
Pulang sekolah Starla, Livi dan Angga pergi ke rumah sakit dan pada saat ini Langit akan pulang ke rumahnya. Mereka bertiga membantu Langit dan keluarga Langit beres-beres, saat sampai di rumah Langit yang menggunakan kursi roda di dorong ke kamarnya oleh Starla.
Langit pindah ke kasur, sebenarnya Langit masih bisa jalan namun karena masih lemah jadi Langit harus pakai kursi roda saat ini.
Fiona menatap mereka dari kejauhan dengan tatapan teduh, "Kayaknya emang lebih baik gini deh," ucapnya.
Kemudian Fiona pergi dari kamar Langit menuju ruang tengah, ia duduk di sebelah ibunya Langit, "Kenapa ke sini? Gak di kamar Langit sama yang lain?" tanya ibunya Langit.
"Gak ah tante, aku malu sama mereka."
"Malu kenapa?"
"Aku udah jahat sama Starla."
Di kamar Starla duduk di sebelah Langit, "Jangan sampai lupa minum obat," ucap Starla.
Langit mengangguk dengan lemas.
"Oh iya, gimana kalau nanti malam kita bikin acara makan-makan, buat ngerayain kepulangan lu," usul Livi.
"Yah jangan nanti malam juga kali, kasian Langit nya baru pulang pasti masih lemes," Starla memukul lengan Livi.
"Iya lu mah ada-ada aja," setuju Angga menyalahkan Livi.
Livi mengelus tangannya, "Ya maaf, siapa tau aja gitu Langit nya mau."
"Hari minggu aja nanti," timpa Langit.
"HM boleh juga tuh, tenang aja biar gue yang belanja makanannya," Livi tersenyum.
"Pulang yuk," Angga mengajak pulang.
"Iya kalian pulang aja dulu," setuju Langit.
"Kalian pulang duluan aja, aku masih mau sayang-sayangan," Starla menyenderkan kepalanya pada Langit.
Livi tersenyum sinis, "Ya udah sana mau sayang-sayangan mah, bikin orang jomblo ini iri aja."
"Yuk pulang," lanjut Livi menarik Angga keluar.
"Ya jangan marah juga dong," timpa Starla.
"Gak gak marah cuman kesel aja."
Starla tertawa saat melihat Livi dan Angga keluar dari kamarnya, Livi dan Angga pamitan pulang pada keluarga Langit. Sebelum pulang ke rumah Angga mengajak Livi main ke Mall sudah lama mereka tidak jalan-jalan berdua.
Beberapa saat kemudian keduanya sampai di Mall, Livi mengajak Angga ke Timezone untuk main capit boneka.
__ADS_1
"Ih pengen boneka itu," Livi menunjuk sebuah boneka kelinci.
"Nih lu liat nih gue bakalan dapetin boneka itu," Angga dengan sombongnya.
"Coba kalau emang bisa."
Livi tertawa terbahak-bahak saat Angga gagal mendapatkan boneka tersebut padahal Angga sudah sombong di awal.
"Baru percobaan kedua, tenang aja," balas Angga yang kembali mencoba capit bonekanya. Namun sayang Angga kembali gagal dan Livi menertawakan Angga lagi.
"Kalau gak bisa jangan sok makannya," ledek Livi.
"Minggir sana biar gue yang coba," tambah Livi mendorong Angga, dan benar saja baru sekali Livi mencoba ia sudah menang.
Livi tertawa dengan bangga.
"Curang itu mah udah gampang, orang udah gue geser dari sana," Angga tidak Terima.
"Kalah mah kalah aja kali, jangan banyak ngeles."
"Nih gue buktiin sama lu kalau gue juga bisa," Angga kembali mencobanya dan sudah percobaan ke sekian kalinya Angga tetap gagal.
"Main di yang lain aja," Livi menarik Angga untuk pindah, kini mereka akan tanding siapa yang paling banyak memasukan bola ke ring basket.
