Langit Ku

Langit Ku
Part 16


__ADS_3

"Iya barusan gue liat dia di bawa ke ruangan IGD, pas di tungguin ternyata dia udah meninggal," jelas Livi.


"Kok bisa?" tanya Langit.


"Dia kecelakaan, rem mobilnya blong terus dia nabrak mobil truk," jelas Livi kembali.


Langit mengerutkan wajahnya, "Emang ada apa sama Arhan? Kok kamu keliatan kaget banget denger kabar kecelakaan Arhan?" Starla menatap Langit.


"Udahlah gak usah di pikirin," Langit mulai sakit kepala memikirkan hal itu.


________


Pagi ini Langit masih bersama Starla di rumah sakit, padahal sedari semalam pria itu belum juga pulang. Livi dan Angga pulang duluan di paksa Starla, gadis itu tidak mau merepotkan kedua temannya karena mereka juga pasti capek.


"Langit kamu pulang aja," ucap Starla memandangi wajah Langit.


"Gak."


"Aku bisa sendirian kok."


"Gak."


"Nanti ibumu nyariin kamu."


"Aku bilang enggak yah enggak, ngerti gak sih?" Langit sedikit meninggikan nada suaranya.


Starla menutup mulutnya rapat-rapat sambil cemberut.


"Maaf, abisnya kamu maksa banget."


"Yah niat aku baik, aku gak mau ngerepotin kamu."


"Gak ada yang ngerasa direpotin."


"Ya udah, makasih udah mau nemenin aku."


"Kamu kan kayak gini gara-gara aku, jadi aku harus tanggung jawab."


_________


Beberapa hari kemudian kondisi Starla mulai membaik dan sudah di perbolehkan pulang, semua biaya rumah sakit di bayar Langit. Langit juga sudah tidak pulang ke rumahnya karena benar-benar tidak mau meninggalkan Starla.


Kini mereka berada di mobil dalam perjalanan pulang, "Langit kamu kok pucet sih?" tanya Starla sembari memperhatikan wajah Langit.


"Gak papah."


"Pasti karena kecapean ngurusin aku yah? Maaf yah."


"Apaan sih? Gak usah minta maaf."


"Nanti kamu langsung pulang yah dan jangan ke mana-mana lagi, istirahat di rumah."

__ADS_1


"Iya."


Sampailah mereka di rumah Starla, Starla tidak mau di temani di rumahnya karena ia khawatir dengan Langit yang wajahnya saat ini terlihat pucat. Ia tidak mau merepotkan nya lagi dan meminta Langit pulang saja istirahat di rumah.


Langit menuruti permintaan gadis itu, ia kembali naik ke taksi dan meminta supir taksi membawanya pulang, di mobil Langit merasa kepalanya sangat pusing di tambah hidungnya mengeluarkan darah.


"Mas, apa perlu kita ke rumah sakit lagi?" tanya si supir karena ia khawatir melihat Langit.


"Bawa saya pulang aja."


"Baik Mas."


Saat di rumah Langit langsung di amuk ibunya karena sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah, Langit juga mematikan ponselnya agar tidak ada yang menganggu nya ketika di rumah sakit.


Langit tambah pusing dan hampir terjatuh karena badannya tiba-tiba lemas, untungnya ayahnya Langit datang dan menahan tubuh anaknya.


"Sudah Ma, gak liat anaknya kambuh," bentak ayahnya Langit.


"Makannya jangan sama Starla terus."


Ayahnya langsung membawa Langit ke kamar ia menidurkan Langit sambil membersihkan darah yang keluar dari hidung Langit, "Udah makan?" tanya ayahnya.


"Udah."


"Minum obat?"


"Belum."


"Ya udah Papa ambilkan air putih untuk kamu, minum obat sekarang."


"Mau cerita kenapa gak pulang?" tanya ayahnya.


"Sorry, aku harus temenin Starla di rumah sakit."


"Starla sakit?"


"Dia ke tembak buat nyelamatin aku, ayahnya Starla gak ada jadi aku harus jagain dia."


