
"Besok kita ke dokter buat cek-up," ujar ayahnya Langit.
Mereka berdua saat ini sedang makan di restoran.
"Iya."
___________
Starla sudah berada di sekolah dengan senyuman merekah di bibirnya, karena masalah kemarin sudah di tangani polisi para murid di sekolah juga tidak langi menyindirnya. Starla di minta ke kantor oleh guru, guru-guru minta maaf padanya karena sudah berburuk sangka guru juga meminta Starla untuk tidak bicara apapun pada orang di luar sana tentang perlakuan mereka pada hari itu.
Starla mengiyakan permintaan mereka, menurutnya kini semuanya sudah selesai dan tidak perlu di permasalahkan lagi. Starla ke kelasnya lalu celingukan mencari Langit yang belum datang, Starla duduk di kursinya.
"Langit kemana sih kok belum datang tumben banget," tanyanya kebingungan.
"Mungkin kesiangan," timpa Angga.
"Gue khawatir dia sakit deh karena kecapean jaga gue kemarin di rumah sakit, soalnya kemarin pas pulang nganterin gue mukanya udah pucet banget," Starla memasang wajah sedih sambil terus memandangi pintu masuk berharap kekasihnya datang.
Tiba-tiba wangi parfum Langit yang begitu khas mulai tercium, Langit sering memakai parfum Dior Sauvage yang terdiri dari paduan aroma pepper dan calabrian bergamot. Starla langsung bangun dan berlari untuk memastikannya dan benar saja itu adalah Langit, di ambang pintu Starla menghentikan Langit.
Starla menyimpan punggung tangannya di kening Langit, "Kamu gak sakit kan? Aku khawatir banget kalau kamu sakit," tanyanya cemas.
Langit melepas tangan Starla dari keningnya, "Gak aku gak papah," Langit segera pergi ke kursinya meninggalkan Starla yang menatapnya dengan tatapan hangat.
Starla terus mengikuti Langit sampai ke kursi, "Nih aku bawain kamu makanan, jangan di buang."
Langit menatap kotak makanan itu lalu mengambilnya, "Makasih."
Starla kembali ke kursi ia senang karena ternyata Langit baik-baik aja, Fiona tak lama setelah itu datang dan duduk di samping Langit sambil terus mengajak ngobrol Langit yang walaupun Langit terlihat tidak peduli padanya.
Bel masuk kelas berbunyi dengan di barengi masuknya guru ke kelas itu untuk mengajar.
__________
Saat jam istirahat Starla ke kantin dengan kedua temannya sementara Langit terdiam di kelasnya. Ia akan makan-makanan dari Starla saja untuk makan siang hari ini, Langit membuka kotak makan Starla lalu mulai memakan nasi goreng itu.
Bibirnya sedikit tersenyum, Tiba-tiba hidungnya kembali mimisan. Langit menatap ke atas agar mimisan nya tidak semakin banyak, Langit mengambil tisu dari tasnya lalu mengelap darah yang mengalir dari hidungnya.
__ADS_1
Fiona datang ke kelas untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, namun ia malah melihat Langit yang mimisan.
"Mimisan lagi?" tanya Fiona yang membantu Langit membereskan tisu penuh darahnya.
Langit menatap Fiona dengan tatapan datar dan tidak membalas ucapan Fiona.
"Makannya jangan kecapean, minum obat yang bener, udah tau kamu tuh sakit malah ngurusin orang sakit juga kemarin."
"Kalau lu mau ngoceh dan marahin gue mending keluar, gue gak butuh omongan lu."
"Gue kayak gini karena gue sayang sama lu, gue gak mau lu kenapa-napa."
"Hidup gue jauh lebih gak kenapa-napa tanpa kehadiran lu."
"Oke Fine," Fiona pergi dari hadapan Langit setelah mengambil ponselnya dari tas, Fiona juga membuang kan tisu Langit sambil ngoceh karena Langit tetap tidak peduli padanya.
Langit kembali makan seakan tidak ada yang terjadi, Fiona sudah tau sakit yang di derita Langit selama ini makannya tadi Fiona tidak kaget saat melihat Langit mimisan karena itu sudah biasa bagi Langit.
