
Berita mengenai Starla sudah sampai ke para guru juga kepala sekolah, Starla di minta ke kantor. Saat berjalan sendiri menuju kantor tiba-tiba Langit datang dan menegang tangan Starla, Langit ingin ikut dengan Starla.
Di tempat lain Livi sedang mengobrol di kantin dengan Angga, "Gimana kalau kepala sekolah ngeluarin Starla?" tanya Livi panik sambil menggigit kukunya.
"Hey, udah gak bakalan terjadi apapun," Angga memegang tangan Livi, Livi menatap balik Angga.
"Tetep aja gue khawatir, kasian banget Starla, gue gak bisa bayangin sehancur apa kalau gue jadi Starla."
"Starla kuat, gue yakin Starla pasti bisa lewatin semuanya."
"Masalahnya Starla baru aja di tinggal ibunya nikah sama bapaknya Fiona, terus sekarang dia harus dapetin musibah lain."
"Kita liat aja gimana keputusan sekolah."
Beberapa saat kemudian Starla keluar dari ruang guru sambil nangis dan berlari ke kelasnya, Langit berusaha mengejar Starla. Livi, Angga, Daniel dan Nana yang juga melihatnya langsung ikut mengejar Starla mereka ingin tau apa keputusan sekolah sampai membuat Starla nangis lagi.
Sampailah mereka di kelas, "Gimana?" tanya Livi sudah sangat penasaran.
"Strala di keluarin dari sekolah," jelas Langit yang terlihat sudah sangat kesal.
Starla kini tengah sibuk membereskan bukunya ke dalam tas.
"Gak bisa gini dong," Livi tentu tidak terima.
"Lu udah coba jelasin kan apa yang terjadi semalam," Angga memegang pundak Langit.
"Udah, mereka bilang gak percaya kalau gak ada bukti."
Livi tertawa miris, "Ya kali kita mau di lecehin orang harus vidio dulu, kalau ada waktu mending kabur aja daripada video kejadiannya."
"Emang agak-agak yah guru di sini," Daniel sama halnya tidak setuju.
"Pokoknya gue bakalan samperin," Angga pergi menuju kantor.
"Ikuttttt," Livi, Daniel dan Nana ikut bersama Angga.
Langit tidak pergi karena tidak bisa meninggalkan Starla sendirian, "Kita ke kantor lagi aja yuk," ajaknya menarik tangan Starla.
"Buat apa sih? Aku udah capek jelasin semuanya sama mereka. Kalau memang dasarnya gak percaya mau secapek apapun aku jelasin ke mereka tetep aja mereka gak bakalan percaya," Starla bangun dan pergi dari kelas untuk pulang.
Langit mengejar Starla, "Coba lagi aja."
"Aku capek."
__ADS_1
Sementara itu teman-teman Starla sudah masuk ke kantor, "Kita gak terima loh Starla di keluarin dari sini, itukan bukan kemauan Starla," ucap Livi dengan lantang.
"Bisa buktikan kalau itu benar-benar pelecehannnn? Bukan kesengajaan?" balas bu Nina dengan tampang angkuhnya.
Livi tertawa meledek, "Ternyata hukum di negara kita sama aja yah, Bu emangnya kalau ibu di posisi Starla ibu bakalan bisa cari bukti?"
"Sudah jangan ribut," pak Dodi menengahi mereka.
"Oke, saya akan sewa pengacara dan bawa kasus ini ke jalur hukum. Kalau sampai Starla terbukti tidak bersalah, kalian harus siap menanggung semuanya. Sekolah ini akan tercemar buruk karena mengusir orang yang jadi korban," ucap Angga mengancam.
"Sudah bu tenang," bu Dewi berusaha menenangkan bu Nina agar semuanya bisa di selesaikan dengan kepala dingin.
"Kami tidak akan mengeluarkan Starla, dia bisa masuk lagi sekolah besok. Hari ini biarkan dia pulang untuk menenangkan pikirannya," tambah Dodi sedikit ketakutan dengan ancaman Angga.
