Langit Ku

Langit Ku
Part 19


__ADS_3

"Aku pulang dulu yah tante, Om."


"Hati-hati yah sayang di jalannya."


"Iya tante," Fiona mengambil tasnya lalu pergi dari rumah sakit ke rumah Raras untuk bicara.


Sesampainya di rumah Raras, Fiona menangis sambil memeluk Raras dengan erat, "Kenapa lu nangis?" tanya Raras.


"Ke dalam yuk, gak enak di liatin orang nanti."


Mereka masuk ke rumah itu dan duduk di sofa ruang tengah, Raras mengambilkan air minum untuk Fiona, "Nih minum dulu biar tenang," Raras duduk di sebelah Fiona.


"Makasih."


"Ada apa malam-malam datang ke sini? Mau nangisin Langit lagi?"


"Iya, gue gak habis pikir banget sama Langit bisa-bisanya dia gak mau anggap gue."


"Gue kan udah bilang sama lu dadi awal, Langit bakalan susah lepasin Starla apapun cara yang lu lakuin. Nyerah aja udah, demi kebahagian dia juga toh."


"Tapi gue masih belum bisa."


"Itu tandanya cinta lu sama Langit masih belum besar, karena cinta tuh bukan hanya tentang memiliki."


Fiona terdiam, ia tidak bisa menyangkal ucapan Raras.


"Gini aja deh, sekarang kalau lu tetep egois lu juga bakalan kehilangan Langit dengan cepat. Lu tinggal pilih aja mau yang mana."


Beberapa jam kemudian, hari sudah mulai larut malam, Langit terbangun dari tidurnya di sofa ia melihat kedua orang tuanya tertidur. Saat Langit ingin mengambil air minum ayahnya terbangun, ayahnya langit menghampiri Langit dan duduk di sebelah ranjang tidur Langit.


Sebelum bicara ia menatap ke arah istrinya sekilas memastikan bahwa dia tidak bangun, setelah itu ayahnya Langit mengambil sebuah kertas dari sakunya lalu ia sodorkan pada Langit, Langit menatap kertas itu.


"Apaan ini?"


"Tadinya Papa gak mau ngomong sama kamu, tapi gak bisa. Papa harus bicara padamu sekarang, mumpung mama mu tidur, ini surat yang Starla berikan untukmu."

__ADS_1


Langit mengambil kertas itu, "Tadi dia ke sini lagi?"


"Jadi selama ini kamu tau dia sering datang."


"Aku tau dan aku juga tau Mama selalu larang dia masukkan?"


"Iya tadi Starla datang ke sini bawa buah sama bunga, cuman itu udah di buang sama Mama kamu. Pas Mama buang itu Papa liat ada suratnya jadi Papa ambil buat kamu."


"Makasih yah pa, Papa tidur lagi aja sana."


Ia mengangguk dan kembali ke sofa, Langit membuka kertas itu karena sudah sangat penasaran.


"Langit, kamu jahat. Kenapa kamu gak bilang kalau kamu sakit? Kenapa coba? Kamu anggap aku apa selama ini sampai kamu sakit aja aku gak tau Langit.


Tapi gak papah mungkin kamu punya alasan lain untuk itu, jadi jangan ninggalin aku sebelum kamu kasih tau alasan apa yang sebenarnya. Kamu pernah janjikan gak bakalan tinggalin aku, awas aja kalau kamu ninggalin aku sekarang aku gak akan pernah maafin kamu selamanya.


Cepet sembuh yah, aku kangen sama kamu Langit. Maaf juga gak bisa liat kamu, kamu tenang aja aku di sini bakalan jaga hati kok buat kamu, di hati aku cuman ada kamu kok gak ada yang lain. Eh ada Papa ku juga deh satu lagi, tapi udah cuman segitu.


Sampai nanti Langit ku, Love you."


