Langit Ku

Langit Ku
Part 6


__ADS_3

Hari di mana mereka akan melakukan perkemahan telah tiba, semua siswa dan siswi yang hendak ikut kini sedang menunggu bis jemputan mereka di depan gerbang sekolah.


Starla dan Livi bergandengan, mereka berdua sudah bosan menunggu bis yang tidak kunjung datang padahal mereka sudah menunggu bis dari tadi.


"Ini kemana sih kok lama banget," kesal Starla.


Langit datang ke samping Starla bersama Fiona di belakangnya, Livi menatap sinis pada Langit dan Fiona yang sejak tadi berduaan terus. Sementara Starla biasa saja melihat mereka bersama ia percaya pada Langit.


"Darimana aja sih?" Starla bergelayut manja di tangan Langit.


"Abis dari belakang dulu bentar," balas Langit dingin.


"Oh gitu? Nanti duduk di samping aku yah."


"Apaan sih, ibunya Langit minta gue buat jagain Langit, berarti Langit harus duduk di samping gue nanti," timpa Fiona dengan sinis menatap Starla.


Starla menatap Langit, "Kamu kek bayi aja harus di jagain babysitter segala," ledek nya.


Livi dan Angga tertawa kecil, sementara Fiona malah kesal merasa dirinya di permalukan.


"Ya udah, kalau ayang mau duduk sama babysitter ayang gak papah kok," Starla memukul dada bindang milik Langit perlahan beberapa kali.


Langit tidak bicara apapun, akhirnya bis mereka datang semua murid langsung masuk ke dalam bis tersebut. Ada dua bis yang datang menjemput mereka, Angga duduk bersama Livi, Langit duduk dengan Fiona karena Fiona terus memaksa Langit untuk duduk di sebelahnya.


Starla berdiri di dalam bis mencari tempat kosong sampai Erik melambaikan tangan dan meminta Starla duduk bersamanya saja, Starla tersenyum dan berlari ke arah Erik namun tangannya di tarik oleh Langit.


"Awas lu Fiona," Langit menatap dingin pada Fiona.


"Enggak mau, pokoknya aku harus duduk sama kamu," kekeh nya sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Gak papah duduk aja," Starla meminta Langit kembali duduk di kursinya.


"Aku sama Erik aja kebetulan di sana kosong kan," tambahnya.


Langit menatap Erik dengan tatapan dingin lalu membawa Starla keluar dari bis, "Langit mau kemana? Kok keluar sih?" teriak Starla yang di tarik Langit.


"Wow, si bos kalau cemburu serem juga yah," timpa Daniel temannya Langit yang duduk di belakang kursi Fiona.


"Langit mau kemana kok keluar?" teriak Fiona kesal.


"Iya, serem tatapannya ngalahin elang sangking tajamnya," setuju Nana yang juga merupakan temannya Langit.

__ADS_1


"Langit....... Kok keluar sih?" teriak Starla.


Langit tidak bicara apapun ia terus saja menarik Starla, setelah di luar bis ia meminta izin pada guru untuk naik motor saja menuju tempat perkemahan. Setelah mendapatkan persetujuan Langit pun pergi ke arah motornya lalu mengajak Starla naik motor saja.


Starla tidak mau naik motor Langit, "Langit nanti capek kalau kita naik motor, aku gak mau kamu kecapean."


"Naik aja apa susahnya sih?"


"Enggak mau, kamu nanti capek. Perjalanan ke Bogor jauh tau."


"Starla naik," bentak Langit yang sudah kesal.


"Apaan sih kamu yank, aku bilang gak mau ya enggak mau. Nanti kamu kecapean pegel terus-"


"Terus apa?"


Starla terdiam ia tidak tau harus bicara apa lagi sekarang. Sampai akhirnya tiba-tiba ada seorang guru wanita yang menghampiri mereka, "Starla benar Langit, nanti kamu kecapean kalau bawa motor ke Bogor. Bagaimana kalau kamu bawa mobil ibu saja."


Starla tersenyum, "Boleh tuh bu."


