starla bawa mobil, tetapi saat ini kondisinya beda jadi Starla terpaksa harus nyetir mobil.
Mereka berdua mencari keberadaan Langit dan yang lainnya, sudah hampir setengah jam mereka mencari. Namun, mereka belum mendapatkan apapun.
"Aduh cari kemana lagi yah?" Livi kebingungan setengah mati.
Akhirnya mereka menemukan sebuah keributan di gedung terbengkalai tidak jauh dari taman kota, Livi dan Starla turun dari mobil mereka mengendap-ngendap masuk ke gedung itu untuk memastikan siapa yang sebenarnya sedang ribut di dalam gedung tersebut.
Mereka bersembunyi di belakang pilar, "Itu mereka," Livi menunjuk sekumpulan pria yang sedang berantem.
__ADS_1
Benar saja di dalam ada Langit dan yang lain, mereka tengah berkelahi. Langit beserta teman-temannya terlihat akan memenangkan perkelahian itu sampai pada saat salah satu dari musuhnya mengeluarkan pistol dari saku celananya yang ia arahkan pada Langit.
"LANGIT," Teriak Starla sambil berlari dan menghentikan perkelahian tersebut.
Langit menatap Starla, ia tidak tau kalau di belakangnya ada orang yang sudah menodongkannya pistol. Starla menangis dan terus berusaha mencapai Langit sebelum pistol itu di tembakkan.
DORRR, Suara pistol di tembakan sudah bergema di ruangan tersebut dan benar saja Starla kini tertembak karena Starla memeluk Langit dan mengantikan posisi Langit. Langit menatap pria yang menembaknya dengan tatapan marah, Starla menjatuhkan air matanya.
Angga segera menahan pria itu dan membuang pistolnya, semua orang di sana tidak percaya bahwa ada orang yang membawa pistol, Langit menatap Starla.
"Sakit," rintih Starla yang mulai melemah.
Darah segar dari tubuh Starla mulai keluar lewat lubang tembakan di punggungnya, Langit menahan tubuh Starla yang terjatuh dan mulai hilang kesadaran. Livi dengan syok menghampiri mereka, "Cepat bawa ke mobil, Starla bawa mobil kok," titah Livi.
___________
Mereka sudah sampai di rumah sakit, Angga tidak ikut karena ia harus mengurus orang-orang tadi dengan polisi. Langit sedari tadi tidak bisa diam, ia mundar-mandir di depan pintu ruang IGD menunggu dokter yang sedang mengobati kekasihnya.
Langit juga sudah tau bahwa orang yang berfoto dengan Starla adalah titahan Arhan, ia berniat untuk menemui Arhan dan menanyakan apa yang sebenarnya Arhan lakukan pada Starla.
"Kalian pulang aja udah malam, Starla biar kita yang jaga," Livi menatap Daniel dan Nana.
"Ya udah kita pulang dulu, kalau ada apa-apa langsung kabarin aja," balas Daniel.
Mereka berdua pulang.
"Gak."
"Gak pegel apa berdiri terus?"
"Enggak."
"Ya udahlah terserah."
Tidak lama kemudian dokter pun keluar dan memindahkan Starla ke ruang rawat, Starla berhasil diselamatkan karena Starla tadi langsung di bawa ke rumah sakit untuk di tangani.
Livi dan Langit kini bersama Starla, Starla masih belum sadarkan diri, Langit menggenggam tangan Starla, "Bangun yuk."
Angga datang dan langsung menghampiri Livi untuk menanyakan bagaimana kondisi Starla, "Lu juga harusnya diobatin," Livi menatap wajah Angga yang penuh luka.
"Gak papah, ini nanti juga sembuh."
"Yah gue tau, makan dulu yuk di kantin. Lu pasti belum makan, biarin Starla sama pacarannya."
Angga mengangguk dan pergilah mereka di ke kantin rumah sakit, sambil makan Angga bercerita mengenai apa yang tadi ia lakukan.
"Arhan? Ngapain Arhan kek gitu sama Starla?" Livi kebingungan.
__ADS_1
"Menurut gue, kayaknya Arhan juga di suruh lagi deh sama orang lain."
"Bisa jadi, soalnya kek agak gak mungkin aja gitu Arhan lakuin itu. Kalaupun cuman karena nafsu yang kenapa gak dia yang lakuin sendiri."
"Iya, makannya Langit mau bicara empat mata sama Arhan besok."
"Harus sih emang, kalau gak mau bicara paksa aja."
Saat mereka akan kembali ke ruangan Starla, mereka melihat seorang pasien yang di bawa ke ruangan IGD buru-buru, dari luka pasien itu sepertinya korban tabrakan.
"Arhan," Livi kaget karena pasien itu ternyata Arhan.
"Iya itu Arhan," Angga juga kaget.
"Sus pasien tabrakan?" Livi bertanya pad seorang suster yang berada di dekatnya.
"Katanya sih begitu, anda kenal dengan Pasien?"
"Saya temannya."
Sementara itu Starla kini sudah sadar ia menangis karena kesakitan, "Ah sakit banget," rengek nya sambil memegang tangan Langit.
"Udah tau di tembak tuh sakit, ngapain nolongin."
"Ih bukannya berterimakasih juga malah marah, sakit tau."
"Iya makasih, tapi aku lebih baik di tembak."
"Kenapa emangnya."
"Berisik dengerin kamu nangis."
Starla malah mengencangkan suara tangisannya, "Ah...... Padahal kalau kamu yang ke tembak juga aku bakalan tetep nangis."
Langit mengelus rambut Starla, "Mau aku panggil dokter lagi?"
"Gak mau nanti aku dikatain cengeng."
"Kan emang kenyataan gitu."
"Ah...... Kamu jahat."
Livi dan Angga masuk menganggu waktu mereka berduaan.
Starla menatap mereka dengan tatapan sinis, "Ih ganggu aja sih kalian."
"Arhan meninggal karena tabrakan," jelas Angga.
__ADS_1
"Apa?" Langit kaget.