Kira-kira seperti itulah pesan yang di tuliskan Starla untuk Langit, Langit tersenyum setelah membaca surat itu dan tanpa ia sadari sebenarnya ibunya sudah terbangun dari tadi dan tau kalau ayahnya memberikan surat itu untuk Langit.


Langit menatap buah-buahan yang ada di sampingnya, setelah membaca surat dari Starla ia mulai ingin hidup lagi. Langit memeluk surat itu sambil senyum-senyum sendiri membayangkan Starla ada di sampingnya.


____________


Hari berikutnya Langit mulai mau makan dan minum obat, Fiona yang melihat itu heran mengapa Langit tiba-tiba mau makan lagi dan minum obatnya padahal beberapa hari kebelakang Langit harus di paksa dulu untuk makan dan minum obat.


Di luar ruangan Starla sudah datang seperti biasa, ia membawa buah-buahan untuk Langit. Starla duduk di kursi tunggu samping pintu masuk, ia tidak mau masuk karena ia tau orang tua Langit pasti ada di dalam daripada ribut ia lebih baik menunggu di luar untuk menitipkan buahnya.


Starla memainkan kakinya karena sudah mulai bosan menunggu, tiga puluh menit kemudian akhirnya ibunya Langit keluar ia melihat Starla yang ketiduran di kursi tunggu.


"Starla, Hey bangun," ia menepuk tangan Starla.


Starla seketika langsung bangun, "Maaf tante, aku ketiduran. Aku cuman mau nitipin buah buat Langit lagi," ucapnya dengan wajah masih mengantuk, Starla bahkan masih memakai seragam sekolahnya.

__ADS_1


"Masuklah, kasih sendiri."


Starla sontak langsung bangun, "Apa? Masuk? Maksudnya aku boleh liat Langit?" herannya.


"Iya masuk aja sana, sebelum saya berubah pikiran."


Starla membungkukkan tubuhnya beberapa kali, "Makasih-Makasih," Akhirnya setelah usahanya yang begitu besar ia di izinkan juga masuk.


Starla mengambil bingkisan buahnya lalu masuk ke ruangan Langit, di dalam Fiona dan Langit sontak melihat ke arah Starla yang datang. Starla tidak peduli dengan keberadaan Fiona, ia datang dan langsung memeluk Langit sambil nangis.


"Ah........ Aku kangen banget," rengeknya di pelukan Langit.


Langit begitu bahagia kembali dapat melihat kekasihnya, Fiona yang melihat mereka berdua semakin sadar bahwa Langit tidak akan pernah mencintainya. Fiona pergi membiarkan mereka berdua mengobrol melepas semua kerinduan mereka, Fiona duduk bersama ibunya Langit di luar.


"Makasih udah izinkan Starla masuk," ucap Fiona dengan mata yang mulai berkaca-kaca, tidak bisa di pungkiri saat ini ia memang tengah sakit hati.


"Tante sadar, keegoisan tante udah keterlaluan selama ini."


"Aku juga mau minta maaf karena udah jelekin Starla depan tante, Starla gak seburuk itu kok. Dia baik dan begitu mencintai Langit dengan tulus."


"Aku egois juga, aku ingin Langit jadi milikku tanpa mikirin perasaannya juga," tambah Fiona mulai tak kuasa menahan air matanya.


Ibunya Langit memeluk Fiona ia tau bagaimana sakit hati yang Fiona alami saat ini. Sementara itu di dalam ruangan Starla baru saja melepas pelukannya dari Langit, Langit menghapus air mata Starla di pipi gadis itu.


"Aku kangen kamu," rengek Starla.


"Udah jangan nangis, pegel nih ngapus air mata kamu."


"Aku gak minta kamu buat ngehapusin air mata aku juga kok."


"Ya udah berhenti nangisnya."


"Gak bisa Langit, liat muka kamu terus tuh bawaannya aku pengen nangis."


"Emang muka aku kenapa?"

__ADS_1


"Ganteng."


Langit berdecak sambil tersenyum kecil, "Bisa-bisanya yah kamu."


__ADS_2