Waktunya sudah di mulai, Livi dan Angga sangat pandai dalam basket makannya nilai mereka juga tidak jauh beda sekarang. Pertandingan itu di menangkan oleh Angga, Angga merangkul Livi dengan tampang sombongnya, "Gue boleh aja kalah di capit boneka, tapi jangan remehin gue kalau udah main basket."
Mereka main tembak-tembakan sekarang, setelah main tembak-tembakan mereka juga balap mobil dan masih banyak lagi permainan yang mereka coba. Setelah keduanya capek mereka mampir di kafe untuk istirahat, "Seru juga yah," ujar Livi sembari minum kopi.
"Jelaslah kan sama gue, sama gue mah pasti seru."
"Dih pede lu. Andai aja Starla ikut pasti bakalan lebih seru."
"Seru kalau Starla gak ngajak Langit."
"Iya sih, Langit tuh jago banget dan selalu menang jadi gak seru."
"Yah kan."
"Gue kasian banget sama Starla, ada aja masalah dalam hidupnya."
"Iya gue juga sama, tapi Tuhan pasti punya rencana lain buat dia."
Livi terdiam.
"Kenapa diem?" tanya Angga.
"Enggak papah."
__ADS_1
"Gini aja deh, pelangi pasti muncul setelah hujan. Jadi kebahagian juga bakal muncul setelah badai masalah dalam hidup kita."
"Dih sok bijak," Ledek Livi tertawa kecil.
"Eh tapi apa yang lu ucapin bener sih, yah walaupun gak setiap hujan pasti bakal muncul pelangi kan. Tapi pelangi hanya akan muncul setelah hujan," tambah Livi.
"Pulang yuk udah sore, nanti gue di marahin nyokap lu karena ngajak lu maen."
"Yuk gue juga ngantuk pen tidur."
Mereka berdua pun pulang, sementara itu Starla masih di rumah Langit. Ia baru saja menyuapi Langit makan dan sekarang ia akan pamit pulang karena udah sore, "Langit nanti minum obat nya yah."
"Iya. Pulang gih udah sore nanti keburu malam," titah Langit.
"Iya aku juga mau pulang kok sekarang," Starla mencium kening Langit.
"Tidur yang nyenyak, jangan bergadang awas aja kalau sampai kamu berdagang terus."
"Iya."
Starla Keluar dari kamar Langit, saat hendak pulang ia di hentikan oleh Fiona, "Starla," panggilnya.
Starla yang sudah berdiri di teras depan menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Fiona, "Iya ada apa?"
"Gue mau ngomong sama lu, bisa gak?"
"Ngomong aja."
"Gak di sini, kita ke kafe deket sini aja yuk."
"Boleh," Starla setuju lalu pergi bersama Fiona ke kafe terdekat.
Sementara itu Langit sedang minum obat bersama ibunya, "Makasih," ucap Langit.
"Buat apa?"
"Mama udah izinin Starla lagi."
Ibunya tersenyum, "Mama sekarang sadar kemarin Mama terlalu egois, karena apa yang menurut kita baik belum tentu benar-benar baik bagi orang lain."
Langit tersenyum, "Aku bener-bener sayang sama Starla, gak tau kenapa dia beda dari wanita lain yang pernah akun temui selama ini."
"Mama juga harus minta maaf sama Starla, Mama udah terlalu jahat waktu di rumah sakit sama dia. Mama juga sadar setelah apa yang Starla lakukan hanya untuk bertemu dengan kamu, dia pantang menyerah padahal Mama udah lakuin hal yang gak baik sama Dia."
"Dia baik banget yah."
"Iya, udah sekarang kamu istirahat tidur yang nyenyak," ibunya bangun dan pergi membiarkan Langit tidur di kamar.
__ADS_1
Ayahnya Langit pulang ia melihat anaknya dan ternyata Langit sudah tertidur sekarang, ayahnya pun pergi ke kamarnya untuk mandi.