
Fiona sudah duduk bersama Starla saling berhadapan, Fiona menundukkan kepalanya tidak berani menatap Starla, "Gue mau minta maaf atas semua yang gue lakuin sama lu."
"Minta maaf? Untuk apa?"
"Gue minta maaf atas foto lu yang tidur dengan cowok, gue yang minta dia lakuin itu sama lu. Tapi gue cuman pengen dia foto doang gue gak sampe minta dia buat lecehin lu."
Starla terlihat diam saja seakan tau kalau itu adalah perbuatan Fiona, Starla hanya tersenyum sedikit.
"Gue beneran nyesel karena udah lakuin itu sama lu, gue gak tau kalau kejadiannya bakal jadi kayak gini. Gue cuman pengen Langit jadi milik gue, tapi sayangnya apapun yang gue lakukan tetep gak berarti di mata Langit."
Starla menggenggam tangan Fiona, Fiona menatap Starla, "Gue udah maafin lu kok, gue dah tau sebenernya kalau itu kerjaan lu."
Fiona terlihat kaget, "Gimana caranya lu tau?"
"Gue sempet denger obrolan lu sama Arhan, awalnya gue juga mau marah sampai akhirnya gue mikir percuma juga gue marah, karena kemarahan gue gak bakalan balikin semuanya dan hanya akan membuat semuanya kacau."
Fiona tersenyum, "Gak salah Langit sesayang itu sama lu, ternyata ini yang buat dia kek gitu, sekali lagi gue minta maaf yah."
"Sini," Starla merentangkan tangannya untuk berpelukan.
Mereka pun berpelukan, beberapa menit kemudian mereka berdua pulang ke rumahnya masing-masing. Starla tiduran di kasur menatap kosong ke arah langit-langit kamar, hari ini begitu lelah untuknya termasuk untuk hatinya.
Beberapa berlalu begitu cepat, Starla sepulang sekolah selalu mengunjungi Langit untuk merawat dan menemani Langit. Sayangnya kondisi Langit benar-benar tidak ada perubahan, Starla kadang selalu menangis membayangkan nasib Langit yang lebih menyedihkan daripadanya.
Kini mereka sedang berjalan-jalan di taman, Starla duduk di kursi taman berada di samping kursi roda Langit. Langit memetik bunga mawar putih tadi, kini ia membereskan rambut Starla lalu memasang bunga itu di samping telinga Starla.
"Tuh kan cantik," ucap Langit tersenyum manis.
"Selama kita pacaran kamu baru kali ini loh bilang aku cantik," ucap Starla malu-malu.
"Masa?"
"Yeh beneran tau."
__ADS_1
"Enggak deh, kayaknya ini yang kedua kalau gak salah."
Starla cemberut, "Ya ampun kayaknya sekarang aku harus bikin perayaan deh."
"Perayaan apa?"
"Perayaan kalau pacarku akhirnya bilang aku cantik setelah sekian lama, kamu kalau sakit ternyata jadi lebih romantis yah."
"Oh kamu mau aku sakit terus gitu?"
"Tapi asal kamu tau yah, aku tuh lebih suka kamu kayak biasanya tau. Cuek-cuek nyebelin."
"Ya udah aku kayak biasa lagi."
"Enggak, aku gak mau, udah sekarang gini aja," Starla menyenderkan kepalanya lalu tersenyum ke arah Langit.
Langit mengelus rambut Starla, "Kamu mau tau apa alasan aku gak bilang aku sakit?"
"Karena kamu gak nanya."
Starla menjauh dari Langit lalu memukul lengan Langit, "Ih nyebelin."
"Emang bener kayak gitu kok, emang kamu pernah nanya? Enggak kan."
"Yah tapikan maksudnya kamu seenggaknya, ah tau ah pusing mikirin nya."
"Maaf yah kalau aku gak bisa nepatin janji aku ke kamu," ujar Langit sambil tersenyum memandangi Starla dengan hangat.
"Janji apa?" Starla ikut memandangi Langit dengan tatapan sendu.
"Janji untuk memenin kamu untuk selamanya."
"Maksud kamu?" Starla pura-pura bodoh ia berharap apa yang ada di pikirannya tidak akan sama dengan apa yang akan Langit katakan.
__ADS_1
"Starla aku capek, aku udah gak kuat dengan semua rasa sakit di tubuhku."
Starla menggelengkan kepalanya sambil menangis, "Tidak, aku yakin kamu kuat Langit aku gak masih belum sanggup kehilangan kamu jangan Langit."
Starla mencoba menenangkan dirinya agar tetap bisa bicara pada Langit, pasalnya ia akan sangat sulit untuk bicara jika sedang panik. Langit menggenggam kedua tangan Starla.
"Langit aku gak bisa, aku tau kamu pasti kuat dan bisa lewatin semua ini."
Langit menggelengkan kepalanya lalu tersenyum, "Ini sudah batas ku Starla, aku tidak akan benar-benar pergi darimu. Hanya ragaku saja yang akan pergi, jiwaku masih akan selalu bersamamu."
Starla kini menundukkan kepalanya, air matanya mengalir begitu deras. Ia benar-benar sudah tidak bisa bicara sama sekali sekarang, rahangnya terkunci.
"Jika kau rindu padaku, tatap saja langit di atas sana. Aku ada bersama tumpukan awan yang akan selalu menjagamu."
Starla masih terdiam.
"Tatap aku Starla!"
Starla mencoba mengangkat dagunya lalu menatap Langit dengan perlahan, "Tolong jaga dirimu baik-baik yah di sini," ucap Langit dengan nada suara yang sudah hampir melemah.
"Mengapa? Mengapa harus sekarang?"
"Starla, kamu adalah wanita satu-satunya yang menjadi cinta pertama dan terakhirku. Terimakasih untuk beberapa bulan terakhirnya yang indah itu."
Starla mengangguk sambil terus menangis.
"Aku mengantuk," Langit menarik Starla ke dalam pelukannya.
Starla semakin menangis dengan keras, Langit menutup matanya perlahan-lahan. Tanpa di sangka langit yang awalnya cerah berubah jadi mendung dan hujan seakan ikut bersedih akan kepergian Langit.
Hembusan dan tarikan nafas Langit semakin melambat dan perlahan-lahan hilang, Starla menangis begitu kencang membuat beberapa orang di sekitaran mereka memandanginya. Starla memeluk Langit dengan erat berharap semuanya hanya mimpi dan semua ini benar-benar tidak nyata, namun ini memanglah kenyataannya.
Langit sudah pergi meninggalkan Starla.
__ADS_1