"Baik ini kunci mobilnya," guru itu langsung memberikan kunci mobilnya lalu pergi dari mereka.


"Kamu cemburu yah," ledek Starla tiba-tiba sambil menunjuk Langit dan tersenyum meledek.


"Gak, ngapain juga cemburu sama cowok kek dia gak level."


"Masa sih?" Starla menyenderkan kepalanya ke lengan Langit.


"Eh beli jajanan dulu yuk di sana," Starla menunjuk abang-abang yang berjualan telor gulung di pinggir jalan.


Langit menghentikan mobilnya dan mereka berdua pun turun untuk jajan beberapa makanan dan minuman, selesai jajan mereka melanjutkan perjalanan ke Bogor.


Starla menyuapi Langit karena Langit sedikit susah untuk makan sendiri, Langit kan sedang menyetir.


"Mau gantian? Takutnya kamu pegel nyetir dari tadi," tanya Starla.


"Gak."


"Kenapa? Aku juga bisa nyetir kok."


"Nanti nabrak gerobak bakso kek waktu itu gimana? Ini mobil orang Starla."

__ADS_1


"Ya kan waktu itu gara-gara kamu juga aku jadi nabrak tukang bakso, sekarang enggak kok."


"Enggak, gak boleh pokoknya."


"Ih orang niat aku baik."


"Iya baik menurut kamu, inget yah apa yang baik buat kamu bukan berarti baik juga menurut orang lain."


"Dih sok bijak yah kamu sekarang."


Beberapa menit kemudian Starla tertidur di mobil, Langit menatap Starla sekilas lalu tersenyum ia begitu mencintai wanita ini tanpa alasan yang jelas. Ia juga tidak tau bagaimana hatinya memilih Starla untuk di cintai, yang jelas kini di hatinya hanya akan ada Starla dan tetap Starla sampai kapan pun.


Wanita itu begitu sederhana, dan karena kesederhanaan itulah yang membuatnya istimewa di mata Langit. Starla yang selalu jadi dirinya sendiri tanpa gengsi sedikit pun.


Mereka berdua pun kini sampai di tempat perkemahan, Starla yang masih tertidur di bangunkan Langit, "Bangun udah sampai."


Starla membuka matanya sambil menguap, "Ah udah sampai aja, padahal masih ngantuk banget nih mata."


Mereka turun dari mobil, Langit memberikan kunci mobil pada bu Dewi setelah itu ia kembali bersama yang lain berbaris di depan sebuah panggung kecil yang sudah di sediakan di sana oleh panitia.


"Oke anak-anak sebelum acara perkemahan kita di buka, saya ingin membagi kalian dalam beberapa kelompok," jelas pak Dodi di depan panggung menggunakan pengeras suara agar semua muridnya dapat mendengar ucapannya dengan jelas.


"Baik pak," jawab mereka semua serentak.


"Kelompok pertama ada, Ririn, Dara, Dafa dan Arya kelompok kedua ada Caca, Dini, Charlie dan Indah, kelompok ketiga Fiona, Starla, Langit dan Angga," pak Dodi melanjutkan pembagian kelompok.


"Yeh kita satu kelompok," teriak Starla sambil menggenggam tangan Langit.


Langit terlihat cuek padahal ia juga senang dapat satu kelompok dengan kekasihnya itu, Fiona senang satu kelompok dengan Langit namun ia juga kesal mengapa harus ada Starla di dalamnya.


"Oke untuk tidur kalian bebas satu tenda dengan siapapun, tidak usah satu kelompok," jelas pak Dodi lagi.


"Pak kalau sama ayang gimana?" tanya Dini sambil tersenyum.


"Boleh, terus nanti saya nikahin langsung di sini," balas pak Dodi yang membuat semua orang di sana tertawa.


"Yan jangan gitu juga dong pak, tapi kalau abis nikah masih bisa sekolah sih gak papah pak."


"Enak aja, sudah pokoknya cewek satu tenda dengan cewek begitupun dengan cowok satu tenda dengan cowok lagi."


"Iya pak."

__ADS_1


__ADS_2