Livi tersenyum miring sambil menatap bu Nina, "Kenapa sekarang diam? Takut?"
"Tidak sopan kamu Livi," balas Bu Nina menatap tajam Livi.
"Yang mulai duluan tuh kalian, ada korban bukannya di tolong malah di keluarin dari sekolah."
"Tapi saya akan tetap menyewa pengacara untuk mengurus kasus ini," setelah itu Angga menarik Livi ke luar, yang lain juga ikut keluar.
Livi mengabari Starla kalau besok Starla bisa masuk lagi ke sekolah, guru tidak jadi mengeluarkan Starla. Angga memandangi foto pria yang tidur bersama Starla, wajahnya tidak terlalu asing baginya namun ia sangat lupa dengan siapa pria itu.
"Gue kok kek pernah liat dia yah," ujar Livi yang duduk di sebelah Angga, ternyata Livi juga merasa sudah familiar dengan wajah pria itu.
"Lu bener sih, bentar gue inget-inget dulu."
Sedangkan itu Starla dan Langit sedang di perjalanan pulang, "Masih sendiri di rumah?" tanya Langit.
"HM."
"Mau pulang ke rumah sekarang?"
"Sebenernya sih gak mau, cuman bingung juga mau kemana kalau gak ke rumah."
"Oh iya, Livi udah ngasih kabar kalau besok bisa sekolah?"
"Udah."
"Terus mau sekolah?"
"Mau, biarin ajalah mereka mau berpikir apapun tentang aku. Pokoknya aku mau lulus, tanggung bentar lagi lulus sekolah."
__ADS_1
"Bagus deh."
"Mau seluruh dunia gak percaya sama ucapan aku, aku gak papah asal ada kamu."
Sampailah di rumah Starla, "Mau langsung pulang?"
Langit turun dari motornya, "Enggak," Langit mendahului Starla masuk ke rumah itu.
Starla mengejar Langit, "Tungguin napa."
Starla dan Langit berduaan di dapur, Langit tengah melihat Starla masak, gadis itu masak seblak sekarang.
Di sekolah Fiona semakin pusing, "Ah...... Kenapa masalahnya makin rumit sih? Mana Angga malah mau nyewa pengacara lagi."
"Makannya kalau apa-apa tuh di pikirin dulu," balas Raras.
"Ini tuh sebenernya salah si Arhan sama temennya itu, kalau aja dia gak berusaha lecehinnn Starla mungkin gak bakalan seribet ini."
"Iya sih, tapi tetep aja rencana lu kemarin juga beresiko."
"Seenggaknya kalau dia ngikutin rencana gue, Langit gak akan mergokin mereka dan Langit juga bakalan marah sama Starla. Ini mah malah bikin Langit tambah deket sama Starla," Fiona terus ngoceh di kantin.
"Yah mau gimana sekarang udah gagal kan rencananya, tinggal nungguin semua ke bongkar aja."
"Yah jangan dong."
"Minta Arhan tutup mulut aja jangan sampai dia bocorin kalau lu yang minta."
"Gimana caranya? Tadi udah kasih Arhan uang tambahan tapi malah di tolak."
Raras bernafas kasar dan menggelengkan kepala, ia tidak tau harus melakukan apa untuk menutupi.
"Minta Arhan tutup mulut secara paksa aja."
"Caranya?" Fiona menatap Raras.
"Yah gimana kek, bunuh dia juga bisa."
"Lu gila yah?"
"Gue cuman ngasih saran paling masuk akal aja, tapi itu terserah lu juga kan."
Fiona terdiam ia tidak tau harus bagaimana sekarang agar Arhan tidak bicara pada semua orang kalau ini semua adalah perintah darinya, jika mengikuti arahan Raras itu terlalu kejam masa harus sampai membunuh orang.
__ADS_1
"Tapi kalau sampai Arhan buka mulut dan bicara, lu bukan hanya akan kehilangan Langit, tapi semua hal yang lu miliki sekarang," Raras terlihat sedang mengompori Fiona.
Fiona semakin tambah bingung sekarang.