
"Aku boleh naek gak?" tanya Starla.
"Naik aja," Langit agak ke pinggir, Starla naik ke kasur Langit dan tiduran bersama Langit.
Starla tidak melepaskan pelukannya kepada Langit, Starla benar-benar sangat takut kehilangan Langit saat ini, "Aku ngantuk, tadi di luar aku lagi tidur eh di bangunin ibu kamu."
Langit tersenyum kecil lagi, ia menatap Starla lalu membereskan rambut Starla yang menghalangi wajah Starla, "Kamu gak genit ke cowok lain kan pas gak ada aku?"
"Tadinya sih mau, cuman gak jadi."
"Kenapa gak jadi?"
"Soalnya di hatiku cuman ada kamu."
"Bisa aja pacarku ini."
Starla membulatkan matanya sambil menatap Langit, Starla mengecek kening Langit menggunakan tangannya, "Langit kamu gak abis kepentok kan?" tanyanya.
"Enggak, kenapa emang?"
"Enggak biasa aja kamu kek tadi, biasanya kan kamu irit ngomong buat bilang sayang aku aja kamu harus aku paksa dulu, ih jadi ngeri."
Langit tersenyum tipis lagi, ia memeluk Starla dengan erat tanpa menjawab ucapan Starla, "Gak lah aku gak kepentok."
"Tapi jadi takut, atau jangan-jangan ini bukan Langit yang aku kenal yah?"
"Emangnya Langit yang kamu kenal kayak gimana?"
"Dih mau tau aja kamu."
"Yah kenapa emangnya kalau mau tau?"
"Gak papah sih, nih yah Langit yang aku kenal tuh orangnya Ganteng cuman agak irit ngomong doang. Langit yang aku kenal juga gak pernah senyum-senyum kayak barusan, terus Langit yang aku kenal juga galak."
Langit memukul kening Starla pelan, "Sejak kapan aku jahat sama kamu?"
"Nah-nah, ini baru Langit yang ku kenal. Tapi ngomong-ngomong sakit loh," Starla memegang keningnya sendiri.
"Biarin, biar otaknya gak gesrek."
Starla tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di tubuh Langit ia sangat rindu dengan pria ini setelah mati, Langit mengelus kepala Starla dengan penuh perasaan.
__ADS_1
Di luar orang tua Langit dan Fiona melihat hal itu dari jendela kaca, mereka terlihat senang karena Langit akhirnya bisa tersenyum. Ayahnya Langit juga senang karena akhirnya Starla di izinkan masuk.
Beberapa saat kemudian Kedua orang tua Langit masuk, Starla sudah bersiap-siap untuk pulang takutnya ibunya Langit akan mengusirnya lagi.
"Makasih tante udah mau izinin aku lihat Langit lagi."
"Kau pulang saja dulu sana, besok kau kemari lagi jika mau. Kalau kau pulang nanti takut kemalaman enggak ada yang akan anterin kamu pulang takutnya kenapa-napa."
"Baik tante," Starla pamitan dan pergi dari rumah sakit, hari semakin sore.
Starla menaiki angkutan umum untuk pulang ke rumahnya, selama perjalanan Starla menatap ke langit senja yang begitu indah, Starla tersenyum kecil, "Tetaplah indah seperti ini," ucapnya dalam hati.
Sesampainya di rumah Starla langsung memeluk ayahnya yang berada di ruang makan, "Pa, aku udah ketemu Langit tadi."
"Akhirnya perjuangan kamu gak sia-sia."
"Ini juga berkat doa sama dorongan dari Papa, hampir aja aku nyerah."
"Sekarang kamu makan dulu, Papa tadi beli makanan pas pulang kerja."
"Oke Pa."
Beberapa saat kemudian Starla sudah duduk di kursi meja belajar di kamarnya, ia menatap jendela kaca di depan melihat bintang-bintang yang bertebaran di langit.