"Oke, nanti biar Papa yang jelasin semuanya sama Mama kamu. Tapi lain kali jangan sampai lupa minum obat lagi, kamu gak mau kan ninggalin Starla?"


Langit menganggukkan kepalanya, ayahnya keluar dari kamar Langit membiarkan anaknya itu untuk istirahat. Langit memejamkan matanya lalu tertidur untuk sedikit membuat tubuhnya tidak lemas lagi.


Di tempat lain Starla sedang masak ia sangat rindu mie instan, selama beberapa hari ini ia hanya makan-makanan rumah sakit dan itu membuatnya bosan. Masakan rumah sakit terasa hambar di mulutnya.


Selesai masak ia makan mie tersebut di ruang tengah sambil nonton televisi, tak lama setelah itu bel rumahnya berbunyi saat di lihat ternyata itu adalah Livi dan Angga yang menjenguk dirinya.


"Kalian pulang sekolah langsung ke sini?" tanya Starla.


"Iyalah, kita kangen," balas Livi yang langsung memeluk Starla.


"Sakit lepasin," Starla memukul tangan Livi.

__ADS_1


"Oh iya maaf lupa," Livi cengengesan sembari melepaskan pelukannya.


"Besok gue juga mau sekolah," ujar Starla.


"Beneran? Kan lu masih sakit masa mau sekolah aja."


"Gue udah mendingan kok."


"Bener?"


"Iya."


Mereka mengobrol sampai sore, Angga dan Livi pun pamit pulang takutnya keburu malam.


"Dah, Hati-hati yah."


Starla masuk ke rumahnya lagi sambil mengunci pintu takut ada orang asing masuk rumahnya, ia mengambil buah-buahan yang di berikan Angga juga Livi, ia memasukkan semua buah-buahan itu ke kulkasnya.


Sementara itu Langit kini sudah bangun dari tidurnya, ia pergi ke lantai bawah untuk makan malam.


"Udah mendingan?" tanya ayahnya saat melihat Langit berjalan ke meja makan.


"Langit, Mama gak suka yah kalau kamu sampai segitunya sama Starla. Kesehatan kamu juga penting Langit," bentak ibunya.


"Ma udah ih," ayahnya Langit memegang tangannya.


"Ma, kalau bukan karena Starla mungkin aku udah mati malam itu, jadi wajah dong aku rawat Starla sampai dia pulang ke rumah," Langit membela diri.


"Tapi kamu kayak gitu karena Starla juga kan? Kamu gak mungkin di tembak orang kalau gak karena bela Starla."


"Udah ah bikin tambah pusing aja," Langit meninggalkan mereka dan kembali ke kamarnya.


"Ma, bisa gak usah marahin anak pas lagi mau makan. Biarin dia makan dulu kalau emang mau marah, bikin gak nafsu makan aja sih kasian tau anak kamu. Nanti yang ada Langit malah tambah sakit karena ucapan Mama," bentak ayahnya Langit.


"Oh jadi Papa mau belain Starla gitu?"


"Kalau itu bisa buat Langit bahagia kenapa enggak?"


"Kok Papa gitu sih? Bukannya Starla yang bikin anak kita sering kena masalah."


"Kamu di kasih apa sih sam Fiona sampai otak kamu tuh kotor banget."


"Kenapa jadi bawa-bawa Fiona?"


"Mama gak sadar kalau setelah dekat dengan Starla, Langit jadi jarang kambuh? Langit juga jadi mau minum obat secara teratur? Langit lebih bisa senyum bebas pas udah sama Starla."


"Ah Papa sama saja."


Mamanya Langit ikut pergi dari meja makan begitupun dengan ayahnya Langit, pria itu pergi ke kamar Langit untuk bicara.


"Langit Papa masuk yah."

__ADS_1


"Masuk aja."


Ayahnya Langit mengajak anaknya makan di restoran saja sembari ngobrol santai tanpa di ganggu ibunya Langit, Langit pun setuju dan mereka pun pergi berdua ke restorasi terdekat dari rumahnya.


__ADS_2