Di kantin Starla asik makan dengan teman-temannya, Starla santai saja karena ia memang tidak tau kalau Langit sedang sakit. Tidak ada yang pernah bicara padanya mengenai sakit yang di derita Langit, Langit juga tidak mau sampai Starla tau tentang penyakitnya karena ia tidak mau membuat Starla sedih dan ikutan menderita.
"Eh nanti malam ke rumah gue yuk? Kita ngadain party kecil-kecilan," ajak Starla.
"Boleh deh," Angga pun setuju.
Starla senang mendengarnya, sementara itu di tempat lain Fiona tengah duduk bersama Raras di kantin, "Arhan kecelakaan?" tanya Fiona dengan wajah bingung.
"HM," Raras menganggukkan kepalanya sambil menaikkan satu alisnya.
"Gue bingung harus bahagia atau gimana."
"Yah bahagia lah, kan rahasia lu jadi aman sekarang."
"Iya sih, tapi gue gak nyangka aja umurnya beneran sependek itu, hidupnya tragis amat."
"Gue pikir itu kerjaan lu malah."
"Enak aja lu, gue gak mungkin sampai bunuh orang. Mungkin kebetulan aja," Fiona memukul lengan Raras.
__ADS_1
"Yah kan siapa tau aja gitu."
"Enggak bukan gue, katanya dia lagi mabuk juga malam itu."
"Eh Langit kenapa?" Raras menatap Langit yang jalannya terlihat sempoyongan.
"Langit," teriak Fiona sambil menghampiri Langit yang mulai kehilangan keseimbangannya.
Starla yang mendengar teriakan Fiona langsung mencari Langit, setelah melihat Langit ia ikut berlari menghampiri Langit. Langit di tahan oleh Fiona karena Fiona yang pertama sampai di samping Langit, "Gak bisa di bilangin banget sih," Fiona meminta siswa lain membawa Langit ke mobilnya.
Kebetulan hari ini Fiona bawa mobil, Starla ingin ikut dengan Fiona tapi Fiona melarangnya dan membentak Starla agar tidak ikut dengannya. Starla hanya menangis melihat kepergian Langit, Starla di tenangkan Livi dan Angga.
"Aku-aku mau tau kondisi Langit, Langit kenapa pingsan? Aku gak kasih dia racun kok di makanan aku," Starla menangis seperti orang gila sekarang, ia masih di parkiran bersama kedua temannya.
"Tenang dulu, kita tau lu gak bakalan kasih racun tapi lu tenang dulu sekarang," Livi memegang kedua tangan Starla.
"Gak bisa, otak gue gak mau gue tenang."
"Nanti kita ke rumah sakitnya, cuman lu tenang dulu."
"Gak bisa, maunya sekarang gue harus mastiin kondisi Langit pokoknya mau sekarang."
"Oke sekarang kita pergi," Livi meminta Angga membawa Starla ke rumah sakit mengikuti mobil Fiona.
Angga setuju, ia mulai membawa motornya dan pergi bersama Starla. Livi memilih untuk tidak ikut, karena menurutnya Langit pasti pingsan kecapean aja. Starla memang terkadang selalu berlebihan ketika menyangkut Langit, Starla benar-benar tidak mau kehilangan pria itu apapun yang terjadi.
Beberapa saat kemudian ternyata di rumah sakit sudah ada kedua orang tuanya Langit, ibunya Langit saat melihat Starla langsung memarahinya, "Ini semua pasti gara-gara kamu," bentaknya sambil menunjuk-nunjuk wajah Starla.
Sementara itu Langit sudah di bawa ke ruangan IGD untuk segera di lakukan tindakan. Starla hanya bisa menangis sambil menundukkan wajahnya, "Aku minta maaf tante."
"Maaf, kalau sampai anak saya kenapa-napa saya tidak akan pernah memaafkan kamu. Kamu udah buat anak saya kecapean dan masih banyak hal lagi yang membuat anak saya kambuh."
Starla sedikit bingung di sini, karena sejujurnya Starla tidak tau penyakit Langit.
"Memangnya Langit sakit apa?"
"Pacar macam apa kamu? Bahkan penyakitnya Langit saja kamu tidak tau?"
__ADS_1
"Ma udah Ma jangan ribut di rumah sakit ini tempat umum," ayahnya Langit menengahi keributan keduanya.