"Langit, dia pria setenang Senja yang begitu ku cintai. Namanya seindah langit yang asli, Tuhan jaga dia untukku jangan biarkan dia pergi tanpa aku, aku tidak tau bagaimana hidupku tanpa dia."
Starla menutup bukunya, ia tidak mampu merangkai kata-kata indah tentang Langit karena rasa sedihnya mendadak muncul. Ia tidak tau harus bagaimana untuk menyembuhkan Langit, apalagi mengingat Leukimia Langit sudah masuk ke tahap terakhir.
"Tuhan jika bisa pindahkan saja penyakitnya padaku," sambil menangis Starla bicara.
Starla menundukkan kepalanya ke atas meja masih menangis, tidak terasa hari sudah pagi. Starla bangun sambil merentangkan tangannya karena pegal tidur semalaman sambil duduk, Starla menatap arloji di tangannya, "Sialan terlambat," Starla menyeret kakinya ke kamar mandi.
Starla mandi dengan buru-buru, ia juga bersiap-siap dan berangkat sekolah tanpa sarapan karena sudah terlalu terlambat. Untungnya Erik masih belum berangkat jadi Starla pergi bersama Erik, kalau menunggu angkot Starla akan kesiangan.
"Kondisi Langit gimana?" tanya Erik di dalam mobil.
"Yah begitulah," Starla menghela nafasnya dengan berat.
"Kita juga ada rencana buat jenguk Langit, tapi masih belum tau kapan."
"Mending jangan sekarang-sekarang deh, kondisinya masih gak stabil. Nanti aja kalau Langit udah pulang."
__ADS_1
"Oke nanti kabarin yah kalau udah pulang. Tapi kalau aku sendiri gak papah kan sekarang juga?"
"Gak papah kalau cuman sendiri mah, kalau ngajak yang lain takutnya ibunya Langit juga larang kalian liat Langit."
"Oke, nanti pulang sekolah mau ke rumah sakit lagi? Kalau mau kita barengan aja."
"Boleh."
Di rumah sakit Langit hari ini sudah mulai di izinkan pulang dengan syarat rawat jalan, Langit setuju. Saat ini Langit sedang makan bubur di suapi ibunya, "Nanti minum obat yah."
"Iyah."
Kembali ke sekolah seperti hari-hari sebelumnya Starla terlihat murung dan diam saja di kelas, "Ke kantin yuk," ajak Livi.
"Gak, kalian ke kantin duluan aja."
Hari ini tidak ada guru yang masuk jadi para murid berkeliaran di luar kelas.
"Masih gak di izinin masuk sama ibunya?" tanya Livi kasihan.
"Enggak kok, kemarin ibunya Langit izinin aku buat liat Langit."
Livi tersenyum, "Bagus dong kalau gitu, gimana kalau nanti kita ke sana bareng buat liat Langit?"
"Yah emang bagus, cuman gue kasian aja sama Langit. Dia kena leukimia stadium terakhir."
"Apa? Udah separah itu?"
"Iya, makannya gue pen marah banget sekarang. Kenapa gak gue aja sih yang sakit, kasian tau Langit."
Livi memeluk Starla, "Yang sabar yah, kita do'ain aja Langit sembuh. Kekuatan doa tuh hebat banget tau."
"Gus udah capek banget berdoa, Tuhan gak pernah mau dengerin doa gue."
"Hey jangan gitu."
Starla melepaskan pelukan Livi, "Coba kasih tau gue, doa gue yang mana yang tuhan kabulin? Gue minta ibu gue gak pergi dia tetep pergi, gue minta apapun sama Tuhan pasti Tuhan gak pernah mau kasih itu."
Livi terdiam, ia tidak tau harus bicara apa lagi sama Starla. Dunia memang sejahat itu sama Starla.
"Dosa apa sih yang gue lakuin di masa lalu sampai gue harus nerima sakit yang luar biasa akhir-akhir ini?"
__ADS_1
"Apa masih belum puas yah Tuhan sama gue? Apa masalah gue kurang?" Starla ngoceh gak jelas sambil nangis-nangis.